Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 40 Sifat Asli Aiden


__ADS_3

Lima jam kemudian


"Anak ini benar-benar lelap sekali tidurnya. Tak tega kubangun kan" ucap Aiden menatap Rumi yang tubuhnya sudah terselimuti jas miliknya. Ia menyelimuti Rumi karena takut dinginnya udara malam akan membuat perempuan itu jatuh sakit.


Ia melihat jam tangannya. Memastikan jam berapa sekarang.



00



"Sekolah sekarang pasti sudah tutup" melempar pandangan ke jendela "Aku harus membangunkan anak itu. Lalu aku akan segera pulang, dan harus mengerjakan beberapa dokumen lagi di rumah" ia berdiri dari kursi kantornya.


Tapi belum sempat melangkah, ia kembali menatap perempuan yang terpapar sinar bulan dari luar jendela itu. Menampilkan wajah polosnya ketika masih tidur. Wajah yang terlihat kalem tak seperti saat ia bangun nanti.


Alisnya mengerut dan membanting tubuhnya di kursi "Anak ini membuatku frustasi sungguh. Aku tak pernah seputus asa ini sebelumnya"


Dua bola mata hitamnya menatap dingin Rumi. Tatapannya seperti seseorang yang sedang mengincar mangsa "Kupikir, berada di sampingnya akan membosankan. Tapi sebaliknya. Satupun dari sifat-sifat nya tak ada yang tak membosankan. Itu membuatku semakin tertarik" seringai miring muncul di sudut bibirnya.


"Kenapa juga pak Wibowo harus menyuruhku menjaga anak ini. Kadang Rumi itu menyusahkan. Kuharap kepala sekolah membebas tugaskan aku untuk melindungi perempuan ini. Agar aku tak harus repot berakting" kekesalan terpancar dari mata Aiden.


Ia bersandar di kursi, meregangkan otot-otot nya yang kaku sebab seharian harus mengerjakan pekerjaannya "Tapi, kalau harus berada di samping anak itu lebih lama lagi. Tak masalah lah. Toh, anak itu menghiburku dengan keberadaannya"


Ia mengambil handphone yang tergeletak di atas mejanya. Membuka aplikasi camera. Dan mengambil foto Rumi di bawah sinar bulan dengan berlatarkan lukisan hitam putih kesukaannya. Merasa kalau Rumi yang tertidur serasi dengan lukisan kelam itu.

__ADS_1


"Benar, biarkan semuanya mengalir. Lalu takdir yang akan menjawab segalanya" Aiden menyunggingkan senyum. Suka dengan hasil fotonya. Beranjak dari tempat duduknya. Mendekati Rumi dan segera membangunkannya.


"Rumi, bangun" ia mencolek pipi tirus perempuan itu.


Perlahan tapi pasti. Rumi mulai membuka kedua matanya. Ia mengangkat punggungnya yang terasa berat dan sakit sehabis lima jam tidur dengan posisi yang tak pernah berubah dari awal. Duduk di sofa, menampilkan muka bantalnya.


"Jam berapa sekarang" tanya Rumi seraya mengucek-ngucek matanya yang masih terpejam. Lalu ia menguap, tubuhnya memberi tahu kalau Rumi masih butuh lebih banyak isitirahat.


(Aku dimana?) ia merunduk menatap kosong jas Aiden yang berada di pahanya.


"Hampir masuk jam setengah sembilan malam. Saya mau mengunci pintu, jadi cepat bangun. Rapikan dulu pakaian mu sebelum kau keluar" ucap Aiden. Sedikit merunduk untuk memperbaiki rambut panjang perempuan itu yang sudah amburadul. Meskipun lingkungan sekolah tak lagi beraktivitas karena sudah malam. Pria itu hanya tak mau ada rumor yang tidak-tidak tentang mereka berdua beredar. Itu hanya akan membuat masalah baru.


"Ah, iya" Rumi mengangguk. Tapi tak mengikuti perintah Aiden untuk memperbaiki baju. Cuman duduk dengan mata yang masih terpejam. Aiden menghela nafas. Lanjut memperbaiki kerah baju perempuan itu. Layaknya seorang ayah yang mengurus putrinya.


"Berhenti menatap saya seperti itu. Sekarang pakai sepatumu" setelah selesai dengan Rumi. Ia berjalan menuju jendela untuk menutup tirai.


Rumi menganggukkan kepala. Segera memakai sepatunya. Mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan itu. Dan berjalan menyusuri lorong yang tampak seperti bangunan tak berpenghuni saking mencekamnya suasana malam saat itu. Hanya terdengar sepatu pantofel milik Aiden yang paling berisik sehingga bergema di sepanjang lorong.


"Kau tak takut?" ia melirik Rumi yang ada di sebelahnya.


"Gak"


"Anak perempuan biasanya akan takut dengan suasana seperti ini"


(Itu karena mereka penakut) batin Rumi

__ADS_1


"Saya tak takut. Karena menurut saya, hal paling menakutkan adalah manusia berhati busuk" ucap Rumi membuat Aiden tertegun sejenak mendengar perkataannya. Perempuan itu mengatakannya seolah-olah ia pernah merasakan kebusukan hati manusia.


Aiden kemudian tersenyum dengan ragu-ragu. Bingung harus merespon seperti apa "Kau benar, manusia terkadang seperti itu" akhirnya ia cuman mengatakan itu.


***


Rumi membuka pintu kamar asramanya. Saat itu ia melihat Elina yang sedang wara-wiri dengan raut panik sambil memegang handphone di telinganya. Ketika ia menyadari seseorang yang membuka pintu kamarnya adalah Rumi. Ia dengan cepat mendekatinya.


"Kau dari mana, aku telpon berulangkali kenapa tak di jawab. Aku tungguin kamu dari pulang sekolah tapi kau gak datang-datang"


Rumi menutup pintu asrama setelah sudah masuk "Kau bawain tasku kan?"


"Iya, mana mungkin aku tinggalin"


"Oke bagus" ia langsung berjalan pergi ke kamar mandi setelah melepas sepatu sekolah nya.


"Jawab aku, kau pergi ke mana" kakinya mengikuti kemana Rumi pergi


"Ada deh" ia menutup pintu kamar mandi. Membuat Elina berhenti pas saat Rumi menutup pintu kamar mandi itu.


Alisnya melengkung membentuk ekspresi sedih. Melihat Rumi tak ingin jujur padanya. Padahal ia sangat khawatir pada temannya itu.


"Kalau lapar, aku udah masak. Makanannya di atas meja dapur. Aku tidur duluan yah" teriak Elina.


"Oke"

__ADS_1


__ADS_2