
Rumi membuka pintu toilet dengan penuh perasaan bimbang, baru saja setengah pintu itu di buka, bau darah menyengat menusuk hidung. Sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduk siapa saja berdiri saking ngeri nya. Bau anyir darah menetes di setiap bagian-bagian tubuh, muka yang penuh lebam, luka-luka sayatan di setiap permukaan kulit, baju putih yang sudah berubah menjadi warna darah. Seorang perempuan tergolek lemas akibat darah yang terus mengucur deras di atas kursi toilet. Entah sudah mati atau masih hidup, Rumi juga tak tahu.
Sesuai dugaan Rumi, betul. Dia adalah
"Elina.." gumamnya terpukul. Perempuan mengenaskan itu adalah teman sekamar sekaligus teman dekatnya. Elina yang ia cari sekeliling sekolah ternyata ada di toilet bersimbah darah.
"Ini lah sebabnya aku benci feeling ku" Gumam nya sambil melotot kaget melihat kondisi teman nya yang telah terbujur kaku.
Rumi mengulurkan jari telunjuknya ke hidung temannya, memeriksa nafas Elina "Syukurlah masih bernafas" lega nya. Meski nafasnya begitu lemah.
Rumi tanpa pikir panjang mengangkat dan menggendong tubuh Elina di lengannya. Liam yang melihat Rumi keluar dari bilik kamar mandi seraya menggendong perempuan yang bersimbah darah pun sontak kaget bukan main.
__ADS_1
"Rumi, biar aku yang gendong" ucap Liam ikutan panik sambil menghalangi pintu keluar kamar mandi.
"Minggir" Ketus nya.
"Biar aku saja" Paksa Liam.
"Liam Giandra, apa kau tak mendengar ku?. Minggir" Rumi melotot dengan ekspresi wajah datar. Kali ini ia betul-betul serius.
"Ah baiklah, maaf" Liam segera membukakan jalan untuk nya.
Rumi sekarang berada di rumah sakit. Sebelumnya, ia menggendong Elina dari toilet menuju ruang guru agar meminta bantuan membawa Elina ke rumah sakit. Dengan sigap guru-guru membawa nya ke rumah sakit agar mendapat pertolongan pertama. Elina di masukkan di ruang Unit Gawat Darurat karena kondisi yang cukup parah.
__ADS_1
Setelah beberapa lama menunggu, seorang dokter pun keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana kondisi teman saya dokter?" Tanya Rumi dengan buru-buru mendekati dokter.
Dokter itu menarik nafas dalam-dalam "Begini nak, teman mu itu terlalu banyak kehilangan darah sehingga membuat nya hampir kehilangan nyawa. Lalu luka-luka di sekujur tubuh teman mu itu beberapa ada yang sudah terinfeksi".
Jantung Rumi seakan di buat berhenti mendengar berita itu "Ja-jadi, saya harus bagaimana dokter untuk menyelamatkan teman saya" ucap nya, ekpresi sedih terpaut di wajah.
"Kamu cukup berdoa yah nak, syukurlah persediaan darah rumah sakit untuk teman mu masih tersedia. Dan imun teman mu juga kuat. Jadi tenang saja".
Rumi mendengar itu tak ada yang bisa di lakukan nya kecuali menghela nafas lega. "Terima kasih banyak Dok" senyum Rumi.
__ADS_1
"Tapi nak, apakah kau bisa menghubungi keluarga teman mu?. Soalnya kondisi teman mu harus secepatnya di beritahu oleh pihak keluarga" Pinta dokter.
Mendengar itu Rumi hanya terdiam, tak langsung menyetujui usulan tersebut. Ia tahu betul, kalau Elina itu hidup sebatang kara tanpa keluarga. Elina pernah bercerita, kalau seluruh keluarganya sudah meninggal entah bagaimana ceritanya. Rumi juga tak bertanya lebih lanjut tentang keluarga Elina.