Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 46 Piano


__ADS_3

Perempuan itu berjalan menapakkan kakinya menuju gedung club sekolahnya yang tak kalah mewah dengan gedung utama. Sembari memegang sebuah susu coklat di tangannya. Susu coklat itu adalah susu favoritnya. Karena hari ini adalah hari minggu yang di mana semua orang akan weekend dan berlibur dari pekerjaan untuk menghibur diri mereka. Tapi itu tak berlaku pada sekolah Rumi. Hari libur itu malah di manfaatkan oleh pihak sekolah dalam menjalankan seluruh aktivitas club bagi para muridnya.


Rumi yang tak terikat dengan organisasi apapun merasa bosan di kamar asramanya. Jadi ia memilih pergi dari asrama, berniat melihat-lihat koleksi serta aktivitas club.


Matanya bergerak kesana-kemari melihat setiap ruangan yang di isikan para murid yang sedang menjalani kegiatan mereka sesuai club yang mereka pilih. Memang deh gedung club ini adalah tempat paling menarik baginya. Karena ia bisa melihat banyak hal keren disini.


Sesekali ia menyempatkan waktu untuk singgah ke beberapa club. Dan mereka selalu menyapa kedatangan Rumi dengan ramah. Ia kemudian terus berjalan, tangannya masih menggenggam kotak susu nya yang sudah kosong ia sedot. Tak lama ketika ia melanjutkan perjalanan. Samar-samar ada sebuah suara lembut piano yang mampir ke telinganya. Suara melodi yang halus dan permainan ritme yang lambat. Membuat Rumi tertarik untuk melihat siapa yang memainkan alat musik dengan lantunan sehangat itu.


"Kayaknya ini berada dari club musik deh" kakinya semakin cepat melangkah untuk menuju club target selanjutnya yang ingin ia samperin.


Ketika sudah sampai di tujuan. Rumi mengetuk pintu ruangan club musik.


"Masuk, pintunya gak dikunci" jawab orang-orang yang ada di dalam.


Ceklek...


Pintu dibuka dan melihat ada banyak sekali alat musik tradisional maupun modern yang menjadi properti utama club itu. Beberapa orang nampak sedang berlatih atau sekedar bermain alat musik dengan fasih nya. Tapi hal yang paling membuatnya tertarik adalah. Orang yang sedang duduk di bangku sembari menggerakkan jari-jarinya di atas piano.

__ADS_1


"Ketua, ada Rumi Thaleeta Gressa" ucap seorang disana.


Membuat perempuan yang sedang bermain piano dengan syahdunya itu seketika berhenti "Dimana?" Ia memutar balikkan kepalanya mencari keberadaan Rumi. Kepalanya berhenti berputar ketika melihat Rumi yang sedang berdiri seraya menatapnya.


Seketika binar dimatanya muncul. Berjalan mendekatinya "Wahh, halo Rumi. Aku terkejut mendapati tamu kita ini" ucapnya ketika sudah berhadapan dengan perempuan itu.


"Yo Fanny, aku mampir karena mendengar musik piano di mainkan"


Fanny adalah anak kelas 2 sekaligus ketua club musik. Ia juga lumayan akrab dengan Rumi.


"Tentu"


(Itu mengingatku pada Arka yang hobi memainkan piano)


"Tapi skil bermain pianoku masih tergolong biasa saja"


Alisnya naik sebelah. Rumi tak paham, sudah sebagus itu kenapa di bilang biasa saja? "Menurutku bagus kok. Jangan merendahkan diri sendiri"

__ADS_1


"Aku tak merendah. Hanya saja, aku merasa skill bermain pianoku sangat kurang dibandingkan dengan anggota baru club ku" ucap Fanny.


Kini kedua alisnya terangkat naik "Siapa yang bisa mengalahkan skill seorang ketua kelompok musik" Rumi tersenyum.


"Iya, betulan" Fanny sedikit mendongakkan kepalanya "Siapa ya namanya. Aku lupa, tapi asli. Skil pianonya itu serasa aku bisa melihat pemain internasional. Aduh, siapa sih namanya" ia memejamkan mata yang masih berusaha menerawang.


"Anggota sendiri gak ingat" sindir Rumi


"Masalahnya anak itu baru saja masuk beberapa hari yang lalu"


"Alasan. Sehebat apasih dia sampai kau saja kalah?"


"Nanti deh kau lihat sendiri"


Rumi cuman berdehem.


"Namanya Arka dari kelas 1-A ketua" teriak seorang anggota club memberitahukan ketuanya yang tiba-tiba amnesia soal anggota barunya.

__ADS_1


__ADS_2