Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 47 Arka Hilang?


__ADS_3

Fanny menjentikkan jarinya sembari tersenyum lebar "Nah itu dia. Si anak baru tuh si Arka. Percaya deh, dia itu jago banget main alat musik selain piano"


Fanny mengangkat kedua alisnya "Kenapa ekspresi mu seperti itu? Ada yang salah?" Ekspresi Rumi tak seperti yang di harapkan nya.


Matanya terbuka lebar dengan pupilnya yang ikutan berubah membesar. Sejujurnya ia sangat terkejut mendapati kalau Arka lah anggota barunya "Siapa tadi kau bilang? Arka? Gak salah nama?" Ucap Rumi tak percaya dengan nama yang terucap dari bibir Fanny.


Fanny tersenyum nakal "Iya, dia kan teman sekelasmu. Kau gak tahu dia itu sudah join club ku? Teman sendiri kok gak tahu" Fanny menyindir balik.


"Dih, apaan? Untuk apa aku harus tahu kalau dia masuk club mu" Ucap Rumi agak jengkel. Untuk apa juga dirinya mengetahui tentang Arka.


Fanny cuman terkekeh. Ia mendekatkan wajahnya pada Rumi yang masih terlihat kesal bercampur kekagetan. Tangannya ia arahkan ke bibirnya "Kalau punya nomornya, bagi dong hehe" ucapnya bisik-bisik. Ketua club musik itu ternyata diam-diam tertarik pada Arka sejak pertamakali ia bergabung di club musik


Mendengar itu, Rumi hanya memasang ekspresi datar. Tambah kesal. Entah mengapa ia tak suka dengan pernyataan Fanny. Dua jari tangan tengah dan telunjuknya mendorong jidat Fanny yang sudah hampir mau bertubrukan dengan mukanya.

__ADS_1


"Singkirkan wajahmu. Meskipun ada juga, aku tidak akan kasih" timbal Rumi.


"Hehe iya deh iya. Nanti kau lihat deh, cara dia main piano itu tuh. Aduh, bagus kali bah" ujar Fanny yang masih terus meninggikan derajat Arka.


"Terserah sih.."


(Dulu aku sering liat dia main piano. Memang sih, skil bermain piano Arka itu luar biasa)


"Ih jahat. Cariin Arka dong, Arka udah lama hilang"


"Ya kaga lah, maksudnya kan tadi aku adain perkumpulan club yang di mana semua wajib datang. Terus tuh anak juga datang deh. Dan di tengah-tengah itu, tiba-tiba ia izin pergi kamar mandi. Tapi udah berjam-jam Arka belum balik-balik" ucap Fanny khawatir.


"Kalau terjadi apa-apa. Pasti aku yang di salahin" lanjutnya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak cari sendiri. Kenapa suruh aku?" Jujur Rumi agak enggan jika di suruh mencari Arka. Mengingat perkataan Arka kemarin. Terlanjur membekas di hati Rumi. Jadi kenapa ia harus mencari lelaki itu sekarang?


"Kau kira aku tak ada kerjaan? Aku harus mengajar anak-anak club ku bermain musik" Rumi berpaling dari Fanny dan menatap puluhan anggota club musik yang sedari tadi ternyata menatap mereka berdua yang sedang mengobrol.


(Susah juga yah jadi ketua club ) batin Rumi. Terlintas rasa kagum pada Fanny karena mampu membimbing orang sebanyak itu.


Pada akhirnya ia memutuskan menyuluhkan bantuan kepada Fanny "Iya deh iya"


"Makasih Rumi sayanggkuuu"


"Dih najis"


***

__ADS_1


Ia berjalan sekeliling sekolah setelah keluar dari gedung club. Keberadaan Arka yang dari tadi sudah ia cari-cari belum juga terdeteksi hingga sekarang. Entah berada di mana sekarang cowok itu.


"Nyusahin banget sih tuh anak ah. Di gedung utama gak ada, aula gak ada lapangan gak ada. Dia kabur kemana sebenernya" keluh Rumi. Merasa lelah berkeliling satu sekolah. Ia menghabiskan satu jam berkeliling sekolah.


__ADS_2