Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 44 Kesedihan Liam (2)


__ADS_3

Senyuman lebar muncul di bibir merah muda perempuan itu "Nah, begini kan bagus. Aku jadi bisa melihat lebih dekat wajahmu" ucapnya dengan mata setengah menyipit, masih memegang kedua tangan Liam. Sebenernya ia cuman ingin melihat wajah malu Liam. Karena menurutnya ekspresi malu cowok itu lucu.


Mata Liam masih terbelalak melihat Rumi yang berada sangat dekat dengan dirinya. Ia tak dapat bergerak seakan tak dapat mengendalikan tubuhnya dengan baik karena perempuan itu. Dengan jelas dapat melihat iris mata hijau muda gadis itu yang nampak bercahaya di bawah sinar matahari. Di tambah senyumannya. Sangat jarang melihat Rumi tersenyum seperti itu.


"Cantik.." lirihnya dengan suara hampir tak dapat terdengar. Tanpa sadar kata itu yang malah keluar dari mulutnya.


"Hm? Kau ngomong apa?" Alisnya terangkat. Tak mendengar apa yang di katakan oleh Liam. Lalu melepas tangannya yang memegang lengan Liam. Meregangkan jarak diantara mereka.


"Kedepannya, jangan malu-malu denganku. Aku ini baik kok, aku tidak akan menertawakan mu lagi. Mungkin... Aku gak janji loh" ucap Rumi dengan seringai.


Liam tak merespon. Cuman bengong menatapnya dengan mulut sedikit menganga. Tenggelam dalam pikirannya sendiri yang dipenuhi oleh Rumi. Tindakan Rumi tadi seakan menyihir Liam.


(Anak ini kenapa sih? Stress kah?) batin Rumi.

__ADS_1


"WOI!" Teriaknya


Teriakan itu saking besarnya membuat lamunan Liam buyar seketika "Ahh, iya iya" ucapnya cuman mengiyakan. Padahal sebenernya ia tak tahu apa yang di bicara Rumi.


Ia menatap Liam aneh (sudah kuduga. Liam juga tak beres. Semua orang yang kutemui tak ada yang normal)


"Lupakan, aku ingin bertanya. Kau tadi menangis karena kucingmu yang bernama lollipop kan?"


Mata cowok itu berubah sayu. Bukan lagi ekspresi malu yang ia tunjukan "Iya, dia adalah hewan peliharaan yang kurawat dari bayi. Dulu, saat aku masih duduk di kelas 5 SD. Aku menemukan anak kucing di dalam selokan..."


"Y-ya, tapi ceritanya tak sesingkat dan sesederhana itu"


"Iya kah, baiklah. Lanjutkan"

__ADS_1


Liam menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Sebenernya, saat aku berniat merawat Lollipop. Orangtuaku melarang ku untuk tak memeliharanya. Tapi aku tetap ngotot, dan akhirnya aku di izinkan untuk memelihara kucing itu. Tapi dengan satu syarat, aku harus tekun belajar dan mengikuti jejak ayahku sebagai seorang atlet boxing"


"Hah, kau atlet boxing? Kok aku baru tahu"


(Pantesan badannya keliatan atletis banget. Ternyata seorang atlet juga tohh)


"Yah, aku memang seorang atlet udah dari lama. Mungkin kau yang baru tahu. Awalnya aku menjadi atle-"


"Iya-iya, lanjutkan cerita kucingmu. Kenapa tiba-tiba langsung ke atlet" tidak tertarik dengan asal mula dia menjadi atlet. Hanya tertarik dengan cerita Lollipop.


Liam mengangguk "Aku menyetujui syarat orangtuaku. Sejak saat itu aku merawat Lollipop. Kami melewati banyak hal. Sedih, senang, dan bahkan saat aku berhasil menjadi seorang atlet. Lollipop juga tetap setia berada di sampingku. Kami memiliki banyak kenangan. Meskipun dia hanya seekor kucing, tapi dia sangat berharga bagiku"


"Oke-oke"

__ADS_1


(Tak kusangka. Cowok seperti dia ternyata pecinta kucing. Melihatnya bercerita seperti itu, seperti Liam sangat menyayangi kucing nya)


__ADS_2