Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 14 Lelah


__ADS_3

Alisnya mengerut. Bingung "Tentu saja, memangnya aku kenapa".


Elina nampak kecewa dengan jawaban Rumi "Kan saat kita pulang sekolah, kau langsung kembali ke asrama. Kau mandi, mengganti pakaian dan langsung tidur. Padahal kau biasanya tidur di atas jam dua belas. Kau juga belum makan loh. Dan akhir-akhir ini tempo tidur mu juga cepat".


Sudah satu minggu sejak Rumi menjalani kehidupan SMA-nya. Entah mengapa dia merasa tubuhnya menjadi cepat lelah, beda dengan kondisi dirinya yang dulu. Sekarang dia lebih mudah capek dan ngantuk. Apalagi ia sering dilanda mimpi buruk akhir-akhir ini.


Dan juga beberapa organisasi dan club ekstra kurikuler mengajak Rumi untuk masuk ke organisasi nya. Contoh nya seperti OSIS, Pramuka, PMR, Club Drama, Club Seni, dan lain-lain. Tentu saja Rumi menolak semua ajakan itu. Karena dia malas dan mager.


Sambil memegang loyang, Elina berjalan ke dapur untuk menaruh benda berisi air itu ke wastafel yang jaraknya tak begitu jauh dari kamar mereka "Kau juga tadi, saat sedang tidur menggumam kan sesuatu" ucapnya agak keras agar terdengar di telinga Rumi.


"Bergumam?".

__ADS_1


Ia kembali dari dapur "Iya, kau bergumam 'Maaf aku egois, maaf aku egois'. Karena kau terus bergumam dan gelisah, aku mengecek kondisi mu" ikut nimbrung duduk di tepi ranjang Rumi "Tubuh mu sangat dingin. Karena khawatir, aku mengompres mu agar suhu tubuh mu menurun".


"Begitu yah. Terimakasih".


(Ternyata aku bergumam karena efek mimpi buruk itu).


"Jam berapa sekarang?" Tanya Rumi.


"Makan".


"Oke. Gapapa kan cuman nasi ama telur dadar. Soalnya uang ku tak cukup beli makanan mahal. Aku takut tak sesuai selera mu" ucapnya ragu.

__ADS_1


Rumi terdiam sejenak "Itu makanan enak loh. Aku suka" lirih Rumi, suara nya hampir tak terdengar.


"Iya?" Elina bertanya lagi karena tak mendengar apa yang Rumi katakan.


"Yang namanya makanan tetap ku makan. Kecuali racun, gak akan ku makan" ujar Rumi, niatnya bercanda.


Elina tertawa pelan, dan menyiapkan makanan di meja makan untuk temannya itu. Rumi makan dengan lahap. Perempuan rambut merah itu ikut duduk sambil menemani Rumi makan seraya bercerita hal random lagi. Tapi kali ini Rumi sudah biasa mendengar cerita-ceritanya. Mereka berbincang sampai larut malam.


Meski mereka baru bertemu dan berkenalan beberapa hari yang lalu. Entah bagaimana ceritanya, mereka langsung akrab seperti sudah berteman sejak lama. Elina yang ceria dan dewasa, dan Rumi pendiam serta bodo amatan. Elina suka bercerita, Rumi suka mendengarkan. Mungkin itu yang membuat mereka cocok.


Keesokan hari nya. Mereka menjalani rutinitas seperti anak sekolahan. Sudah berhari-hari, Aiden sudah tidak lagi memanggil Rumi ke kantor nya. Membuatnya sangat senang sebab pria pengintimidasi itu tak memanggil nya lagi.

__ADS_1


Saat pulang sekolah, ia tak langsung kembali ke asrama. Melainkan ingin pergi ke restauran bersama Elina tanpa mengganti baju terlebih dahulu dan masih membawa tas di punggung mereka. Tanpa berpikir dua kali langsung meluncur pergi. Awal nya hanya Rumi yang di izinkan untuk keluar mengingat perlakuan istimewa yang di dapatkan nya. Tapi ia terus memaksa dan mengancam pak satpam. Akhirnya satpam mengizinkan Elina karena lelah mendengar rengekan Rumi.


__ADS_2