Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 18 Liam Giandra


__ADS_3

"Mana ku tahu. Aku kan bukan peramal. Lagi pula ini cuman kebetulan" ujar Rumi berpaling.


(Dia atlet kah?, badannya tinggi juga) Rumi sampai tak habis pikir cowok sekekar ini adalah orang yang sama pada malam itu sempat ia bantu.


"Iya yah. Apakah ini kebetulan, kau kebetulan menolong ku di malam itu. Kita kebetulan bertemu lagi dan ternyata satu sekolah. Kau kebetulan adalah murid penerima beasiswa di sekolah ku sekaligus menjadi adek kelas ku. Aku kebetulan adalah kakak kelas di sekolah mu. Jadi ini yang di sebut KEBETULAN?" Ucap si cowok dengan menekan kata 'Kebetulan' di akhir kalimat. Rumi hanya terdiam seperti kemakan omongan sendiri. Tentu saja ini bukan kebetulan, mana ada kebetulan yang pas seperti ini. Mungkin kah ini takdir?.


"Nama ku Liam Giandra. Panggil saja Liam". Senyumnya.


"Rumi" Balas Rumi dengan agak malas.


"Aku sudah tahu, kau kan sangat terkenal di sekolah".


"Iya ya".


Rumi yang sudah bosan dengan percakapan klise ini memilih berbalik badan dan pergi. Ia hampir lupa dengan tujuan utama nya yaitu mencari Elina. Tapi Liam nampaknya masih mengikutinya. Ia awalnya mengwajarkan itu karena berpikir Liam memang sedang menyusuri jalan yang sama dengannya. Tapi dugaannya meleset jauh, cowok itu sudah jelas membuntutinya kemanapun ia pergi.

__ADS_1


Rumi berbalik badan, melihat masih ada sosok lelaki kekar itu yang jaraknya satu setengah meter darinya "Bisa nggak, gak usah ngikutin. Biar apasih kek gitu" ia marah, wajar. Karena kalau Liam sadar, sebenarnya Rumi sengaja hanya berjalan berputar-putar di lorong yang sama selama lima kali. Harap Liam terkecoh dan tak akan lagi mengikutinya. Tapi untuk kedua kalinya dugaannya meleset lagi.


"Kau mau ngomong apa lagi?. Bilang!, Gak usah rese jadi orang" tangannya menyilang, menatap dengan jengkel.


Liam berjalan mendekati Rumi dan tangannya meraih handphone berwarna putih dari saku kantong sekolahnya lalu tiba-tiba menyerahkannya pada Rumi "Minta nomor" senyumnya tanpa dosa.


Ctass


Terdengarlah suara tali kesabaran Rumi yang putus.


"Nanti ya, sekarang aku sibuk" ia tersenyum simpul. Saking kesalnya ia tak sanggup untuk memaki lagi.


"Nanti kapan?" Cowok itu ingin kepastian.


"Kalau aku gak sibuk" ia langsung melengos pergi, bodo amat dengan tangan cowok itu yang masih memegang ujung handphone-nya untuk meminta nomor.

__ADS_1


Ia pergi ke toilet, yang menjadi tujuan akhir ekspedisinya mencari Elina. Kebetulan tempat yang belum Rumi periksa adalah toilet perempuan."Apa kau akan ikut masuk?" Ucapnya sambil menyunggingkan senyum, tangannya memegang gagang pintu toilet. Berpikir Liam akan mengikutinya masuk sampai ke toilet perempuan.


Liam menggeleng "Aku akan menunggu mu" ia tersenyum lagi.


"Untuk meminta nomor ku?"


Cowok itu mengangguk "Setelah ini kau tidak sibukkan?" Ia menempelkan punggungnya di tembok samping pintu toilet


"Mungkin?" Dia menatap aneh cowok itu. Sampai sebegitu nya ia pengen nomor teleponnya?.


Ia masuk, tampak toilet di dominasi cat putih itu kosong melompong. Tak ada kegiatan di dalamnya membuat ruangan ini terasa hening. Rumi melirik bilik toilet paling ujung, dan menuju ke sana. Ia memegang gagang pintu toilet yang nampaknya tak terkunci. Entah mengapa, feeling Rumi sangat kuat mengatakan Elina ada di sana


Krett.


Suara pintu toilet terbuka.

__ADS_1


__ADS_2