
"Halah. Bilang aja cemas dengan Cyara kan? Mereka itu pantas mendapatkannya, toh mereka sudah membuat banyak orang sengsara. Kau itu naif sekali mencemaskan manusia seperti mereka"
Perempuan dengan keunikan rambut kepang duanya itu diam. Artinya apa yang di katakan Rumi benar. Ia cuman takut jika suatu hari nanti Cyara datang kepadanya dan membalas dendam atas hal yang menimpa ia dan teman-temannya. Sekarang ia aman karena ada Rumi. Tapi bagaimana dengan hari kedepannya jika tak ada Rumi di sampingnya? Masa ia harus selalu bergantung pada perempuan barbar itu.
Rumi melirik Elina. Menebak kalau temannya sedang memikirkan hal berkecamuk "Jangan khawatir, selagi ada aku. Kau aman" gumam Rumi berpaling ke arah lain.
Ia memandangi Rumi. Sungguh, rasa syukur bertebaran di hatinya bisa mendapat teman seperti Rumi "Iya, makasih".
Ia bersandar di samping jendela "Hm"
"Eh Rumi, liat tuh ada murid baru lagi" Elina memperhatikan seorang murid cowok yang baru saja memasuki pintu kelas dengan tas di pundaknya. Cowok yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Gak peduli" timbalnya seraya memejamkan mata.
"Ganteng loh, rambutnya pirang. Kaya orang-orang bule"
"Terserah" sekalipun yang di katakan Elina itu benar, ia juga takkan peduli. Dia bukanlah penggila cowok ganteng.
__ADS_1
Murid baru itu berdiri di depan kelas. Aktifitas belajar terhambat karena kedatangan cowok pirang itu "Halo semuanya, salam kenal. Saya murid baru di kelas ini".
Guru Biologi yang saat itu sedang mengajar di kelas 1-A bertanya dengan ramah pada cowok itu "Siapa namamu dan dari mana asalmu"
Cowok pirang itu setengah memejamkan mata. Tak langsung menjawab, lantas melemparkan pandangan ke sudut ruangan. Tempat Rumi duduk.
Elina yang sadar akan hal itu segera menyadarkan perempuan itu "Eh, tuh cowok kok natap kamu mulu yah dari tadi" ia menyenggol pelan bahu Rumi.
"Dia kan punya mata. Ribet amat sih ah".
Dengan senyuman ramah, cowok itu memperkenalkan dirinya "Nama saya Arka Naresh Wistara. Saya berasal dari Jepang. Semoga kita bisa berteman baik kedepannya"
Dan nama yang membuatnya kembali nostalgia
***
"Hey, siapa namamu"
__ADS_1
Aku bertanya pada anak berbaju SMP yang tergolek di tanah, membuat penampilannya semakin lusuh. Babak belur sehabis di hajar para perundung di sekolahku. Aku membantunya melawan para pembully itu.
"Aku, namaku Arka. Arka Naresh Wistara. Terimakasih telah membantuku"
Mata mereka bertemu. Jika Rumi menunjukkan wajah kaget bukan main. Sebaliknya. Arka menunjukkan wajah berseri-seri. Nampak seperti dua orang yang pernah berjumpa di masa lalu.
"Baiklah, silahkan duduk di tempat yang kosong" ucap guru. Arka mengangguk pelan. Lalu duduk di spot yang kosong.
Rumi menundukkan kepalanya dimeja "Mengapa dia ada di sini"
Tring
Bel berbunyi
Rumi berdiri dari kursinya sampai mengeluarkan bunyi deritan. Lalu berjalan dengan terburu-buru. Melewati Elina yang sedang memasukkan buku di dalam tasnya.
"Eh eh, mau kemana" ucap Elina yang berniat mengajaknya ke kantin. Tapi Rumi malah selangkah lebih maju darinya.
__ADS_1
Rumi menghampiri Arka yang sedang di kerumuni orang-orang. Melesak masuk ke dalam gerombolan itu. Mata mereka bertemu lagi. Tapi kali ini Arka menatap Rumi seakan-akan tak mengenalinya.