
Karena hempasan itu, Aiden menoleh dengan heran. Menduga kalau Rumi sudah paham yang ia lakukan tadi. Sepertinya Rumi kembali ke tingkah lakunya semula. Yaitu sensi kepada dirinya. Beralih menatap tangannya yang di lempar Rumi tadi lalu menutup membuka pergelangan jari-jarinya. Entah mengapa bentuk tangan perempuan itu masih bisa di rasakan nya.
Mengambil pandang ke Rumi "Seenaknya kau pegang tanganku lalu setelah tak butuh kau buang begitu saja" ucapnya di barengi seringai. Bermaksud menyinggung gadis yang tak bertanggung jawab itu.
Rumi menggeleng dengan keras "Sa-saya sungguh tak sadar. Maaf pak. Ta-tadi itu saya lagi gak fokus jadi sembarang pegang tangan bapak. Mana mungkin saya lancang seperti tadi".
Melihat Rumi yang meminta maaf. Aiden mengangguk "Saya akan memanfaatkan mu, tapi..." tangannya menarik dasi yang melengkapi stelan kantorannya dengan bentukan yang memang dari awal sudah kacau "Perbaiki dasiku" ucapnya sembari melontarkan senyum menggoda.
Lelaki itu memejamkan mata "Saya tahu kau pasti akan menol-"
Kata-katanya tak sempat di selesaikan karena Aiden merasakan sesuatu bergerak di atas dadanya. Matanya terbuka. Terlihat Rumi dengan wajah serius dan tangan lihainya berusaha memperbaiki dasi Aiden.
"Ap-apa yang kau lakukan" gumam Aiden bingung sekaligus terkejut. Berpikir Rumi akan menolak tawarannya. Melihat posisi mereka yang terlalu dekat. Refleks Aiden memundurkan tubuhnya sebab satu lutut Rumi menaiki sofa di antara paha-pahanya.
"Saya serius pak, saya minta maaf. Jadi kali ini saya akan perbaiki dasi bapak sebagai permintaan maaf"
__ADS_1
(Aku begini-begini bertanggung jawab bos)
Aiden mengerutkan alisnya lagi, berdecak lalu berpaling "Hm".
Hening melanda mereka. Rumi sibuk memperbaiki dasi. Aiden sibuk mengalihkan pandangannya serta harus membatasi geraknya akibat kaki Rumi yang semakin naik di sofa sela-sela pahanya.
"Jangan sembarang gerak" ucap Aiden panik.
"Sabar, hampir jadi"
"Selesai" ujar Rumi melepaskan tangan dari dasi yang sudah berubah apik itu. Dan
Segera menurunkan kakinya dari sofa. Akhirnya Aiden bisa bernafas lega dan leluasa bergerak lagi.
"Hm, makasih" ucap Aiden seraya berpaling dari Rumi. Berusaha melupakan kejadian tadi.
__ADS_1
"Iya, saya nongkrong di sini dulu yah pak" ucapnya sembari duduk di ujung sofa. Jauh-jauh dari Aiden.
"Loh, gak kembali ke kelas?"
Rumi memanyunkan bibirnya "Gak, saya lagi malas. Saya kurang sehat sekarang".
"Hm, yang ini untuk terakhir kalinya. Kalau kau bolos lagi, saya tidak akan tanggung jawab" meskipun ia baru kelas satu. Rumi itu terbilang murid yang bandel. Ia suka bolos dan kadang membuat onar di sekolah. Dan perbuatannya di maklumi, semua keburukannya selalu di tutupi oleh Aiden. Pria itu hanya tak mau nama sekolah tercemar karena tingkah Rumi. Terutama Rumi adalah murid penerima beasiswa Onestar.
"Siap"
"Duduk saja di situ. Saya mau lanjutin kerjaan, jangan macam-macam dan jangan kemana-mana" gertak Aiden. Bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya.
Rumi memutar kedua bola matanya "Iya-iya" ia melepaskan sepatu hitam yang sering di gunakan nya untuk sekolah dari kedua pergelangan kakinya. Terlihatlah kaki terbalut kaos kaki putih polos di naikan ke atas sofa lalu memeluk lututnya. Menenggelamkan wajah di rok panjangnya sembari memainkan handphone yang ada di tangannya. Beberapa puluh menit kemudian, mata perempuan itu perlahan terpejam karena kelelahan bermain handphone. Dan bablas tertidur di kantor Aiden yang ia bahkan tak tahu apakah ruangan itu pantas di jadikan tempat beristirahat.
Aiden menghela nafas melihat perempuan itu yang nampak tertidur pulas seakan-akan ini adalah kamarnya.
__ADS_1