Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 30 - Ancaman


__ADS_3

Ia lalu bangun menyandarkan tubuhnya di kursi dengan mata masih tertuju pada perempuan berambut merah muda itu, lalu Rumi tersenyum padanya. Melihat respon positif yang seperti menerima sapaannya. Cyara langsung duduk tanpa izin di kursi kosong sebelah Rumi. Lebih tepatnya kursi Elina.


"Kau pergi kemana sampai gak masuk sekolah?" Tanya Cyara dengan senyuman manis di sudut-sudut bibirnya.


"Aku menemani Elina di rumah sakit".


Alisnya melengkung membentuk ekspresi sedih "Ah, benar. Elina masuk rumah sakit yah?. Aku turut bersedih" Cyara menyeka air matanya yang tak keluar.


Rumi menatap dingin perempuan berambut gelombang yang sangat pintar berakting itu. Di hadapan semua orang ia berpura-pura perhatian. Padahal dialah dalang dibalik semua ini


"Kalau kau sedih. Mengapa tak menjenguknya juga?"


"Aku sibuk akhir-akhir ini. Jadi tak sempat menjenguk, maaf ya. Jujur saja, aku khawatir terhadap Elina. Dia kan teman kita semua" masih sibuk menyeka air mata yang masih belum kunjung keluar.


Tangannya berhenti menyeka. Ekspresi sedihnya berubah menjadi mencekam sambil menatap kearah Rumi "Apakah Elina bercerita tentang kejadian yang menimpanya pada hari itu?" dengan mata melotot seperti mengancam.


Ia menggertakkan giginya (Ingin ku congkel matanya. Beraninya menatapku seperti itu).

__ADS_1


Rumi menenangkan dirinya. Kemudian membalas dengan senyum. Tapi karena kekesalan yang belum reda, senyuman yang di lontarkan nampak tak tulus "Sayangnya, ia masih trauma dan tak mau bercerita padaku" dalihnya.


Cyara menatap Rumi dengan raut kosong, tak percaya dengan ucapannya. Tak lama sudut bibirnya muncul "Begitu yah. Sayang sekali, padahal aku mau mendengar siapa pelakunya".


Matanya menatap datar Cyara (Hah, manusia munafik ini betul-betul ingin ku robek mulutnya).


"Saat jam istirahat, apakah kau bisa menemui ku di Rooftop?. Aku ingin menyampaikan sesuatu" Ia berdiri dari kursi


"Tentu" satu alisnya terangkat dengan senyuman menantang tertuju pada Cyara.


***


Suara ketukan pintu


"Masuk" ucap Aiden yang sedang duduk di kursi sembari mengerjakan gunungan dokumen.


Ceklek

__ADS_1


Pintu terbuka dengan izin Aiden. Dan terlihatlah Rumi masuk ke kantor Aiden. Melihat kehadiran Rumi yang tak di undang. Pria itu menghentikan kerjaannya dan meneliti perempuan itu.


"Tumben datang tanpa di panggil. Ada apa?" Senyum tipis ciri khasnya keluar.


Rumi berdiri di dekat meja Aiden "Ada yang ingin saya sampaikan. Bapak punya waktu?" Berpikir Aiden sedang sibuk melihat dokumen yang belum di olah.


"Saya selalu punya waktu, katakan saja. Oh ya, kalau berbicara dengan saya jangan formal, santai saja" ucap Aiden mengingat kalau Rumi pernah menginap di rumahnya. Jadi seharusnya hubungan mereka bisa dikatakan cukup dekat kan?


Ia menghela nafas "Oke-oke. Pak, kalau semisal nanti saya membuat masalah di sekolah. Tolong lindungi saya" pintanya.


Aiden memiringkan kepalanya. Tak mengerti maksudnya "Setiap pelanggaran akan selalu mendapat hukuman. Memangnya kau mau membuat masalah?"


"Iya, soalnya aku mau menghajar seseorang" ucap Rumi tanpa memikirkan konsekuensi.


Aiden yang sedang menengok kecil dokumennya langsung terkinjat mendengar ucapan perempuan tujuh belas tahun itu. Memangnya ada seseorang yang mau menghajar orang lain tapi memberitahu dulu kepada gurunya?


"Kau mau menghajar siapa!? Jangan bertindak gegabah. Beritahu saya, siapa yang mengusikmu. Biar saya yang menghukumnya"

__ADS_1


"Gak, aku tetap mau menghajar. Jadi bapak gak usah halang-halangi. Bapak tinggal membantu saya agar nanti tak dihukum setelah membuat masalah ini" setelah mengatakan itu, Rumi pergi meninggalkan ruang Aiden. Tidak sempat mencegat Rumi untuk memperhitungkan aksinya


__ADS_2