
"Bangun, sudah pagi" pria itu menyeruput secangkir kopi sembari membaca koran di tangan satunya.
Rumi tahu persis suara ini "Pak Aiden?, Mengapa anda masuk ke kamar saya?!" Ia bangkit, melek seratus persen. Memungut selimut yang tadi ikut jatuh ke lantai dan menyelimuti tubuhnya. Malu dengan penampilan gembelnya saat bangun tidur.
Aiden menaruh cangkir serta koran itu di meja yang ada di sebelah kursinya. Bangun dari kursi dan memperbaiki baju stelan lengkap kantorannya. Seakan-akan baju paripurna itu kusut, padahal tidak "Kita akan menjenguk Elina, jadi bersiaplah. Tadi dokter rumah sakit menelepon ku, katanya Elina sudah siuman"
Rumi tersenyum lebar dengan muka bantalnya "Benarkah?" akhirnya ia dapat melihat temannya lagi. Hatinya sangat senang mendengar berita itu.
"Ya" Aiden menatapnya
Karena suasana hati yang baik, ia tersenyum pada Aiden sambil bertanya"Kenapa pak melihat saya begitu?"
"Apa kau sangat menginginkan ayam goreng sampai memimpikannya?"
"Ah, itu..." rasa malu merangkak naik ke wajahnya. Sejujurnya perkataan Aiden benar.
***
__ADS_1
Rumi keluar dari kamar tamu, menuruni anak tangga. Baru menyelesaikan kegiatan membersihkan diri. Ia memakai baju stelan drees orange berlengan dan berok panjang. Lagi-lagi pemberian Aiden. Meskipun baju ini bukan tipenya, mau tak mau Rumi harus menerima pemberiannya.
Seorang perempuan paruh baya mendekati Rumi saat ia sudah menuruni tangga. Sepertinya seorang pembantu di rumah Aiden
"Neng, tuan menyuruh anda untuk sarapan bersama".
Rumi menyipitkan mata "Maaf, saya tidak lapar" Tanpa basa basi menolak tawaran sarapan bersama. Kakinya berjalan menuju pintu keluar rumah besar ini. Dan berdiri di teras luar, sambil menyilang kan tangan. Menikmati suasana pagi di lingkungan Aiden.
Berselang beberapa menit. Hentakan suara sepatu terdengar, semakin mendekat. Rumi menoleh kearah pintu keluar rumah. Benar saja yang keluar dari sana adalah Aiden
Aiden berhenti, matanya tertuju pada dress yang di kenakan Rumi "Cocok yah" pujinya. Tak sangka akan sebagus itu saat dikenakan Rumi.
Rumi menghela nafas. Proporsi tubuhnya tentu saja bagus, jadi cocok memakai baju apa saja lebih-lebih lagi gaun.
"Kita langsung ke rumah sakit saja kalau begitu" Aiden merogoh kunci mobilnya. Menuju kendaraan beroda empat itu yang telah di panaskan di garasi.
***
__ADS_1
Krek
Pintu terbuka
Ia melihat Elina sedang duduk bersandar di ranjang kasur rumah sakit. Menatap kosong pemandangan luar jendela yang berada dipojok. Sekujur tubuhnya penuh dengan perban terutama kepala.
Rumi tersenyum. Melangkah lebih maju "Elina" panggilnya.
Elina mengambil pandang ke arahnya. Yang Rumi lihat pertama kali darinya adalah. Senyuman hangat yang menyambutnya.
Ia menarik kursi yang ada di sudut lalu duduk di sebelah ranjang Elina. Menaruh keranjang bingkisan yang berisi buah-buahan di meja yang ada di dekatnya
"Apa masih terasa sakit? Kenapa kau bisa sampai begini sih?. Yang pertama kali nemuin kamu pas sekarat itu aku loh" yang Rumi lakukan pertama kali adalah mengejutkan Elina dengan runtutan pertanyaan, lebih ke ngomel sih sebenarnya.
Elina tertawa kecil melihat temannya ngomel-ngomel "Udah mendingan kok".
Elina pelan-pelan melirik Aiden, sedang berdiri di belakang Rumi dengan gaya mengantongi tangan di saku celana. Aiden juga sedang menatapnya. Tapi Elina dengan cepat membuang muka, takut dengan tatapan Aiden yang terkesan tak ramah
__ADS_1