
Elina menyodorkan botol air minum "Nih air".
Ia mengambil botol air itu "Makasih" Belum juga sempat botol air minum itu di buka. Tiba-tiba teman sekelasnya menghampiri mereka berdua "Rumi, wakil kepala sekolah memanggil mu".
Ia mengerutkan keningnya "Untuk apa memanggil ku?".
Teman sekelasnya mengendikkan bahu, ia juga tak tahu mengapa Rumi di panggil.
Rumi semakin kesal (Kenapa lagi sih?. Ga ada kerjaan sekali kah selain memanggil ku. Kemarin saja ia berbohong padaku).
Rumi bangkit dari tempat duduknya dan menepuk pelan pundak Elina "Kau duluan saja ke kantin". Elina hanya mengangguk sambil melihat Rumi berjalan menuju pintu dan akhirnya menghilang.
Lalu, geng Cyara yang tanpa mereka sadari dari tadi sedang memperhatikan dirinya dan Rumi, mendekat ke arahnya "Kau akan mentraktir kita makan di kantin lagi kan?" Ucap Cyara sambil tersenyum.
Ketakutan terlintas di wajahnya "Ak-aku sudah tak punya uang" keringat dingin mengucur di wajah.
__ADS_1
Cyara menyipitkan mata tak percaya "Apa kau berbohong?" Interogasi Cyara.
"Aku tak berbohong, sungguh".
"Benarkah?. Tapi aku tak percaya"
Ia tersenyum seraya menunjuk dengan jari telunjuknya ke tas hitam Elina "Geledah tasnya" anak buah Cyara dengan sigap menerima perintah untuk mengecek tasnya.
Elina yang melihat itu berusaha segera memeluk tasnya agar tak di rampas"Ja-jangan".
"Ini apa?" Cyara memegang uang bernilai seratus ribu rupiah. Elina tak menjawab, hanya dapat merunduk sambil menelan ludah.
Ia mendekati Elina "Anak bohong harus di hukum yakan?".
Plak...
__ADS_1
Cyara menampar Elina dengan sangat keras.
Plak...Plak...Plak
Ia menampar Elina berkali-kali hingga membuat darah mengalir dari hidungnya. Pandang Elina menjadi kabur karena pusing melanda kepalanya tanpa izin hingga membuatnya terjatuh karena tak kuat. Darahnya juga sudah mengotori lantai.
"Lain kali jangan berbohong. Anak cupu seperti mu jangan banyak tingkah. Dan jangan katakan apa pun pada Rumi. Jika kau tak ingin ku bunuh".
Cyara langsung pergi bersama gengnya. Sisa lah Elina seorang diri di ruangan itu. Dengan cepat Elina terduduk dan mengambil tisunya yang sudah terbuang di lantai. Ia mengambil beberapa helai tisu, mengelap hidung dan area lantai yang sudah terkotori oleh darahnya "Padahal uang itu untuk mentraktir Rumi di kantin" lirihnya.
Ia mengelap sampai tak sadar ada tetesan air yang jatuh di lantai, air matanya bercampur dengan darah di atas keramik putih itu. Ia menangis terisak-isak tanpa suara, membuat hatinya terasa lebih sakit.
***
Rumi duduk di kursi untuk kedua kalinya bersama Aiden. Tepatnya yah, saling berhadapan dengan Aiden, meski ada meja pembatasan di depan mereka. Tapi Rumi dapat dengan jelas melihat aktifitas Aiden yang sedang sibuk mengisi dokumen dengan pulpen hitam.
__ADS_1
(Bau tinta. Sepertinya dia sangat sibuk. Tapi mengapa ia memanggilku?) Rumi melirik pria kantoran itu. Jika di lihat sih, Aiden memang sangat tampan dari segi apapun, terlihat perfect.