
(Lukisan aneh) batin Rumi saat melihat Gambar suram yang makin lama makin bosan dilihat.
"Bukankah itu lukisan yang buruk" suara berat muncul di tengah-tengah ia menatap lukisan itu. Seperti tahu apa yang di pikirkan Rumi.
Rumi berbalik, melihat Aiden tersenyum padanya. "Saya tidak tahu" ungkap Rumi. Jujur saja lukisan itu seburuk yang di katakan Aiden, tapi kan tidak mungkin dia mengiyakan perkataan pria itu.
Ia dapat dengan jelas melihat wajah pria itu. Pupil hitam legam yang sangat suram. Alis tebal serta hidung mancung di sempurnakan oleh kulit putih pucat miliknya. Wajah yang masih terlihat muda membuatnya sangat terkenal di kalangan para murid perempuan.
Aiden menatap lukisan lusuh itu lagi "Lukisan itu tak begitu bagus. Tapi aku tak bisa membuangnya".
"Anda pasti memiliki alasan tersendiri" ujar Rumi. Aiden tak menjawab, hanya tersenyum. Entah apa maksud dari senyumannya..
"Apa kau tahu mengapa saya memanggil mu kesini" tanya Aiden.
"Saya tidak tahu". Ketus Rumi.
__ADS_1
"Rumi Taleetha Greesa. Anak dari Evander Gressa" Ucap Aiden mendadak membahas silsilah keluarganya "Seorang atlet judo nasional terkemuka yang namanya telah tenggelam. Haha, padahal ayahmu sudah banyak berkorban menjadi atlet, tapi negara bahkan tak memberinya penghargaan" Aiden tertawa kecil.
Perempuan berponi tipis itu mengernyitkan wajah "Apa anda sedang menghina ayah saya?" Ucapnya tak suka, Rumi paling sensi jika membahas mengenai keluarga.
Pria berwajah Asia itu menggeleng "Sepertinya ayahmu menurunkan keahliannya kepada putri satu-satunya. Hingga kau menjadi atlet termuda yang memenangkan pertandingan keduniaan judo di Jepang bulan lalu".
Ekspresinya kembali normal "Itu bukan apa-apa".
"Kau sangat rendah hati tidak seperti dugaan ku".
Aiden tersenyum lagi "Karena beberapa pencapaian mu yang sungguh luar biasa, Kepala Sekolah kami memintaku memberi beasiswa kepadamu. Selamat, kau telah mendapat beasiswa Onestar".
Apakah Rumi terkejut?, tentu tidak. Jangankan terkejut, ia sebenarnya sudah tahu. Dia ditawarkan langsung oleh kepala sekolahnya. Rumi awalnya enggan menerima beasiswa itu di karenakan ia tak mau sekolah, dia tak memiliki niatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan SMA. Tapi ujung-ujungnya dia menerima tawaran itu.
Dengan sedikit senyuman di wajah ia membalas ucapan selamat Aiden "Iya, terimakasih pak".
__ADS_1
Dengan respon yang terkesan biasa saja dari Rumi membuat Aiden bingung melanjutkan topik. Suasana canggung membuat pria kantoran itu kembali berbicara "Maaf jika di lapangan tadi saya tak sempat mengumumkannya".
"Tidak apa-apa pak. Kalau bisa, maukah anda merahasiakan kalau saya yang mendapat beasiswa untuk kedepannya?" Pintanya. Rumi takut ia akan menjadi objek iri, kagum, serta benci dari penduduk sekolah.
"Baiklah, jika itu yang kau mau".
"Terimakasih, pak".
Ruangan Aiden kembali kosong, Rumi telah kembali ke kelasnya. Aiden memasang wajah dingin seperti sediakala adanya. "Aku tersenyum terlalu banyak" ia memegang ujung bibirnya yang terasa kaku.
Menatap pintu yang baru saja Rumi pakai untuk keluar ruangan "Hehe. Menarik" Ia menyipitkan mata, seraya menyeringai.
***
"Untungnya, aku ini pintar menghafal jalan. Jadi aku tidak harus tersesat" Rumi berjalan bertolak ke kelasnya. Ia merasa ada kejanggalan di sini, mengapa koridor terasa begitu sepi?. Ia belum mendengar bel masuk sejak tadi, jadi apa alasan ruangan-ruangan dan lorong sekolah sangat sunyi?.
__ADS_1