Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 37 Lukisan


__ADS_3

(Mengapa murid-murid di sini menatap ku seperti itu) matanya berkeliling. Sedikit takut pada orang-orang yang ia temui di lorong.


"Ehhh, Aduh" karena tak fokus menatap jalan. Rasanya ia seperti sedang menabrak sesuatu yang tinggi dan keras. Membuat tubuh kecilnya jatuh tersungkur di lantai.


"Maaf maaf. Aku gak liat" Ucap Elina. Tangannya mengelus kepala yang sedikit oleng akibat tubrukan tadi. Ia menengadahkan kepalanya. Melihat lelaki berkulit sawo matang sedang setengah membungkuk dengan kedua tangan menopang badan di lutut. Seperti gerakan setengah rukuk.


Dengan ekspresi bersalah lelaki itu meminta maaf "Maaf, kau gapapa kah?" uluran tangannya ia salurkan pada Elina yang masih terduduk di lantai.


Elina menerima uluran itu, memegang tangan besar yang membantunya berdiri "Kau gapapa? Ada yang sakit? Mau ke UKS?" Menatap Elina dari kaki sampai rambut. Takut perempuan itu terluka karena dirinya.


"A-aku baik. Jangan khawatir" Elina tersenyum dengan alisnya yang melengkung, tak terbiasa di perlakukan seperti ini.


Lelaki itu menghela nafas "Syukurlah"


Wajah cemasnya kini sirna terganti oleh paras tanpa ekspresi sembari menatap Elina dalam-dalam. Seperti sedang menerawang.


Elina yang cukup kurang nyaman membuka suara "Maaf, kalau tak ada yang ingin di bicarakan lagi. Saya pergi"


Lelaki itu tersadar "Ehhh, jangan. Tadi aku hanya memastikan sesuatu" ia menghentikan Elina saat mau mengambil langkah pertamanya.


"Memastikan?"


"Iya. Namaku Liam, salam kenal. Kau Elina temannya Rumi kan?"


Alisnya terangkat "Benar, bagaimana kau bisa tahu?"


"Saat kau pingsan di kamar mandi. Aku menyaksikan Rumi membawamu pergi ke rumah sakit. Hingga membuatnya tak datang berhari-hari ke sekolah"


"Terus, datang-datang Rumi malah bergelut dengan perundung di sekolah kita. Katanya, itu semua karena mereka membully temannya yang bernama Elina Yora kelas 1-A"


"Jadi jangan heran kalau warga sekolah menatap mu seperti itu" Liam tersenyum lembut pada Elina.


Elina mulai paham dengan situasinya sekarang. Ia lumayan tercengang karena dirinya yang merupakan seorang korban perundungan malah menjadi tonggak awal dia mulai dikenal. Meskipun terkadang bukan dalam hal positif.


Ia menatap Liam "Begitu ya. Makasih infonya, kau kelas berapa? Kayaknya aku gak pernah liat deh" ungkapnya.


"Kelas 2. Aku kakak kelasmu, mungkin karena itu kau jarang melihatku" ia masih menunjukkan senyum-senyum simpul


Kekagetan menghiasi wajah. Sadar ia dari tadi berbincang dengan kakak kelasnya menggunakan bahasa yang kurang sopan "Eh, maaf kak Liam. Saya tak tahu kalau anda kakak kelas saya" Elina membungkuk menunjukkan rasa bersalahnya.


"Gapapa, kamu juga gak tahu kan"


Karena malu. Rona merah merangkak naik ke pipinya "Saya pergi dulu yah kak" Elina langsung berbalik dan berjalan dengan irama cepat.

__ADS_1


Liam menatap Elina yang sudah cukup jauh darinya. Lalu ia kembali tersenyum, membalikkan badannya dan bubar dari tempat itu.


***


Ceklek


Rumi membuka pintu ruang Aiden.


Saat kepalanya sudah masuk. Hal pertama yang ia lihat adalah, Pria itu berdiri menyamping dan hanya memperlihatkan setengah badannya dengan cahaya matahari dari luar jendela yang memantulkan bayangannya. Tangannya menyilang seraya menatap lukisan besar berabstrak hitam putih yang tepat ada di hadapannya.


"Pak.." lirihnya.


Rumi menutup pintu perlahan agar tak mengangetkan Aiden dan perlahan mendekatinya.


"Pak Aiden.." masih berusaha memanggil.


Aiden masih menatap kosong lukisan itu tanpa menyadari keberadaan Rumi di sana. Ia mendekatinya dan berdiri di sebelah Aiden. Ikut menatap lukisan itu.


"Lukisan ini sebagus itu yah sampai anda tak berpaling" kali ini ucapannya berhasil membuyarkan lamunan Aiden.


Aiden membuka matanya lebar-lebar "Sejak kapan kau disini?" ia mundur beberapa langkah karena kaget.


