
Venya berdecak kesal "Kau tuli kah? Mengapa kau tak menjawab pertanyaan. Apa kau tahu, aku merindukanmu loh. Kau tak rindu padaku kah?" Tanya Venya sekali lagi dengan seringai ngeri.
Elina lagi dan lagi hanya diam. Jujur saja ia bingung harus menjawab apa. Venya dulunya adalah teman Elina semasa SMP. Mereka sangat akrab sampai-sampai membuat Elina merasakan figur seorang sahabat untuk pertama kalinya. Tapi karena suatu kesalahpahaman. Hubungan mereka merenggang. Hari demi hari dua sahabat itu jadi semakin asing seperti seseorang yang tak saling kenal. Venya yang awalnya adalah siswi teladan dan seseorang yang sangat berprestasi. Berubah menjadi anak nakal sebab ia bergabung di geng para pembully. Dan parahnya, perempuan itu malah sering sekali memfitnah dan ikut membully Elina.
(Apa dia tak merasa bersalah atas tindakannya dulu padaku? Apa dia tak tahu seberapa menderitanya aku karena fitnahnya) Elina menoleh ke arah Venya dengan mata penuh kekesalan.
"Matamu kenapa menatap ku seperti itu sial*n? Mau ku congkel kan? Jangan membuatku kesal dan jawab pertanyaan ku jal*ng!" ancamnya.
Elina meneguk air ludahnya mendengar ancaman itu "Aku tak rindu padamu"
Alisnya mengerut "Apa?"
__ADS_1
Wajah tertekan kini luruh di gantikan oleh amarah "Kau tak dengar? Aku bilang aku tak rindu pada anak berandalan seperti mu!!" Ucap Elina dengan nada tinggi tapi suaranya tak menarik perhatian orang-orang di sekitar Mall. Memberanikan diri membantah untuk pertama kalinya.
(Aku bukan lagi anak SMP yang hanya diam jika di tindas! Aku akan melawannya) batin Elina yang kuat akan keyakinannya melawan Venya.
Venya menunjukkan ekspresi kaget sekaligus kagum "Wah, kau sudah berani melawan ku ya. Bagus, bagus" ia bertepuk tangan. Memberikan apresiasi kepada keberanian Elina.
(Hah? Ku kira dia akan marah besar)
"Setidaknya kau sudah ada kemajuan" Kuku tangan panjang nan runcing yang di hiasi pernak-pernik itu menyentuh sekali lagi bahu Elina "Dari yang menyedihkan, menjadi lebih menyedihkan lagi" ucapnya di barengi senyuman mengerikan. Seketika saja bulu kuduknya berdiri menyaksikan senyuman psikopat perempuan itu.
Venya mendekat ke arah telinga Elina " Sstttt, jangan berisik. Kau mau menarik perhatian orang-orang di sini kan?"
__ADS_1
Elina memegang pergelangan tangannya dan mencabut kuku itu yang lumayan menembus pembuluh darahnya. Dan melempar tangan Venya dengan sembrono "Dasar perempuan gila..." ucap Elina dengan raut kesakitan di padukan kekesalan. Memegang bahunya yang nyut-nyutan tak henti meneteskan darah.
Bukan merasa bersalah, Venya malah tersenyum puas dapat melukai Elina.
Ia melirik sekeliling (Semoga orang-orang tak sadar dengan yang terjadi padaku, aku tak ingin membuat masalah dengan orang ini lebih jauh lagi)
Ia mengambil pandangan ke Venya "Sudah puas melukaiku? Aku akan pergi sekarang" kakinya mengambil langkah sembari terus menutupi luka di bahunya menggunakan tangan.
Tiba-tiba saja, Venya membentang lurus tangannya saat Elina ingin lewat. Berusaha menghadang. Tak ada jalan, Elina pun menghentikan langkahnya "Cepat sekali pengen perginya, padahal kita belum berbincang-bincang"
"Tidak ada yang mau berbincang denganmu" tegas Elina menatap tajam Venya. Jika membayangkan mereka berbincang-bincang saja, sudah membuatnya mual.
__ADS_1
Venya menghela nafas "Jahat banget, padahal dulu kau bahkan tak berani menatapku saat aku mengajakmu berbicara. Kau selalu menundukkan kepalamu seperti seekor anjing" ia lagi-lagi tersenyum ngeri.
"Ayolah, sudah lama kita tak bertemu. Kau pasti tak memiliki teman di sekolah kan?" Senyuman psikopatnya melunak "Sudah ku bilang kan, hanya aku yang mau menjadi teman bagi pecundang seperti mu. Kau malah menyia-nyiakan diriku haha" Venya berpikir, hanya dialah satu-satunya yang menjadi figur teman di hidup Elina.