Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 34 Kebenaran


__ADS_3

"Jika komite sekolah tak bisa menghukum secara fisik pelaku perundungan karena takut dengan peraturan negara yang menaungi anak-anak. Lalu kapan para pelaku akan sadar dengan perbuatan mereka yang sudah sangat menyimpang? Tak ada peraturan yang melanggar bullying kan? Itu sebabnya para pelaku takkan jera. Jika bapak telisik lebih dalam. Banyak sekali korban bullying di lingkungan sekolah kita yang hanya memilih diam karena mereka selalu di ancam pelaku dan tahu tidak akan ada yang peduli jika mereka menyuarakan fakta mengenai penindasan yang di alami para korban. Pada akhirnya korban merasa tertekan. Beberapa di antaranya bahkan memilih untuk meninggalkan dunia ini" terang Rumi panjang lebar. Seakan pernah mengalaminya juga.


Aiden dan ketua komite keamanan sekolah mendengar dengan seksama setiap penggalangan kata yang terucap dari Rumi. Tak menyangka bahwa anak yang sering dicap nakal di kalangan para guru memiliki pemikiran yang mengalahkan orang dewasa.


Seakan mendapatkan pencerahan. Ketua komite itu mengambil bucket ayam yang di letakkan Aiden di atas meja dan memberikannya pada Rumi.


Sambil mengelus-elus kepala perempuan itu seraya tersenyum hangat "Kerja bagus nak Rumi"


Alisnya mengerut melihat perubahan yang signifikan (Apasih) kesal karena rambutnya jadi berantakan.


***

__ADS_1


Rumi membuka pintu dengan hadiah bucket ayamnya. Saat tubuhnya berasa di ambang pintu. Matanya melesat. Kaget dengan murid-murid yang ternyata belum bubar dan masih berkumpul di depan ruangan komite keamanan.


Melihat Rumi yang sudah keluar. Mereka menghampirinya dengan tergopoh-gopoh lalu menghujani Rumi dengan banyak pertanyaan. Mereka menanyakan keadaan Rumi sehabis bertarung di rooftop tadi.


"Aku baik-baik saja" ucapnya agak malas.


Salah seorang murid perempuan di sana tiba-tiba menangis terisak-isak "Makasih Rumi, karena kau. Aku akhirnya bebas dari Cyara. Aku selalu di buat menderita karenanya. Makasih ya".


"Iya kau benar. Dia sangat jahat, aku selalu di ancam olehnya. Karena Rumi, kita akhirnya dapat menjalani kehidupan yang tenang di sekolah"


Mereka membuka jalan. Dan Rumi pergi kembali ke asrama. Malas melanjutkan pelajaran sekolah. Di pikirannya, semua masalah telah berakhir. Tapi ia salah. Ini semua barulah permulaan

__ADS_1


Semenjak kejadian Rumi itu. Satu persatu kenyataan yang selama ini di tutup-tutupi mulai muncul ke permukaan. Tidak hanya Elina. Ternyata masih ada banyak lagi korban perundungan dari Cyara.


Lalu Cyara dan teman-temannya di keluarkan dari sekolah secara tidak terhormat. Dan karena posisi yang kosong. Beberapa murid baru mengisi kekosongan itu. Jangan melupakan fakta bahwa sekolah ini adalah sekolah incaran banyak murid.


Dan Rumi di apresiasi atas tindakan beraninya itu. Tapi ia tetap di peringati oleh Aiden agar tak sembarang menggunakan kekerasan di lingkungan sekolah.


"Banyak juga yah murid baru" ujar Elina yang duduk di samping Rumi.


"Hm" ia melirik Elina dari sudut matanya. Syukurlah keadaan Elina sudah kelihatan ceria sekarang. Saat di rumah sakit. Bawaannya selalu sedih.


"Kalau boleh tahu, gimana ya kabar Cyara semenjak seminggu pindah?"

__ADS_1


Rumi menatap sinis Elina. Jengkel karena membahas Cyara "Kau gak usah khawatirin orang kek gitu. Lagipula dia yang membuat banyak luka di tubuhmu"


Elina tersenyum tipis "Aku tahu, aku gak khawatirkan mereka. Cuman penasaran aja"


__ADS_2