Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 29 - Rasa Sakit


__ADS_3

Dengan mata yang sayu tanpa ekspresi, Elina berbicara pelan seperti bergumam "Aku juga ingin melewan, aku ingin balas dendam, aku ingin membalas".


Elina menggigit bibir bawahnya yang tak basah. Ekspresi marah bercampur sedih terpaut di wajahnya "Tapi jika aku mengatakan semua kebenarannya, memang siapa yang akan percaya?".


Suara yang awalnya pelan menjadi lebih tinggi "Siapa yang akan berpihak padaku? Tidak akan ada!!" suaranya terdengar seperti orang putus asa.


Elina turun dari ranjang rumah sakit, berjalan pincang mendekati Rumi lalu mencengkram erat tangan kanan perempuan bergaun orange itu dengan kedua tangannya. Kesedihan semakin menjadi-jadi ketika Elina mendekati Rumi.


"Iya, kau benar, aku ini bodoh. Aku tak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa diam sambil di injak-injak. Itu semua karena aku tak memiliki kekuatan untuk menghadapi semuanya" suaranya bergetar dengan pelupuk berlinang air mata. Rasanya, sebentar lagi perempuan itu akan menumpahkan semua air matanya


Rumi membatu melihat keputusasaan yang terus merangkak naik dari diri temannya itu. Satu hal yang ia lupa. Sekalipun di sini Elina adalah korban. Tapi tidak semua orang akan mempercayai ceritanya. Di sisi lain, rasa takut membuat Elina harus terhantam mundur untuk masalah ini. Untuk tak memperbesar kasus ini, ia lebih memilih merelakan saja.

__ADS_1


Rumi mengulurkan tangannya di atas pundak Elina "Maaf, sekarang aku mengerti semuanya. Maaf karena tak tahu penderitaan mu".


Satu kalimat itu mampu memecah tangis yang ditahan Elina selamat ini. Ia memeluk erak Rumi. Suara histeris kesedihan membuncah memenuhi seluruh ruangan. Rumi awalnya cukup kebingungan untuk menghadapi seseorang yang sedang menangis. Akhirnya ia hanya mengelus punggung Elina.


"Jangan khawatir. Aku akan menghajar binat*ng-binat*ng itu" itulah kalimat penenang terbaik Rumi. Rasa empati membuatnya tergerak ingin melakukan itu.


Selama ini ia hanya berpura-pura kuat dengan sifat dewasanya di depan semua orang agak tak terlihat lemah. Dan selama itu juga ia berdiri sendiri tanpa adanya sandaran di sampingnya. Berkat kehadiran Rumi, ia jadi bisa merasakan bersandar pada seseorang untuk pertama kalinya.


Setelah dirasa Elina sudah sedikit lebih tenang. Rumi mulai berbicara lagi "Jangan khawatir dan jangan mengotori tanganmu untuk menyiksa mereka. Aku yang akan menggantikanmu untuk melakukannya".


Seringai mulai nampak di wajahnya. Rumi memiliki rencana yang bahkan takkan bisa di tebak.

__ADS_1


***


"Rumi, kau dari mana. Mengapa izin berhari-hari"


"Iya, ada apa"


Ia langsung di hujami pertanyaan-pertanyaan oleh teman sekelasnya setibanya ia di ambang pintu kelas. Belum sempat masuk ruang kelas sudah di hadang.


"Minggir, kalian menghalangi jalan" celetuk nya.


Melihat Rumi yang tak membalas, segerombolan orang perlahan-lahan membukakan jalan tanpa bertanya lagi. Ia pun jalan ke tempat duduknya, belum sempat sampai. Tangannya membuang tas hitam miliknya ke atas mejanya. Lalu mendekati kursinya untuk duduk dan membenamkan seluruh wajahnya dengan kedua tangan di atas tas yang di lempar tadi.

__ADS_1


Teman sekelasnya tak berani mendekati Rumi yang kelihatan sedang badmood. Lalu berselang beberapa detik saja. Derap langkah nampak berhenti di samping mejanya. Dengan posisi masih melelepkan kepalanya. Matanya mengintip dari celah-celah tangan. Melihat siapa yang mengusiknya.


"Halo Rumi" sapa Cyara yang di belakangnya sudah bersama teman-temannya.


__ADS_2