Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 24 Menginap di rumah Aiden


__ADS_3

"Kalau begitu, saya akan cari hotel. Saya akan menginap di hotel" Rumi tetap kekeh beralasan. Intinya untuk malam ini, jangan rumah Aiden.


Aiden terkekeh kecil "Kau pikir dapat mencari hotel di sekitar sini?".


Perkataan Aiden ada benarnya. Rumi melihat hanya ada beberapa rumah penduduk di sekitar, selebihnya pepohonan setelah mereka melewati area sekolahan. Memang sekolah Rumi berada di daerah agak pelosok, tapi tetap terjangkau dengan distrik perkotaan.


Rumi merasa alasan itu masuk akal. Ia akhirnya tenang tak lagi memberontak, seraya menatap jendela mobil "Kalau begitu, mengapa anda berbohong" ucapnya, terdengar pasrah.


Aiden bergeming "karena aku tahu kau akan menolaknya".


Alis Rumi menegang lagi "Karena anda berbohong, semakin membuat saya ingin menolaknya!!" Rumi berteriak, alasan Aiden membuatnya lebih jengkel. Kalau saja Aiden tak berbohong, Rumi mungkin tak akan semarah ini.


Aiden melirik Rumi. Ia melihat dua bola mata yang penuh kemarahan sedang menatapnya. Ia sadar dirinya salah, tetap saja membawa anak SMA tanpa persetujuannya terlebih dahulu dan sampai harus berbohong adalah hal yang salah "Maaf" lirih Aiden.


"Serah" Rumi tak peduli dengan maaf Aiden.

__ADS_1


"Apa kau masih marah?" tanya Aiden, menatap Rumi.


"Gatau"


(Pake nanya si Bambang!!).


***


Rumi memasuki sebuah kamar. Kamar yang akan menjadi tempat ia tidur malam ini.


"Ini kamar tamu. Kau bisa tidur di sini" ujar Aiden.


Aiden menghela nafas "Oh ya. Ini ada baju, kamu pakai ya" Aiden menaruh paper bag hijau tua di atas meja bundar tempat lampu tidur di sebelah kasur. Sengaja membelikannya untuk Rumi. Gadis itu masih memakai baju putih abu-abu, belum sempat mengganti baju sejak datang ke rumah sakit.


"Makasih" ucapnya agak judes.

__ADS_1


Aiden mengangguk. Langkahnya menuju pintu, ia memegang gagang pintu. Ingin menutupnya, tapi sebelum menutupnya. Mereka sempat beradu pandang "Selamat tidur. Semoga mimpi indah" dengan sedikit senyuman menyesal terlukis di wajah. Aiden menutup pintu.


"Apasih, aneh" dirinya tak terbiasa dengan ucapan selamat tidur.


Rumi melirik paper bag Aiden "Sumpah, pak Aiden itu kok baik banget sih. Aku kan jadi gak enak" ia menggaruk tengkuknya. Di balik kejudesannya, ia masih menyimpan rasa tak enakan pada kebaikan Aiden.


"Tapi aku masih jengkel karena pak Aiden berbohong" mulutnya manyun.


Ia meraih pemberian Aiden itu yang isinya baju sweater dan celana hitam panjang dan mengganti baju di toilet yang masih satu ruangan dengan kamarnya. Dan baju kotornya ia taruh di paper bag. Rumi meloncat ke atas kasur dan tidur dengan lelap.


***


"Ayam goreng, ayam goreng," saat tertidur, Rumi menggumamkan ayam goreng berkali-kali tanpa sadar. Ia semakin menggeser posisinya ke ujung ranjang, dan akhirnya terjatuh ke lantai "Arrgghhh.." rasa sakit itu membuatnya sadar dari mimpi ayam goreng.


"Aduh, sakittt..." Rumi memegang pipinya yang terbentur duluan mencium lantai. Kasur itu cukup tinggi, jadi seharusnya terasa sakit kalau terjatuh.

__ADS_1


"Lantai bangs*t" ia menonjok lantai yang tak bersalah.


Tiba-tiba, di tengah kondisi setengah sadar itu. Matanya yang belum siap menangkap pemandangan seorang pria secara samar yang terkena pantulan sinar matahari pagi, tampak sedang duduk di kursi menghadap ke arah nya. Ia mengejap-ngejap "kok silau, siapa? malaikat kah?" Tanyanya masih terduduk di lantai.


__ADS_2