
Di tengah kebingungan itu. Terdengar derap langkah yang semakin dekat ke arahnya. Ia menyingkirkan tangan yang menimpa wajahnya. Mata kantuknya terpaksa di buka. Samar-samar ia melihat seorang pria berdiri di depannya. Yang memakai baju kantoran (Apa?!. Baju kantoran?) Ia langsung melek dengan kesadaran diri seratus persen.
"Ada apa pak?" Dia langsung sigap berdiri saat tahu pria di depannya adalah orang yang paling harus ia hormati. Sekaligus orang paling dihindarinya.
Aiden menatap Rumi dari kaki sampai kepala. Layaknya orang mengintrogasi. Rumi mengernyitkan dahi. Ia selalu merasa tak nyaman jika di tatap seperti itu. Saat ini Rumi dalam keadaan sangat lusuh, dan datang-datang Aiden menatapnya seperti itu.
"Pak?" Tanya Rumi lagi.
Tatapan mata itu beralih ke pipi Rumi yang kemerahan. Sepertinya ia sadar pipi Rumi bengkak. Tanpa menjawab sapaan dari muridnya, ia langsung pergi. Tanpa ngomong apa-apa. Langsung melengos pergi.
Wajah Rumi berubah sekusut penampilannya "๐๐ฉ๐ข๐ต ๐ต๐ฉ๐ฆ?, dia kenapa sih. Datang ke sini hanya untuk melihatku dari kaki sampai kepala lalu pergi?. Gaje ihh" ia membanting tubuhnya di kursi hingga mengeluarkan bunyi riuh "Minimal tanyain Elina kek" ucapnya terdengar dongkol. Ia kembali memejamkan mata malas berlarut dalam kekesalan nya pada Aiden. Sekarang rasa kantuk itu tak dapat di tahannya.
__ADS_1
***
"Rumi, bangun".
Dari indra pendengarannya, ia mendengar suara seseorang memanggilnya. Entah sedang berhalusinasi atau mimpi, suara itu terdengar sangat jelas.
"Bangun, ada makanan untukmu".
"Jas saya" sahutan muncul di sebelahnya.
Ia menoleh ke sebelah "AHH, PAK AIDEN" ia kembali berteriak seperti melihat setan.
__ADS_1
Aiden mengerutkan kening "Apa hobimu memang suka berteriak seperti ini?" Ia duduk di kursi kosong samping Rumi. Otomatis telinganya kena imbas dari hobi baru murid didiknya.
Mata mereka saling bertemu. Menyadari kesalahannya ia meminta maaf "Maaf pak, saya kaget" Rumi berpaling dan memundurkan sedikit posisi duduknya saat mengetahui jarak mereka terlalu dekat.
Matanya mengerjap-erjap (Kok pak Aiden tiba-tiba ada di sini cok!!) Ia melirik jas abu-abu tadi yang kembali merosot ke pahanya (Jangan bilang jas ini, milik pak Aiden).
"Iya, itu jas saya. Walaupun baju sekolah mu berlengan dan berok panjang, tapi saya lihat kamu tetap kedinginan tadi" seperti bisa membaca pikiran. Ia menebak dengan tepat pikiran Rumi.
Rumi membuka matanya lebar-lebar (Haaaa. Dodol!, tadi pas tidur aku ileran gak yah. Kalau ileran sumpah bikin malu asli) ia dengan cepat mengembalikan jas Aiden. Tak lupa dengan mengucapkan terimakasih.
"Lapar kah?" Tanya Aiden mengalihkan topik, sambil meraih kantong makanan yang ada di kursi kosong sampingnya " Makan itu, saya tahu kamu lapar" kantong itu ia taruh di samping Rumi.
__ADS_1
Ia menatap Rumi yang hanya diam tak menyentuh makanan. Cuman melirik-melirik Aiden sambil mengerutkan alisnya "Saya sudah belikan makanan loh. Apa perlu saya suapi kamu lagi?" Aiden menyunggingkan senyum, kaki dan tangannya menyilang sambil menatap Rumi.