
"Elina, itu uangmu, milikmu. Makanan di sekolah ini mahal. Bawa ke asrama saja sisanya nanti" Karena paksaan dari Rumi, Elina akhirnya mengambil makanan itu dan kembali ke tempat duduknya.
Melihat Elina yang sudah pergi. Rumi mulai membuka pembicaraan dengan perempuan cantik itu "Citra, kalau kau ingin memberi makan anak buahmu. Lain kali jangan pakai uang orang deh"
Merasa pernyataan itu tertuju pada dirinya. Cyara tersenyum sambil menjawab dengan santai "Aku tidak memakai uangnya, dia yang memberi uangnya sendiri untuk mentraktir kami. Dan namaku bukan Citra, tapi Cyara".
Alisnya berkerut, tak berharap diberitahu namanya yang sesungguhnya. Karena ia juga tak peduli. Sambil menyerengeh ia melontarkan kata-kata bijak "Kalau tak punya uang, lebih baik tak usah makan. Dari pada makan enak tapi uang hasil palak yakan?"
"Haha, kau salah paham Rumi".
"Mending kerja dek. Halal dari pada makan makanan haram kek gitu" lanjut Rumi, pura-pura tak mendengar Cyara.
__ADS_1
"Aku bilang kau salah paham Rumi" Cyara mulai merendahkan suara. Pasrah dengan tuduhan perempuan itu.
"Oh gitu, ya udah" ia melengos dan berjalan pergi menuju bangkunya. Teman sekelasnya yang kebetulan melihat perdebatan singkat itu hanya diam tak berkutik dan menjadikan mereka berdua sebagai tontonan.
Ekspresi Cyara yang awalnya ramah, senyam-senyum. Berubah murka "Awas kau Rumi, mentang-mentang mendapatkan beasiswa sial*n" Gumam Cyara menggigit bibir bawahnya.
Ospek pun berakhir di saat langit sudah berwarna orange. Rumi pergi ke asramanya sembari membawa koper biru tosca berisi perlengkapannya untuk tinggal di asrama. Kamarnya bernomor dua puluh sembilan dan setiap kamar berisi dua orang. Ia jadi penasaran, siapa yang akan menjadi teman sekamarnya.
"Elina?".
"Rumi?. Kau juga asrama dua puluh sembilan?" Tenyata, plot twist nya mereka berdua sekamar.
__ADS_1
Tanpa banyak tanya. Mereka mulai beres-beres dan menyusun ulang tata letak kamar sesuai selera mereka. Rumi membuka koper yang di bawanya lalu mengeluarkan dua pasang sepatu terlebih dahulu. Beralih ke pakaian, menggantung bajunya dan sebagiannya lagi ia lipat lalu menaruhnya di lemari. Elina juga sedang menata pakaian di lemari kedua di samping lemari Rumi mencuri-curi pandang "Kenapa semua pakaian mu itu berlengan panjang?" Ia pun mendekati Rumi dan menelantarkan pakaiannya.
"Hmm, karena aku suka" ujar Rumi yang masih sibuk.
Elina melirik pakaian temannya yang sudah apik tersusun "Bajumu bagus-bagus. Baju baru yah" Rumi mengangguk membenarkan perkataan Elina.
Melihat kawannya yang kepo, helaan nafas panjang keluar "Apakah pakaian ku sebagus itu smpai membuat matamu berbinar-binar" Tanyanya sambil meng-resleting kopernya karena sudah selesai menyusun.
Elina mengangguk kencang di susul helaan nafas Rumi lagi. Ia melirik ke lemari Elina yang kebanyakan di penuhi baju-baju lusuh dan warna yang telah luntur, sudah tak layak di kenakan. Wajar saja saat melihat pakaiannya, mata Elina di penuhi rasa kagum.
Rumi mengambil sepatu-sepatunya yang ada di sebelah koper dan berjalan mendekati rak sepatu di samping pintu keluar, lalu meletakkannya di sana. Kemudian ia mengambil beberapa helai pakaian di lemari untuk dikenakan "Aku mandi duluan yah" tuturnya sambil berjalan masuk ke kamar mandi di barengi anggukan Elina. Hari sudah menjelang malam, jadi mereka harus mandi.
__ADS_1