
"Rumi" panggil Aiden tanpa berpaling dari kertas yang sedang di eksekusi nya.
Rumi yang memperhatikan wajah Aiden refleks menyahut "Iya".
"Sudah makan?".
"Belum. Saya berencana ingin ke kantin, tapi anda memanggil saya duluan".
"Oh, bagus lah" ia tersenyum.
(Apasih gaje).
Ia memberhentikan kegiatannya, tangannya beralih mengambil sebuah kantong transparan dari bawah mejanya "Makanlah, tadi saya sempat singgah di warung makan dan membeli nasi goreng. Saya membeli dua bungkus, karena saya sudah kenyang, jadi sisanya untuk mu saja" ia memberikannya pada Rumi.
(Jadi sisa nih?) Membuka kantong itu yang berisi nasi kotak dan susu coklat.
(Hmm?. Kenapa ada susu coklat?. Memangnya orang seperti dia suka susu coklat)
Tampang Aiden sangat tidak cocok jika dikatakan sebagai penggemar susu coklat. Lebih cocok ke minuman kopi hitam gitu lah perawakan si Aiden ini.
__ADS_1
(Bodo amat sih, lumayan makanan gratis).
Ia melirik Aiden "Terimakasih pak. Kalau begitu, saya balik ke kelas. Saya takut jika saya makan di sini akan menggangu anda" senyum Rumi.
(Ngapain juga aku makan di sini. Nanti aku di kira orang rakus) Mengingat porsi makan Rumi yang segunung.
"Makan saja di sini" jawab Aiden.
Rumi terperangah "Ha?" memastikan apakah ia salah dengar.
Pria itu memegang tengkuk lehernya sambil berpaling dari Rumi "Saya bilang, makan saja di sini. Di meja ini. Kau tidak menganggu ku" ucapnya ragu-ragu.
"Tapi saya.." Rumi ingin membuat dalih.
"Makan!. Saya sudah rela-rela membeli makanan ini untuk mu" Aiden membelik.
(Lah, tadi katanya sisa. Dia kenapa sih!?).
Rumi dengan perasaan tak ikhlas, takut pula dia sama tatapan melotot Aiden tadi. Akhirnya memilih makan di tempat itu. Meja Aiden luas, jadi agak leluasa untuk makan. Makanannya juga enak-enak saja. Tapi Rumi sekarang mengalami mual dan ingin muntah. Mengapa?.
__ADS_1
Karena dari awal ia makan sampai selesai. Aiden menatap nya sampai akhir, Rumi sih tak masalah di lihat-lihat kayak gitu. Tapi masalahnya tatapannya itu betul-betul menusuk sampai ke tulang sumsum. Di tambah alisnya yang terus-menerus berkerut sambil menopang dagu di tangannya. Pokoknya di luar dari kata seseorang yang ikhlas makanannya di makan oleh orang lain.
***
Rumi kembali ke kelas dengan lemas. Berjalan sambil beberapa kali berhenti untuk menyender di tembok. Seperti orang kena tipes (Dia memanggilku hanya untuk makan gitu?, gila kali tuh orang. Tapi nasi goreng nya enak).
Sruput...Sruput
Rumi ternyata masih menyedot minuman susu coklat yang di berikan Aiden "Susu coklat ini kok enak sekali yah. Nanti beli lagi deh".
Sampailah Rumi di kelas. Beberapa orang menyapa nya dan ia menyapa balik dengan mengangguk kan kepala. Saat ia mau duduk, ia melihat Elina dengan wajah sendu dan mata lembab sedang membaca buku. Elina memang hobi membaca atau menulis novel
Ia menarik kursinya untuk duduk tanpa melepas pandangan nya dari Elina "Habis menangis kah?, Ada apa?. Pipimu juga kenapa, kenapa merah-merah gitu?" Tanya Rumi.
Elina berhenti memandang buku novelnya dan menoleh ke Rumi "Enggak kok, gapapa" senyum nya.
"Beneran?".
"Iya" ia kembali melanjutkan membaca buku
__ADS_1