Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 51 Teman SMP Elina


__ADS_3

"Kau mau membeli novel sebanyak itu?" Itulah pertanyaan yang ingin ia lemparkan kepada Elina sedari tadi.


​​​​​​​​


Empat buku novel sekarang tersusun rapi di atas kedua telapak Elina. Dari banyaknya novel di sana, hanya empat yang mengena di hatinya "Iyaa, soalnya hobi aku membaca" Elina bahkan sudah menabung uang terlebih dahulu demi membeli novel.


Elina mulai berjalan menuju kasir, dibuntuti Liam di belakangnya. Buku-buku itu siap ia bawa pulang.


Menatap Elina yang membelakanginya "Keren, bagus tuh kalau punya hobi membaca. Aku kalau baca yang panjang-panjang bawaannya ngantuk haha. Apalagi kalau belajar yang banyak tulisannya" memperhatikan rambut kepang dua perempuan itu yang terlihat bergerak ke kanan kiri ketika berjalan.


Baru saja untuk ke dua kalinya mereka berpapasan muka. Entah mengapa setiap obrolan ringan yang mereka bawakan, selalu nyambung dan cocok. Mungkin itu yang menyebabkan keduanya tak kehabisan topik bicara hingga mereka keluar toko buku itu.


"Kalau roti, kau sukanya rasa apa?" Tanya Liam. Menenteng satu kantong tambahan di tangannya. Kantong yang berisikan buku filsafat.


Elina menggerakkan matanya ke sudut kanan atas. Berpikir untuk menjawab pertanyaan Liam "Suka rasa srikaya kak" ucap Elina langsung berpaling ke Liam saat sudah menentukan jawabannya.

__ADS_1


"Oke, kalau Rumi?"


"Rumi itu pecinta coklat, semua makanan dan minuman yang disukainya itu coklat"


Liam tersenyum tipis "Pantesan, kadang kulihat dia itu sering sekali minum susu coklat yang dibelinya di kantin" kadang saat Liam kali tak sengaja melihat Rumi di kantin, perempuan itu selalu datang untuk membeli susu coklat.


"Haha, memang. Rumi itu maniak coklat, aku juga kadang nasehatin dia jangan terlalu sering konsumsi coklat. Takutnya nanti dia kelebihan gula"


Liam mengerutkan keningnya. Benar yang di katakan oleh Elina"Iya. Tolong yah nasehati dia. Kayaknya Rumi itu sangat terobsesi dengan coklat"


Ditengah obrolan yang tak ada habis-habisnya. Tanpa sadar ternyata mereka sudah berada di depan pintu keluar Mall. Sadar mereka sudah berada di luar Mall. Liam tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.


Elina memutar kepalanya ke belakang karena menyadari perhentian langkah Liam "Kenapa kak?"


"Tunggu, ada yang aku lupa beli. Tunggu bentar yah" ucap Liam sambil menggerak tangannya yang menyuruh Elina untuk menunggunya.

__ADS_1


"Ah, em ya oke..." Gumam Elina di sana melihat Liam pergi tanpa mendengarkan jawabannya terlebih dahulu. Masuk ke dalam pintu besar kaca Mall itu seraya berlari-lari kecil.


Perempuan yang mengenakan kaos putih berlengan pendek itu berdiri di depan halaman Mall yang luas. Kadang ia memutar kantong belanjaannya ke kanan dan ke kiri. Tak ada kerjaan selama menunggu Liam yang bermenit-menit belum juga kembali.


"Kak Liam mau beli apa yah. Kok lama banget" lirihnya, sesekali melirik ke pintu Mall. Berharap melihat Liam keluar dari sana.


Di sela-sela kebosanannya. Matanya membelalak karena ia samar-samar merasakan bahu kirinya seperti ditepuk pelan dari arah belakang. Tangannya seketika berhenti memutar-mutar kantong berisi novelnya. Ia semakin khawatir sebab tangan itu tak kunjung di tarik dan masih berada di atas bahunya. Membuatnya keringat dingin sekaligus takut.


"Hai, Yora" ucap seseorang yang ada di belakangnya. Suara nan halus layaknya seorang perempuan.


(Ha?) Matanya semakin membelalak sempurna mendengar suara itu. Ia sangat amat mengenal tipe suara halus seperti ini. Dan ia tahu siapa yang sekarang sedang berada di belakangnya. Satu-satunya orang yang memanggil Elina dengan nama belakangnya.


(Venya) batin Elina. Dengan mata melotot takut dan alis yang melengkung. Wajahnya menjadi pucat dan diliputi rasa cemas dan takut.


Perempuan itu melepaskan tangannya dari bahu Elina. Berjalan beberapa langkah dan akhirnya mereka saling berhadap-hadapan "Hei, Yora. Kenapa tak mau berbalik? Kau tak mau bertemu dengan ku kah? Kau ingat aku kan? Kita berteman loh waktu SMP. Jangan bilang kau masih marah padaku karena perbuatan ku waktu itu?" Ia menghujani Elina dengan rentetan pertanyaan. Anehnya, Elina cuman diam tak berkutik. Jika Venya mengekspresikan kegembiraan, maka Elina sebaliknya.

__ADS_1


(Ba-bagaimana ini. Aku takut sekali, kenapa juga aku harus bertemu dengannya lagi) keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Ia bahkan tak sanggup bergerak sedikitpun saking tegangnya.


__ADS_2