
Dengan langkah yang sudah tak semangat dan capek, ia berjalan menuju taman sekolah. Kebetulan area sekolah yang belum ia periksa adalah taman. Di tengah itu, Rumi mendengar dua kali suara dering handphonenya secara berturut-turut. HP itu berada di saku kemeja putih berlengan panjangnya. Dering yang biasanya menjadi pertanda kalau ada pesan chat yang masuk
Ia mengambil dengan kasar handphonenya. Membuka chat yang baru saja masuk.
"Liam lagi, hadeh" ia melihat chat Liam yang ternyata mengiriminya pesan.
...Liam si pecinta kucing...
...Hari Ini...
⁰⁸:¹¹ Rumi aloo... Lagi apaaa
⁰⁸:²⁰ Aku mau pergii ke Mall, mau beli makanan kucingg...
⁰⁸:²¹ Kemarin aku liatt kucing jalanan di pinggir jalan deket sekolah kitaa. Nah terus aku berinisiatif buat beliin makanan kucing dehh
^^^Iy bgus ⁰⁹:³⁹^^^
__ADS_1
⁰⁹:³⁹ Udahh makan? Kalo belum, I can buy something food for youu. Mumpung masih di Mall nihh
^^^G ush mksh ¹⁰:²⁷^^^
¹⁰:²⁸ Yakin? Mau coklat?
...2 Pesan baru...
¹¹:⁴⁵ Mi Rumii, aku ketemu temen kamu nih. Elina
^^^Iykh?¹¹:⁴⁹^^^
¹¹:⁵⁰ Iyaa, tadi pas aku udh selesai beli makanan kucingg. Aku singgah toko buku, nah terus aku liat dia dehh. Tapi dia ga nyadar ada aku di sini. Elina fokus banget baca bukunyaa
^^^Bgitu ya¹¹:⁵⁵^^^
Rumi membaca pesan terakhir yang ia kirim pada Liam. Lalu mematikan handphonenya dan memasukkannya lagi ke dalam saku kemejanya.
__ADS_1
Saat melihat kejadian cowok itu yang menangis. Liam kembali lagi berusaha meminta nomor telepon Rumi. Dan karena takut Liam merasa sedih, Rumi akhirnya memberikan nomor ponselnya.
"Elina bilang, dia emang pergi ke Mall mau beli buku novel sih. Anak itukan memang hobi bacs novel" gumam Rumi. Melanjutkan perjalanan menuju taman yang terletak di belakang gedung utama sekolahnya. Tak begitu jauh dari posisinya sekarang.
Ia pun sudah memasuki pekarangan sekolah yang sangat luas itu. Terdapat beberapa tiang lampu taman yang berjejer rapi. Tak kala ada sebuah kursi-kursi beratap berbetuk lingkaran dengan meja yang berada di tengah-tengahnya. Tak lupa di lengkapi dengan bunga-bunga hias yang berada di sepanjang taman. Menambah nilai estetika tempat ini.
Taman ini biasanya menjadi tempat para murid untuk belajar dan mengerjakan tugas mereka. Keindahan taman yang di suguhkan membuat siapa saja yang berada di sini tentunya sangat betah.
"Mungkin Arka ada di sini. Tapi, sepertinya cuman ada aku di taman ini" ucap Rumi seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. Meskipun matahari sudah tepat berada di atas kepalanya. Tak meluputkan betapa segar dan ademnya udara yang kurang lebih berasal dari pohon yang menjulang tinggi di taman.
"Itu kayaknya Arka deh" mata jelinya seketika terpaku pada satu sosok yang samar-samar berambut pirang. Yang menyenderkan kepalanya di rantai ayunan yang sedang didudukinya. Ayunan tersebut berada di ujung taman. Lumayan jauh darinya
Ia mendekati sosok itu. Apakah benar tebakannya benar bahwa dia adalah Arka? Dan benar saja, itu lah lelaki yang sudah ia cari sekeliling sekolah. Dengan menghela nafas lega Rumi berjongkok di depan lelaki berbaju khusus club musik itu. Lega karena sejam lebih akhirnya bisa menemukan Arka, jadi ia tak harus berkeliling lebih lama lagi.
Melirik Arka yang masih tidur pulas "Bisa-bisanya dia nyaman tidur sambil nyenderan di rantai ayunan" ucapnya acuh tak acuh. Menganggap Arka itu tertidur dengan pola yang aneh.
"Kalau dia gak sengaja jatuhkan nanti pasti kepalanya duluan yang terbentur ke tanah" ia langsung melirik ke bawah. Tanah yang terlihat keras di tumbuhi rerumputan yang berada di bawah ayunan Arka.
__ADS_1