Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 38 Tindakan Diluar Batas


__ADS_3

"Arka Naresh Wistara. Merupakan pewaris satu-satunya perusahaan serta anak satu-satunya dari keluarga Hirawa" ucap Aiden membaca secarik kertas di tangan yang adalah informasi tentang Arka.


Rumi duduk di sofa yang di belakang sofa itu tertempel lukisan favorit Aiden. Sembari menopang dagunya. Mendengar dengan seksama ucapan Aiden.


"Merupakan anak adopsi. Memiliki kepribadian ramah, pintar dan bertalenta" setelah membacakan itu. Aiden melirik Rumi yang sedang fokus menatapnya.


"Cuman itu?" Tanya Rumi tak puas.


Aiden membuka laci meja kerjanya. Menaruh kertas itu di sana "Ya, apa belum cukup?"


Ia menghela nafas panjang-panjang "Tidak, makasih pak"


Tangannya memijat pelipis sembari memejamkan mata (Informasinya pak Aiden tak membantuku. Yang ingin ku tahu, mengapa Arka tiba-tiba pindah ke sini. Apakah dia sedang mencari seseorang? Siapa? Aku kah? Tapi itu tidak mungkin, mengingat perpisahan kita waktu itu. Dia tak akan mencari ku) batinnya. Sedang overthinking sekarang.


Aiden menatap muridnya yang sedang bersandar di sofa panjang. Pikiran kalutnya sangat kentara. Muridnya yang satu ini memang sangat unik. Beberapa hari lalu ia membuat kasus. Sekarang datang-datang bertanya kepada dirinya tentang Murid bernama Arka. Aiden yang merupakan tipikal orang tidak suka mencampuri urusan orang lain. Terkadang di buat penasaran dengan masa lalu perempuan setengah waras itu. Apalagi saat di Rooftop, ia melihat banyak sekali luka di sekujur tubuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau Rumi?

__ADS_1


Ia berjalan mendekat dan duduk di spot tempat kosong sebelah Rumi. Menoleh ke samping "Jangan kerutkan dahimu seperti itu" Aiden menarik tangan Rumi yang sedang memijat pelipis.


Rumi sontak tersadar dari lautan pikiran yang ada di kepalanya. Menoleh ke Aiden yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya. Belum sadar bahwa tangan kirinya yang tadi di gunakan untuk memijat pelipis sedang di genggam pria itu.


"I-iya" jawab Rumi


(Tumben anak ini tak marah aku memegangnya) batin Aiden. Biasanya Rumi akan sensi atau bereaksi berlebih jika Aiden bahkan tak sengaja menyentuhnya. Tapi reaksinya sekarang berlawanan dengan kebiasaannya itu.


"Coba santai, tarik nafas dalam-dalam"


Rumi mengikuti instruksi Aiden. Menarik nafas panjang.


Ia mengeluarkan nafas pelan-pelan.


"Sudah lebih tenang? Kamu lagi banyak pikiran kah?"

__ADS_1


Rumi mengangguk "Kok bapak tahu saya lagi banyak pikiran?"


Aiden menunjuk dahinya dengan jari telunjuk "Dahimu saking mengerutnya sampai membuat sungai yang panjang" dibarengi senyuman Aiden.


Rumi refleks menyantaikan alisnya yang sedari tadi ia tekuk hingga membentuk larutan di balik poni tipisnya "Masa iya saya begitu".


"Nanti kamu berkaca saja kalau tidak percaya"


"Saya gak bilang gak percaya"


Rumi mempererat genggaman tangannya pada Aiden (Tangan pak Aiden panas. Tanganku jadi lebih hangat) batinnya seraya menatap genggaman tangan mereka.


Aiden mengerutkan dahi. Menampilkan paras jengkel karena merasakan dengan jelas gerakan tangan Rumi di telapak tangannya. Ia berpaling seraya berdecak menahan geli. Tangan sebelah lagi menutup wajahnya. Sekarang ia tak dapat mengatur ekspresi wajah sesukanya.


Rumi membatu melihat reaksi Aiden. Berpikir ada yang tak wajar di sini (Tangan pak Aiden?) Kembali melihat tangannya yang masih mencengkram tangan berurat nan besar milik pria itu.

__ADS_1


Karena kaget, ia lantas membuang tangan itu dari genggamannya dengan kasar. Gadis itu terperanjat hingga meloncat dari sofa. Sekarang ia baru menyadari tindakannya ke Aiden. Tindakan yang sungguh gila!


(Gila gila gila. Rumi gobl*k, apa yang kau lakukan sinting) Ia memaki dirinya sendiri atas tindakan di luar kontrolnya tadi.


__ADS_2