Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 43 Kesedihan Liam


__ADS_3

"Liam?" Gumamnya. Itu cuman dugaan sementaranya. Ia mendekati cowok itu. Tangisan yang tadinya cuman samar-samar terdengar di telinga. Semakin kentara menjadi tangisan terisak-isak. Tangisan yang sungguh menyayat hati.


Rumi berdiri di samping cowok itu. Melirik sedikit, ternyata benar dugaannya tadi. Dia adalah Liam. Liam masih belum tahu bagaimana dia menangis hebat sampai tak sadar keberadaan Rumi.


"Hiks, Lollipop.." gumam Liam. Seperti sedang meratapi kepergian seseorang.


Rumi cuman menopang dagunya di pinggiran rooftop sembari menikmati pemandangan dari ketinggian ratusan kilometer itu. Di temani suara Liam yang bergetar. Ia bahkan menikmati cara Liam menangis layaknya sedang mendengarkan alunan musik.


Beberapa menit kemudian. Liam akhirnya berhenti menangis karena sadar kalau ada rumi di sana.


"Rumi? Se-sejak kapan kau disini" ia mundur beberapa langkah karena kaget. Baru tersadar ada Rumi di sana. Cowok itu mengelap air mata yang sudah sampai membasahi bajunya. Matanya bahkan nampak memerah.


"Sejak tadi" jawab Rumi. Masih menatap pemandangan.


"Ka-kau. Kenapa kau tak memberitahukan ku kau ada disini"


"Untuk apa? Untuk apa aku harus menghentikan seseorang yang sedang meluapkan emosinya?"


"Itu, agar. Agar..."


Melihat kecanggungan dan ekspresi kebingungan cowok itu saat menjawab pertanyaannya. Rumi hanya menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Apa, apa kau melihat semuanya?" Tanya Liam. Berharap Rumi menjawab tidak. Ia akan malu jika Rumi melihat penampilan titik terendah dirinya yang tadi.


"Melihat bagaimana kau menangis terisak-isak sambil menggumamkan nama Lollipop?"


"Kau melihatnya ternyata.." tiba-tiba saja wajahnya yang tadi pucat sehabis menangis. Berubah menjadi merah padam. Malu.


"Ah, atau saat kau berteriak sambil mengatakan dunia ini gak adil?"


"Sudah cukup..."


Melirik cowok itu yang berada di sampingnya. Lalu tersenyum nakal "Atau, saat kau berkata ingin menghancurkan dunia karena kematian kucingmu Lollipop?"


"Haha, iya-iya"


(Aku kasihan karena kucing kesayangannya mati. Tapi mengganggu cowok ini ternyata menyenangkan).


Rumi merasa sedikit melupakan kekesalannya ketika mengerjai Liam.


"Atau, saat kau mengatakan ingin pergi ke dukun untuk menghidupkan kembali kucingmu?" Ia masih melanjutkan mengolok-olok lelaki bertubuh berotot itu yang tadi tak menyadari ucapannya.


"Rumi hentikan! Jangan mengejekku. Aku bilang aku cuman membual tadi!" Ia mengatakan itu dengan memperlihatkan wajahnya yang merah kepada Rumi. Membuat perempuan itu tak tahan untuk menertawakannya.

__ADS_1


"Awokwok. Reaksimu coy, hahahaha. Wajahmu juga kenapa itu merah banget" Rumi tertawa ngik-ngok sambil memegang perutnya dengan erat. Membuat cowok itu semakin malu.


Liam mendadak menutupi mukanya yang memerah dengan lengan seraya mengerutkan keningnya. Posisinya sekarang antara jengkel, sedih dan malu sudah bercampur aduk.


"Itu karena aku malu.." ungkapnya sambil berpaling dari Rumi.


Rumi mengelap air mata yang keluar karena tertawa berlebihan tadi "Malu kenapa sih, heran. Perasaan tadi kau nangis sesenggukan sekarang malah malu" ia memegang perutnya yang terasa agak sakit sehabis tertawa ngakak.


Liam diam. Masih menutupi mukanya yang menampilkan ekspresi malu.


Rumi menaikkan salah satu alisnya "Lenganmu dari tadi nutupin mukamu tuh. Aku jadi tak bisa melihat mukamu. Singkirkan" pinta Rumi. Lebih ke perintah sebenarnya.


Liam menggeleng cepat "Kau pasti akan menertawakan ku lagi kan"


"Iss, gak akan. Udah, singkirkan saja lenganmu"


Liam masih tak mau. Sudah pengalaman sebelumnya. Bagaimana Rumi tertawa terbahak-bahak karena ekspresi malunya. Sekarang Liam tak mampu mengatur ekspresinya. Takut Rumi menertawakannya lagi.


"Ah, kau ini keras kepala sekali" Rumi melangkah lebih maju mendekatinya. Hanya menyisakan celah sempit di antara mereka. Meraih tangan berurat yang menutupi wajah malu pria itu. Jika di bandingkan dengan tangan milik Rumi. Tangan Liam jauh lebih besar dan panjang.


Mata Liam terbuka lebar melihat Rumi tiba-tiba mendekat sembari menyingkirkan lengannya. Tangan putih itu memegang lengan milik Liam sehingga membuka wajah Liam yang sebenernya tak ingin ia tampilkan di hadapan Rumi. Tapi Rumi sangat ngotot ingin melihat wajah Liam.

__ADS_1


__ADS_2