
"Lebih baik aku makan mie saja di asrama kita. Aku tak punya uang ke restoran" ucap Elina
"Kalau kau makan mie terus nanti usus mu akan keriting".
"Usus kan memang keriting".
"Iya kah"
Elina menghela nafas.
Mereka berjalan di trotoar pejalan kaki seraya melihat suasana kota modern ini. Banyak kendaraan berkaki dua atau empat melaju di aspal. Hamparan angin menyapu muka dengan lembut seakan berbisik betapa indah nya suasana sore hari ini.
Ia lagi-lagi memotret langit kesukaannya. Tak mau melewatkan suasana jelita ini.
"Kau sesuka itu sama langit?" Tanya Elina penasaran. Dari tadi Rumi terus mengambil gambar langit berulang-ulang tapi dengan posisi yang berbeda.
Tangannya berhenti memotret dan menyimpan benda elektronik itu ke saku roknya "Kenapa yah, karena cantik?" Ia masih menatap cakrawala.
"Mana mungkin hanya kagum karena kecantikannya. Semua orang pasti terpesona dengan kecantikan alam semesta" Ia mengikuti temannya menatap cakrawala "Jika kau sesuka itu, kau pasti memiliki alasan di baliknya".
__ADS_1
Rumi bergeming. Yang Elina katakan benar. Langit memberikan rasa nyaman dan tentram. Selain itu, alasannya karena.
***
"Rumi lihat langit itu, cantiknya"
Seorang anak lelaki pirang menunjuk langit sambil menatapku dengan senyuman polos yang dimilikinya. Aku berpaling menatap langit biru di hiasi awan yang di maksudnya. Benar, sangat indah.
"Jika kau merasa gelisah, pandanglah langit. Itu akan membuatmu tenang"
Dia menyender manja di pundak ku. Kami duduk di bawah pohon rindang besar dengan angin sepoi-sepoi.
"Iya, cantik" aku menatap anak lelaki bermata biru itu "Seperti warna matamu" senyumku. Ketika aku melihat langit, itu mengingatkanku dengan warna matanya.
Ia terperangah "Ah, y-ya?" Jawabnya terbata-bata karena belum siap di kaget kan.
Elina mengerutkan kening "Ngapain sih melamun, malah sambil senyam-senyum gitu" ucapnya cukup jengkel.
Matanya setengah memejam "tiba-tiba aku teringat seseorang" ia berpaling seraya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tuh kan, kau senyum gak jelas lagi. Siapa sih yang kau pikirkan, pasti cowok kan" Elina memutar kedua bola matanya "Cowok itu beruntung sekali bisa mencairkan hatimu yang dingin itu haha...".
"Berisik" gertaknya, tak menyangkal.
"Lah, beneran mikirin cowok?" Padahal ia sembarang menebak.
"Bacot"
Mereka masuk di sebuah restoran dan memesan dua paket makan burger serta minuman nya. Mereka duduk di samping jendela besar transparan di dalam restoran. Tak butuh waktu lama, pesanan mereka pun datang "Makan, aku traktir" ucap Rumi ke Elina yang ada di hadapannya.
Ia tersenyum setengah, merasa tak enak hati pada Rumi yang selalu mentraktirnya makan "Lain kali aku deh yang traktir ".
"Sudahlah, simpan saja uangnya buat bayar SPP mu" ucapnya sambil mengunyah makanan. Melirik Elina yang sungkan untuk makan "Jangan diliat, makan. Kalau kurang nanti aku pesankan lagi" ia lanjut makan.
Elina tersenyum tipis dengan mata sayu "Enak yah punya uang. Pengen ini itu tinggal beli" gumamnya.
"Kau ngomong?" Tanyanya karena suara Elina terlalu kecil.
"Ehh, enggak kok" ia mengambil burger yang ada di hadapannya dengan kedua tangan "Terimakasih, selamat makan" menyusul temannya makan.
__ADS_1
***
"Hey Cyara, bukan kah itu Rumi sama Elina?" Tanya seorang anak buah Cyara sambil menunjuk restoran cepat saji dari sebrang jalan. Tempat makan yang Rumi dan Elina kunjungi.