Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 54 Penyelamat


__ADS_3

Drap, drap...


Di antara kondisi setengah sadar itu. Telinganya mendengar sebuah langkah kaki yang kian mendekat. Dan di sekat celah-celah kaki orang-orang. Dari bawah, dirinya melihat seseorang tengah berlarian mendekati kerumuman yang menjebaknya. Ia bertanya-tanya, siapakah itu. Orang yang berlari itu selanjutnya melesak masuk kedalam gerombolan. Elina sekarang dapat melihat langsung lelaki itu. Sesuai pikirannya yang telah terpatri. Lelaki itu adalah


"Kak Liam.." gumam Elina menengadahkan kepalanya. Melihat Liam dengan ekspresi panik berdiri di hadapannya. Nafasnya juga nampak tersengal-sengal. Mungkin karena berlarian ke sini.


Liam berjongkok, menaruh beberapa kantong belanjaannya di lantai. Memegang bahu Elina yang terdapat bercak darah "Hey, apa yang terjadi. Kenapa kau begini, katakan" dari suaranya saja. Liam sudah panik setengah mati dengan kondisi Elina sekarang.


Belum menjawab, Liam langsung berdiri dan menatap marah orang-orang yang tak ada hentinya mengambil vidio "Seseorang yang tengah terluka bukannya ditolong malah di Vidio. Kalian gila hah?!" Bentaknya.

__ADS_1


Orang-orang itu akhirnya menurunkan handphonenya dan terlihat agak segap untuk membantah ucapan Liam. Takut dengan penampilan Liam yang terlihat sangar "Sekarang, hapus foto ataupun vidio yang tadi kalian ambil" matanya mendelik.


"Tak mau, toh. Kalau sebarin di internet pasti viral" sahut salah seorang laki-laki dengan berani di depan Liam.


Liam tersenyum "Tak mau? Oke" Liam mengambil handphone dari tangan orang itu secara tiba-tiba. Lalu sepersekian detik kemudian, membanting dengan sangat keras ke arah lantai. Hingga handphone laki-laki itu menjadi pecahan yang berhamburan di mana-mana.


"Si*lan!! Beraninya kau membanting HP-ku!! Ganti rugikan bajing*n!!!" Orang itu berteriak kesal melihat benda pipih nya yang sudah terbelah berserakan di lantai.


"Brengs*ek!" Maki orang itu.

__ADS_1


Mendadak, seorang petugas keamanan Mall juga melesak masuk ke dalam gerombolan itu "Eh eh eh, berhenti! Ada apa ini, tenang semuanya. Ya gusti, dek. Kamu kenapa dek..." ucap petugas keamanan itu ketika melihat kondisi Elina terkulai lemas di lantai.


"Dari mana aja pak? Kan tadi saya sudah memanggil anda dari tadi, kenapa baru datang?" Ucap Liam. Sebenarnya, saat Liam berada di dalam Mall. Ia tak sengaja mendengar percakapan seseorang yang mengatakan kalau di pelataran Mall. Katanya, seorang perempuan sedang menampar cewek berambut kepang dua merah maroon. Dari situlah Liam sudah bisa menembak gadis kepang itu. Tapi sebelum hendak keluar Mall, ia sempat memanggil petugas keamanan terlebih dahulu.


"Hehe, maaf. Tadi saya sedang makan" ia menggaruk-garuk kepalanya.


"Saya mau bapak amankan orang-orang ini. Karena mereka mengambil foto dan Vidio teman saya yang sedang terluka. Hapus vidio dan foto yang mereka rekam" ucap Liam.


"Ya Gusti, mereka tak membantu teman mas yang terluka tapi malah di vidio? Tenang aja mas, serahkan semuanya sama saya. Saya akan memberikan hukuman bagi mereka" ia melirik orang-orang itu dengan mata tajam.

__ADS_1


"Terimakasih pak, tapi. Kalau saya mendapati vidio teman saya viral, saya akan menuntut Mall ini karena tak dapat melakukan tugasnya dengan baik. Bisa kan pak?" Ucap Liam dengan senyuman. Di selipkan sebuah ancaman dalam kalimatnya.


Petugas keamanan itu membalas senyum Liam "Tentu, itu tidak akan terjadi" akhirnya lelaki paruh baya itu menggiring belasan orang-orang ke pusat keamanan Mall. Sisalah beberapa orang saja di sana. Pengunjung Mall yang sekedar lewat, sempat menyaksikan kejadian itu juga sudah bubar.


__ADS_2