
"J*lang ku bunuh kau" Lelaki itu lari sambil mengarahkan pisau ke jantung Rumi. Kalau tak menghindari pukulan itu pasti ia akan terluka fatal. Ia menangkis serangan lelaki itu lalu dengan tangan yang lain ia meninju rusuk kanannya hingga terdengar bunyi.
Krek.
Rusuknya patah. Sehingga pisau di tangan orang itu pun terjatuh.
Lelaki itu tersentak mundur seraya memegang rusuknya yang nyut-nyutan (Sakit sekali, seperti nya tulang rusukku patah. Tenaga perempuan ini kuat) ia lalu mencoba menggambil kembali pisau nya yang terjatuh tadi. Tapi, Rumi langsung menginjak pisaunya agar tidak di salah gunakan oleh pria itu.
Dengan seringainya ia berkata "Meski kau melawan ku menggunakan senjata. Kau tidak akan menang bodoh".
Beberapa menit kemudian.
"Ampun, ampun. Maafkan saya" lelaki itu berlutut memohon-mohon untuk di ampuni dengan kondisi babak belur.
__ADS_1
Rumi merapikan pakaiannya, dan melirik ke lelaki yang di hajarnya habis-habisan. Dengan mata sinis ia mengatakan "Untuk apa mengampuni mu. Lebih baik aku mematahkan jari-jari mu. Atau melepaskan sendi-sendi otot mu. Memelintir lehermu bagus kali yah" pria itu meminta ampun karena sudah khilaf di hajar oleh Rumi, tapi ia malah akan menjadi kelinci percobaan untuk memuaskan hasrat psikopat perempuan olahragawan itu.
"Hey, hentikan itu. Kau sudah cukup membuatnya babak belur".
(Gaya bertarung perempuan itu kasar. Meskipun tubuhnya kecil, tapi teknik yang digunakannya sangat berbahaya. Mengerikan).
"Aku bercanda. Jangan serius dong".
"Bercanda mu gak lucu" ucap si cowok. Rumi mendekatinya lalu mengambil kembali makanannya. Ia berbalik, ingin pergi tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Ia kembali berbalik "Kenapa aku harus memberi tahu namaku, toh kita tidak akan bertemu lagi. Aku membantu mu hanya karena aku mau, tidak ada maksud lain" setelah mengatakan itu, Rumi menghilang di ujung lorong.
Cowok itu tersenyum simpul "Dingin sekali" gumamnya.
__ADS_1
***
Hari ini adalah hari pertama Rumi memulai kehidupan SMA-nya sebagai murid. Rumi sangat berharap dari hati kecilnya bahwa ia ingin hidup damai dan tentram. Tapi sepertinya tuhan tahu bahwa Rumi adalah orang yang kuat, jadi dia mengirimkan ujian bertubi-tubi pada hambanya. Harapannya hancur berkeping-keping bahkan sebelum kelas pertamanya di mulai.
Sudah sejak pagi, mungkin sudah ratusan orang datang untuk menemuinya. Tentu saja mereka penasaran siapa penerima beasiswa di sekolah mereka. Entah itu dari kakak kelasnya, kelas lain, atau bahkan anggota OSIS dan club. Ada yang mengatakan bahwa mereka fans Rumi. Tapi ada juga kakak kelas yang menyebarkan ujaran kebencian terang-terangan di depan Rumi dengan mengatakan "Halah, prestasinya mah cuman segitu. Kok bisa dapat beasiswa yah?" Ucap kakak kelas perempuan.
Rumi yang mendengar itu kali ini hanya tersenyum sabar meladeni hinaan itu, ia tak ingin membuat masalah di hari pertama sekolahnya.
"Tawuran kita kak?" Rumi menarik dan menjambak rambut kakak kelasnya.
Tapi bo'ong. Kesabaran Rumi setipis tisu.
Akhirnya perkelahian sepihak itu berhenti karena empat orang memegang tangan dan kaki Rumi sebelum ia menonjok muka kakak kelas itu. Untungnya mereka tak sampai di laporkan di BK.
__ADS_1
Tring... Bel makan siang berbunyi.
"Haus..." Rumi membaringkan kepalanya di atas meja.