
"Kenapa malah minta maaf bodoh!" Ia membentaknya, Rumi kesal karena Elina sedikit-sedikit minta maaf meskipun dirinya tak bersalah. Melihat temannya mencuit karena takut, ia akhirnya menyadari kesalahannya "Eh, sorry..."
Rumi mengulurkan tangannya, berniat menenangkannya. Tapi sebelum uluran itu menyentuh Elina, ia menarik kembali tangannya sambil berdecak "sial*n, terserah lah" Rumi berbalik dan berjalan cepat meninggalkan temannya di tengah kesepian kota.
***
Semenjak kejadian itu, Rumi dan Elina belum saling tegur sapa sejak mereka pulang dari air mancur. Saat masuk asrama, saat pergi sekolah, padahal biasanya mereka selalu pergi bersama-sama kalau pergi sekolah. Tapi kali ini Rumi malah pergi duluan tanpa Elina. Saat di kelas juga mereka saling diam, bahkan sampai sekarang, jam makan siang telah tiba. Rumi duduk sendiri di taman sekolah nan sangat luas. Ia cuman ingin menenangkan pikirannya.
(Padahal aku tak berniat marah padanya, aduh bodoh kali aku ini) Rumi menampar pelan kedua pipinya menggunakan tangan.
"Aku tak mengerti mengapa dia mengganggap ku orang baik. Padahal kan aslinya aku orang jahat" Gumam Rumi sambil bersandar di kursi taman, menatap langit biru yang di hiasi awan.
Di tengah pikiran yang berkecambuk. Sekilas terlintas di kepalanya, memori tentang perkataan ayah nya dulu
__ADS_1
'Rumi, jangan jadi orang jahat. Berbuat baiklah kepada semua orang'.
"Hais, gimana yah ayah. Aku lebih suka jadi orang jahat. Menjadi orang baik itu tak mudah, selalu ada saja yang mencap kita jahat tak peduli sebaik apa pun tindakan kita ayah. Jadi kenapa tidak sekalian menjadi jahat saja yakan?" Gumam nya lagi.
"..."
Prinsip aneh Rumi 'Jadi lah antagonis apa pun keadaan nya'.
Ia termenung sebentar, memikirkan langkah selanjutnya untuk masalah ini "Baiklah aku sudah memutuskan, ayo cari Elina dan minta maaf pada nya. Jangan egois Rumi!" Ia memotivasi diri sebelum bangkit dari kursi kayu panjang dan berjalan cepat mencari Elina. Tapi sayangnya ia tak kunjung menemukannya. Di kelas, kantin, kantor, lapangan tak ada satu pun tanda-tanda kehadiran Elina.
Di tengah rasa putus asa nya. Rumi mendengar dari belakang ia berdiri, ada suara lelaki sedang mencoba menghentikan nya "Hei, tunggu sebentar" Dia berhenti, berbalik tanpa tahu siapa orang yang menghentikan nya.
Tubuh tinggi dengan bahu yang lebar. Model rambut cepak. Di tambah otot-otot di balik balutan baju putih abu-abu itu. Mantap kali bah. Pokoknya cowok dengan tampilan yang maskulin banget, macam modelan cowok bad boy. Kalau di lihat-lihat lagi, lelaki berambut coklat tua itu tampak familiar di penglihatannya.
__ADS_1
Ia memperhatikan dalam-dalam "Kau cowok sekarat tempo malam itu kan?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Cowok berkulit sawo matang itu tersenyum dan berjalan semakin mendekati Rumi "Kau ingat aku?".
"Aku tidak pikun, tentu saja aku mengingat mu" ia memutar kedua bola matanya, tak menyangka orang yang diselamatkannya malah satu sekolah dengannya.
Ia hanya membalas dengan senyuman tipis di bibir "Saat itu aku sengaja kalah. Bukan benar-benar kalah" yakinnya.
"Oh" dengan ekspresi wajah tak tertarik
(Terserah, peduli apa juga aku).
"Kau bilang kita tidak akan bertemu lagi. Tapi takdir berkata lain, kita bertemu lagi yah hehe.." nyengir cowok itu, sekarang ia berdiri tepat di depan Rumi dengan jarak sejengkal tangan saja. Membuatnya harus mendongak untuk menatap lelaki bermata warna kristal Amber itu secara langsung. Walaupun Rumi itu tinggi, tapi dia harus tetap menengadah saking tingginya si cowok itu.
__ADS_1