Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 45 You Are My Hero Now


__ADS_3

"Dan saat aku SMA. Aku terpaksa meninggalkan Lollipop karena harus tinggal di asrama sekolah kita. Saat itu aku menitipkan Lollipop pada orangtuaku" wajah yang tadinya sendu berubah menjadi mimik muka yang penuh amarah.


Ia menyelipkan rambut panjangnya di belakang telinganya. Sekarang Rumi sudah bisa menebak jalan cerita selanjutnya "Aku paham, pasti orangtuamu tak merawat kucing itu dengan baik dan akhirnya Lollipop mati kan?"


Ekspresi marah itu reda "Iya.." matanya kembali berlinang air mata "Tadi adikku menelepon. Katanya Lollipop sudah mati empat hari yang lalu. Karena ibuku mengurungnya dan tak memberikannya makan. Selama aku tak mengunjungi Lollipop, ternyata orangtuaku terus menyiksa Lollipop..." ucapnya dengan suara yang seperti menahan tangis.


Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Matanya kini mengalirkan air mata lagi jika mengingat kembali mengenai kucing kesayangannya itu "Manusia jahat banget yah, padahal aku sudah memenuhi keinginan orangtuaku untuk jadi atlet. Tapi mereka memperlakukan Lollipop seperti itu. Lollipop tak salah, dia cuman ingin dimanjakan. Kucingku itu adalah kucing paling manja.." suaranya kembali bergetar. Dan untuk kedua kalinya, Rumi menyaksikan Liam menangis.


Rumi yang sedang melipat kedua tangannya di atas tepian rooftop sembari mendengarkan curhatan Liam hanya bisa diam tak banyak komentar (Badan sih boleh kekar, tapi hatinya lembut kayak kapas) ia menghela nafas.


Matanya melirik Liam yang sedang jongkok bersandar di dinding rooftop. Cowok itu masih menggosok-gosok matanya yang tak berhenti mengeluarkan air mata. Layaknya seorang anak kecil yang kehilangan mainan.


"Udahlah, itu semua udah takdir. Gak usah di tangisin. Lollipop pasti sedih jika melihat tuannya sedih" Rumi berniat menenangkan Liam. Tapi bukannya tenang, cowok itu malah semakin sesegukan.

__ADS_1


"Eh, jangan tambah nangis dong hey"


(Duh, dia malah makin nangis lagi. Cara berhentiin cowok nangis gimana ya. Kalau Elina nangis biasanya aku peluk supaya tenang. Kalau cowok gimana cara nenangin nya coy) batin Rumi. Belum punya pengalaman banyak cara menenangkan cowok menangis.


Tiba-tiba terbesit sebuah ide di kepalanya. Rumi berjalan menuju Liam yang masih terlihat menangis sambil menenggelamkan kepalanya di antara paha. Perempuan itu kemudian jongkok di hadapan Liam. Jarak mereka kembali merapat. Selanjutnya, tangan putih Rumi mengelus rambut cowok itu. Liam mendongak ketika merasakan ada sentuhan di atas kepalanya.


"Aku tidak mengerti kenapa kau menangis sampai sebegitu nya hanya karena kucing. Tapi yang ku mengerti kau pasti sangat menyayangi kucingmu. Jangan khawatir, Lollipop pasti juga menyayangi tuan yang merawatnya dari kecil" ucap Rumi tanpa gelombang nada dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi, kata-katanya sangat menenangkan didengar dan menghangatkan hati cowok itu yang perlahan melupakan kesedihannya.


"Aku lemah banget ya, hanya karena kucing aja nangis. Orang-orang disekitar ku bilang kalau anak cowok gak boleh nangis. Anak cowok harus kuat"


"Loh, enggak tuh. Dengerin nih, aku punya kata-kata"


"Hm.." Liam mendongakkan kepalanya sedikit ke arah Rumi. Ingin mendengar apa yang akan diucapkan oleh Rumi.

__ADS_1


Perempuan itu tersenyum "Justru jika kau masih memiliki perasaan seseorang manusia. Maka menangis lah. Yang tidak wajar itu, jika kau adalah seorang manusia. Tapi kau tidak tahu cara untuk menangis" Rumi berusaha meyakinkan Liam dengan mengatakan itu.


"Manusia itu selalu memiliki perasaan emosional. Jika orang-orang menuntut mu untuk tak menangis. Percayalah, mereka berusaha mengubahmu untuk menjadi robot. Hanya robot lah yang tak memiliki perasaan karena mereka di bawah kendali manusia" lanjut Rumi.


Rumi menyunggingkan senyum. Merasa saat ini dirinya sangat keren saat memberikan kata-kata itu. Layaknya seorang motivator.


Ia menarik tangannya dari kepala Liam, dirasa cowok itu sudah lebih tenang. Berdiri dan meluruskan kakinya. Pegal karena kelamaan jongkok. Hidungnya menghirup udara segar dengan perasaan senang. Entah mengapa dia merasa telah menyelesaikan suatu misi.


"Makasih. Berkat kata-kata mu. Aku jadi paham sekarang" Liam mengelap wajahnya yang berkeringat karena kepanasan sehabis menangis.


Rumi membusungkan dadanya. Kedua tangannya ia taruh di sisi kanan dan kiri pinggangnya "No problem. Seorang pahlawan tetap pahlawan meski tanpa ucapan terimakasih" ucapnya dengan lantang. Mengganggap dirinya seorang pahlawan sekarang.


Liam tertawa kecil melihat tingkah Rumi "Yeah, you are my hero now" ucap Liam. Mencuri-curi pandang pada perempuan itu yang masih sibuk memperagakan gaya layaknya pahlawan.

__ADS_1


__ADS_2