Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 22 Salep


__ADS_3

Mendengar gertak kan itu, Rumi cepat langsung mengambil makanan itu dan membuka pembungkusnya. Ia cuman heran saja, mengapa sekarang ada Aiden di sebelahnya. Bukannya tadi Aiden sudah pergi?. Tapi bukan itu yang harus dipikirkannya. Sekarang dia kelaparan.


Aiden memperhatikan Rumi makan dengan lahap. Dengan kesadaran penuh ia mengulurkan jari-jemarinya ke pipi Rumi, di area bekas tamparan "Kenapa kau menyakiti dirimu" dengan lembut mengelus pipi itu yang terlihat mengembang karena makanan.


Rumi bergeming dengan mulut sedikit menganga matanya tertoleh ke Aiden. Makanan yang terburu-buru ia masukkan di dalam mulut belum sempat di kunyah nya. Kenapa Aiden bisa tahu, bahwa Rumi menyakiti dirinya sendiri. Lalu, mengapa Aiden menyentuh pipi Rumi dengan lembut?.


Aiden yang melihat itu mengernyitkan dahi lagi. "Kunyah dulu makanan mu".


Dirinya terperanjat, lalu kembali fokus pada makanannya. Aiden menghela nafas lewat hidung. Tangannya terlihat mengotak-atik sesuatu di saku celana yang warnanya selaraskan dengan warna jasnya Ketika selalu mengotak-atik, ia mengeluarkan salep di sana. Kemudian membuka salep yang tersegel itu dan mencuilnya dengan jari telunjuk. Obat yang tertempel di jarinya langsung di ratakan sekitar pipi Rumi yang bengkak.


"Apa yang anda lakukan pak?" Rumi menghentikan suapan terakhirnya sebelum masuk ke mulut, melirik dari sudut matanya ke samping Aiden. Merasakan sesuatu bergerak kesana-kemari di pipinya.

__ADS_1


"Ssttt. Ini salep" ia terlihat fokus melanjutkan pengobatan Rumi.


Perempuan itu diam, paham kalau Aiden mencoba mengobatinya. Ia memakan suapan terakhir makanannya yang di kunyah perlahan-lahan. Mereka saling diam sesaat. Rumi memiliki teori, apakah tadi Aiden pergi saat melihatnya untuk membelikannya salep serta makanan?. Ia ingin membenarkan teori liarnya, tapi cepat menepis pikiran positifnya mengenai Aiden. Mana mungkin seseorang mau repot-repot melakukan itu untuk dirinya.


"Sudah" gumam Aiden. Menutup kembali penutup salep.


"Terimakasih pak"


"Ya. Kau sudah selesai makan?" Aiden melirik sisa bungkusan makanan yang habis melompong masih ada di tangan Rumi


"Saya tak tahu, belum ada laporan mengenai keadaan Elina sampai sekarang" Rumi melirik ke luar jendela rumah sakit, jam demi jam ia lewati tak terasa waktu menunjukkan hampir tengah malam.

__ADS_1


"Baiklah" ia pergi dari hadapan Rumi dan menghilang di antara lorong-lorong rumah sakit.


Ia memicing "Hais, pak Aiden itu kadang tak bisa ku pahami" ia mulai terbiasa dengan sikap Aiden yang suka melengos pergi. Tapi kebaikan Aiden hari ini tentu tak akan ia lupakan.


***


"Ayo pergi" Aiden akhirnya kembali setelah dua puluh menit berlalu. Tiba-tiba saja mengajaknya pergi entah mau kemana.


Rumi yang sedang duduk bersila di kursi besinya di kejutkan dengan pernyataan Aiden "Ha?, Pergi kemana maksudnya?".


Mata Aiden menyipit "Turunkan kaki mu, tak sopan" melihat Rumi seperti seorang petapa.

__ADS_1


Mulutnya berdecak, Ia nurut. Kakinya pun sudah menapak di ubin putih rumah sakit "Pergi kemana pak?".


"Asrama. Kamu ngantuk kan?" Ucap Aiden menengok jam tangannya. Aiden ini bagaikan peramal, ia selalu tahu apa yang di inginkan Rumi "Aku akan mengantar mu" Aiden berjalan di ekori Rumi. Tentu dia tak akan menolak ajakan Aiden. Anggap saja ini rezeki nomplok. Ia melihat tak ada orang selain mereka berdua kecuali para suster yang beberapa kali di lihatnya.


__ADS_2