"Gak terlalu lama. Saya ngetok pintu anda berulang-kali tapi tak ada sahutan. Jadi saya masuk saja deh" ucapnya santai.


Aiden diam dan berjalan beberapa langkah memegang lukisan itu "Entah, saya juga tak punya alasannya" gumam Aiden.


(Orang ini lebih labil dariku. Masa tak punya alasan sih?) batin Rumi menatap Aiden jengkel.


Aiden menoleh ke Rumi "Mengapa kau datang ke kantorku? Saya rasa, saya tak memanggilmu"


Rumi hampir lupa dengan tujuan awalnya datang ke kantor Aiden "Saya ingin bapak mencari informasi tentang seseorang di sekolah ini".


Alisnya naik sebelah "Saya bukan intel, jadi saya tak bisa bantu" tolaknya.


"Bapak pasti bisa"


Aiden menghela nafas "Memangnya siapa yang mau kau cari informasinya?"


Rumi perlahan tersenyum "Arka Naresh Wistara"


***


"Arka Naresh Wistara. Merupakan pewaris satu-satunya perusahaan serta anak satu-satunya dari keluarga Hirawa" ucap Aiden membaca secarik kertas di tangan yang adalah informasi tentang Arka.

__ADS_1


Rumi duduk di sofa yang di belakang sofa itu tertempel lukisan favorit Aiden. Sembari menopang dagunya. Mendengar dengan seksama ucapan Aiden.


"Merupakan anak adopsi. Memiliki kepribadian ramah, pintar dan bertalenta" setelah membacakan itu. Aiden melirik Rumi yang sedang fokus menatapnya.


"Cuman itu?" Tanya Rumi tak puas.


Aiden membuka laci meja kerjanya. Menaruh kertas itu di sana "Ya, apa belum cukup?"


Ia menghela nafas panjang-panjang "Tidak, makasih pak"


Tangannya memijat pelipis sembari memejamkan mata (Informasinya pak Aiden tak membantuku. Yang ingin ku tahu, mengapa Arka tiba-tiba pindah ke sini. Apakah dia sedang mencari seseorang? Siapa? Aku kah? Tapi itu tidak mungkin, mengingat perpisahan kita waktu itu. Dia tak akan mencari ku) batinnya. Sedang overthinking sekarang.


Aiden menatap muridnya yang sedang bersandar di sofa panjang. Pikiran kalutnya sangat kentara. Muridnya yang satu ini memang sangat unik. Beberapa hari lalu ia membuat kasus. Sekarang datang-datang bertanya kepada dirinya tentang Murid bernama Arka. Aiden yang merupakan tipikal orang tidak suka mencampuri urusan orang lain. Terkadang di buat penasaran dengan masa lalu perempuan setengah waras itu. Apalagi saat di Rooftop, ia melihat banyak sekali lukisan luka di sekujur tubuhnya. Apa yang terjadi di masa lampau Rumi sebenarnya?


Ia berjalan mendekat dan duduk di spot tempat kosong sebelah Rumi. Menoleh ke samping "Jangan kerutkan dahimu seperti itu" Aiden menarik tangan Rumi yang sedang memijat pelipis.


Rumi sontak tersadar dari lautan pikiran yang ada di kepalanya. Menoleh ke Aiden yang tiba-tiba saja ada di sampingnya. Belum sadar bahwa tangan kirinya yang tadi di gunakan untuk memijat pelipis sedang di genggam pria itu.


"I-iya" jawab Rumi


(Tumben anak ini tak marah aku memegangnya) batin Aiden. Biasanya Rumi akan sensi atau bereaksi berlebih jika Aiden bahkan tak sengaja menyentuhnya. Tapi reaksinya sekarang berlawanan dengan kebiasaannya itu.


"Coba santai, tarik nafas dalam-dalam"


Rumi mengikuti instruksi Aiden. Menarik nafas panjang.


"Oke bagus, sekarang keluarkan"


Ia mengeluarkan nafas pelan-pelan.


"Sudah lebih tenang? Kamu lagi banyak pikiran kah?"


Rumi mengangguk "Kok bapak tahu saya lagi banyak pikiran?"


Aiden menunjuk dahinya dengan jari telunjuk "Dahimu saking mengerutnya sampai membuat sungai yang panjang" dibarengi senyuman Aiden.


Rumi refleks mensantaikan alisnya yang sedari tadi ia tekuk hingga jidat membentuk larutan "Masa iya saya begitu".


"Nanti kamu berkaca saja kalau tidak percaya"


"Saya gak bilang gak percaya"


Rumi mempererat genggaman tangannya pada Aiden (Tangan pak Aiden panas. Tanganku jadi lebih hangat) batinnya seraya menatap genggaman tangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2