
"Ar-"
"Aku mau ke kantin. Ada yang bisa mengantarku?" Ucapan Rumi sengaja di potong. Arka beranjak dari tempat duduknya, melintasi Rumi yang terperangah karena di abaikan olehnya.
(Dia mengabaikan ku?) Batin Rumi.
"Hey" Rumi menoleh ke belakang. Berharap masih ada Arka di sana. Tapi ia salah, Arka dan semua murid-murid yang lain sudah pergi keluar kelas.
Rahangnya bergetar. Sedang menahan emosi. Rumi mengambil kursi besi di dekatnya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara dengan kedua tangan "ARKAAA, DASAR KAU BAJING*N TENGIK" siap melayangkan bebas kursi itu. Seperti biasa, Rumi tak pandai mengatur emosinya.
"Rumi! Apa yang kau lakukan!" Elina sigap memeluk pinggang Rumi. Menahan aksinya.
"Bisa-bisanya mengabaikan ku setelah sekian lama kita bertemu!"
"Sabar, pasti dia tak ingin seperti itu. Dia pasti punya alasan"
"Bacot, aku benar-benar ingin menghajarnya sekarang. Lepaskan aku, aku akan pergi memukulinya hingga ia pingsan"
__ADS_1
"Rumi, ingat kata wakil kepala sekolah. Kau tak boleh menggunakan kekerasan!!"
"Terus? Apa peduli ku?"
"Kau mau di skors?" Rumi terdiam sejenak. Memikirkan ulang kata-kata Elina.Tentu saja jika ia melakukan kekerasan tanpa alasan, itu hanya akan berujung dirinya yang diskors sekolah.
Ia mendengus panjang "Cih" Menurunkan kursi tadi ke tempat asalnya. Dirasa sudah aman, Elina melepaskan tangannya yang menjerat pinggang Rumi.
Elina tersenyum lega karena Rumi mau menuruti kata-katanya "Mengapa kau marah begitu? Karena Arka kah? Memangnya apa hubunganmu dengannya?" Tanya Elina penasaran. Baru kali ini melihat Rumi marah hanya karena di abaikan oleh seseorang.
"Hais, dia temanku saat masih SMP" Rumi menduduki kursi yang hampir di lemparnya tadi "Lebih tepatnya, kami seperti sahabat sih" ucapannya membuat Elina mengangguk paham.
"Oh, jadi kalian pernah ketemu pas SMP? Lalu mengapa kalian harus berpisah, kan kalian sahabat?" Elina ikut nongkrong di kursi seberang tempat Rumi duduk
Mulutnya terkatup. Lalu ia berpaling ke samping, wajah datar bercampur sedikit kekecewaan terpaut di parasnya. Dengan intonasi rendah ia berkata "Karena aku yang meninggalkannya"
Kekagetan bersinar di mata Elina. Pertama kalinya melihat ekspresi itu di wajah Rumi. Hari ini ia dua kali di buat heran dengan tingkah Rumi yang tak biasa. Sudah jelas penyebab utamanya adalah kemunculan Arka.
__ADS_1
"Hah, serius?"
"Ya iyalah, yakali becanda"
"Kenapa kau meninggalnya? Pantesan tadi dia mengabaikan mu. Dia marah kayaknya"
"Yah. Intinya aku punya alasan. Udah deh, kau pergi aja ke kantin beli makanan" Rumi merogoh saku baju putihnya lalu mengeluarkan dua lembar kertas merah "Nih uang, sisanya buat mu aja".
Elina mengambil uang bernilai seratus ribu rupiah itu "Gapapa nih?"
"Hmm, udah sana. Kelamaan"
"Oke makasih"
Elina berdiri dan pergi meninggalkannya Rumi sendirian di kelas
"Arka.." gumamnya yang ternyata masih memikirkan murid baru di kelasnya itu. Rumi beranjak dari tempat duduknya, berjalan lalu menghilang di balik pintu kelas.
__ADS_1
***
Elina berjalan di lorong sekolah menuju kantin. Saat ia melangkahkan kaki nya, beberapa bola mata mengikutinya dengan tatapan tajam. Entah apa yang terjadi di sekolah selama ia menginap di rumah sakit hingga ia mendapat perhatian seperti ini.