
(Ah, dia pasti akan bersujud di kakiku agar kembali menjadi temannya. Memikirkannya saja sudah membuatku semakin senang. Berpikir akulah teman pertamanya) batin Venya dengan seringai.
"Kau selalu bicara seakan-akan aku ini tak bisa hidup tanpamu. Pede banget, siapa bilang aku tak punya teman? Aku punya Rumi" jawab Elina
Venya membuka lebar matanya. Kali ini sungguh di buat tercengang dengan perkataan Elina "Apa? Jangan membuatku tertawa. Orang seperti mu punya teman? Ku tebak, orang yang namanya kau sebut tadi pasti seperti anjing layaknya dirimu kan. Kau kan sepantasnya berteman dengan sesamamu. Sesama anjing hahahah..." Ia tertawa seakan-akan seseorang yang mendengar hinaannya akan tertawa terbahak-bahak seperti dirinya juga.
"Jangan hina Rumi! Dia itu orang baik, sangat baik. Kau tidak pantas mengatakannya dengan mulut mu yang kotor itu!"
Senyuman di mulutnya pun pudar "Baiklah, ini tak lucu" Urat-urat lehernya menegang "Kau sebut aku kotor, memangnya se-malaikat apa Rumi itu? Sampai kau berani mengatakan ku kotor?" Nadanya mulai serius dengan wajah datar. Tersinggung atas ucapan Elina.
"I-itu, itu kenyataannya. Rumi seratus kali lebih baik darimu. Dia selalu melindungi dan memberikan ku perhatian, dia tak pernah mengancam ataupun memperlakukan ku seperti budak. Dia jauh lebih baik dari pembully seperti dirim-"
Plak..
__ADS_1
Langkah elina menjadi gontai kala sebuah tamparan keras mendarat di permukaan pipinya dengan keras. Membuat buku-buku di dalam kantong jatuh di atas permukaan lantai. Hal itu akhirnya berhasil menarik perhatian orang yang ada di pelataran Mall.
Elina memegang pipinya yang terasa sakit (Apa dia tak waras sudah menamparku terang-terangan di depan publik?)
"Menjijikkan, berhentilah membicarakan soal Rumi Rumi itu. Aku sudah muak" ucap Venya dengan marah. Emosi karena terus di bandingkan oleh perempuan bernama Rumi yang bahkan ia tak kenal.
Elina mundur beberapa langkah. Menjaga jarak jika Venya tiba-tiba akan menyakitinya lagi. Beberapa tetes darah sudah menodai kaos putihnya akibat luka di bahunya. Di tambah tamparan yang membuat pipinya memerah. Penampilan ini tentunya berhasil menarik perhatian orang-orang yang sedari tadi sibuk dengan aktivitas mereka.
"Eh, kenapa tuh..."
"Entah, tapi cewek kepang itu kayaknya habis di tampar sama perempuan di depannya. Bajunya juga sudah berdarah"
"Kita Vidioin yuk, siapa tahu viral. Kita bisa terkenal"
__ADS_1
"Ide bagus"
Itulah percakapan beberapa orang di sana. Puluhan manusia mengerumuni mereka berdua dengan sebuah handphone di tangannya yang di arahkan ke Elina. Mengambil vidio tanpa seizinnya.
"Kenapa mereka malah vidio? Mereka gak liat kondisi ku?" Gumam Elina. Menghalangi matanya yang terkena paparan cahaya lampu dari belasan handphone di depannya. Tak ada satupun orang yang membantu Elina saat itu, hanya sibuk mengambil foto dan vidio sebanyak-banyaknya demi memperoleh ketenaran yang di dapatkan dari penderitaan seseorang.
"Mampus, viral kau" bengis Venya.
Kebingungannya di tengah keadaan itu. Menyebabkan pikiran Elina menjadi kosong. Telinganya mendadak berdenging, membuatnya tak bisa mendengar dengan jelas makian Venya yang tertuju pada dirinya sejak tadi. Matanya perlahan-lahan menjadi buram di penuhi warna hitam. Hanya bisa melihat dengan samar kilatan cahaya dari handphone dan Venya yang sedang marah-marah sembari menunjuk-nunjuknya.
Elina mundur perlahan-lahan, tapi mereka malah semakin mendekat. Sampai akhirnya ia tersandung buku-buku novelnya yang tadi terjatuh di pelataran Mall. Membuat kakinya terkilir. Melihat Elina yang sudah tidak berdaya seperti itu pun, tak membuat orang-orang di sana berhenti mengambil vidio.
"Jangan vidio.." gumamnya dengan putus asa, Elina menutup wajahnya. Ia merasakan kalau kepalanya menjadi sangat sakit. Memperparah kondisinya kini. Di samping itu. Venya menyeringai melihat ketidakmampuan Elina di tengah situasi itu.
__ADS_1
Ia terduduk di lantai, merundukkan kepalanya yang tambah sakit (Tolong, siapapun tolong...) gumam Elina di dalam hatinya. Berharap ada seseorang berhati mulia yang akan membantunya.