
Liam beralih ke Elina. Ia kembali berjongkok dan menatap sedih perempuan bertubuh kecil itu yang masih terduduk di lantai pelataran Mall. Merasa iba sekaligus khawatir dengan keadaannya. Entah kurang beruntung atau bagaimana. Elina selalu saja menjadi korban perundangan dan terlihat dalam situasi yang tak mengenakan.
"Ma-makasih kak" ujar Elina
Lelaki itu melirik pipi Elina yang memerah. Lanjut ke bahunya yang ternodai bercak darah "Kau kenapa, coba jelaskan padaku" ucap Liam dengan lembut. Pasti ada dalang di balik semua kejadian yang menimpa Elina saat ini.
"I-itu. Aku.." Elina langsung berpaling ketika Liam berniat menginterogasinya. Ia pun juga berbicara dengan ragu-ragu.
"Jangan ragu, katakan saja"
(Dulu dia sempat di bully oleh perempuan bernama Cyara. Sekarang dia juga di lukai dan di permalukan di depan umum. Sebenarnya kenapa gadis ini selalu menjadi magnet masalah yang ada di sekitarnya) batin Liam menatap Elina.
Perempuan yang tadi sempat menampar Elina mendadak ingin mencampuri urusan mereka. Berdiri di samping mereka seraya menautkan kedua tangan jari-jarinya di belakang tubuhnya "Wah, wah. Yora, pacarmu keren dan perhatian banget deh. Aku iri loh"
Refleks Liam mendongakkan kepalanya untuk menatap Venya. Ia tak merasa mengenal wanita itu. Dengan ekspresi datar Liam berkata "Siapa kau? Kau siapanya Elina? Kenapa kau tidak ikut pergi ke kantor keamanan?"
__ADS_1
Alisnya berdiri ketika mendapatkan pertanyaannya dari Liam "Aku teman akrabnya Yora waktu SMP. Ehh, aku gak ikut-ikutan memvidionya" ucap venya dengan senyum.
Liam menyunggingkan senyuman. Ia melepaskan jaket kulit hitamnya "Kau temannya Elina? Tapi kenapa saat Elina terluka kau tak membantunya. Kau sebut dirimu teman?" Ucapnya menyinggung. Ia kemudian memakaikan jaketnya pada Elina.
"Atau jangan-jangan kaulah yang sudah melukai Elina?" Lanjutnya. Ia berpaling dan melotot ke arah Venya. Dari awal, gerak-gerik dan perkataan perempuan itu sudah membuat Liam curiga. Jadi tak ayal jika Liam melayangkan tuduhannya kepada Venya.
Venya memiringkan kepalanya di saat lelaki itu menuduhnya melukai Elina "Pikiran mu terlalu jauh. Mana mungkin aku begitu" bongaknya. Ia kemudian menghiasi wajahnya dengan senyum polos. Menambah kesan manusia yang suci tanpa dosa.
Bohong, itu bohong. Dari gerak tubuh dan ekspresinya saja. Liam sudah mengetahui bahwa perempuan yang katanya teman Elina itu berbohong. Dari awal ia memang sudah curiga dengan keberadaan Venya. Meskipun tahu perempuan itu memutarbalikkan fakta. Ia tak langsung menghardiknya. Karena fokus utamanya sekarang adalah Elina.
Lelaki itu memungut barang belanjaan dirinya dan Elina yang sejak tadi terlantar di lantai "Ayo kita pergi. Kau bisa berdiri Elina?" Tanya Liam.
"Kayaknya kakimu terkilir ya" Ucap Liam melihat kaki Elina yang nampak cukup kemerahan di balik sendal tali yang di pakainya.
"Iya, tadi aku jatuh" timbalnya.
__ADS_1
Liam terdiam sebentar. Lalu kemudian lengan kanannya sekaligus lengan yang di gunakannya untuk memegangi belanjaan mereka berdua. Lengan itu mengelilingi punggung Elina "Taruh tanganmu di leherku" selanjutnya lengan kirinya mengelilingi belakang lutut Elina.
"Apa? Uwahhh!!..." seketika Liam mengangkat tubuh Elina pada saat itu juga dengan mudahnya. Seakan tak ada kendala sama sekali. Tak sempat membuat Elina melanjutkan kata-katanya.
Elina yang bingung langsung saja menatap heran Liam "Ka-kak, apa yang kakak lakukan. Turunkan saya, saya berat loh"
"Gak sama sekali, ringan kok. Kan kakimu sedang sakit, jadi terima saja perlakukan ku ini. Sekarang lingkarkan lengan mu di leher ku" ucap Liam dengan senyuman.
"Ta-tapi.." Elina kemudian menutup mulutnya rapat-rapat. Ia hanya merasa tak enak hati terus menyusahkan Liam sedari tadi. Lelaki itu bahkan tak sungkan menggendong Elina yang sedang terluka. Tapi untuk menghargai usaha Liam yang sudah sampai sejauh ini. Ia menuruti perkataan Liam. Elina perlahan mulai menggelantung lengannya di leher Liam.
"Mohon bantuannya yah kak Liam" membalasnya dengan senyuman juga. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter saja. Lalu di balas dengan anggukan lekaki itu.
Di samping itu semua. Ada Venya yang menyaksikan kehangatan kedua orang Itu. Tangannya mengepal dengan erat (Kok Yora punya pacar seromantis itu sih?) Melotot ke arah mereka berdua dengan rasa dengki yang bergejolak di dalam hatinya.
"Kak Liam, itu kan nama kakak?" Ia berjalan beberapa langkah. Berusaha mencegat Liam yang ingin pergi dengan Elina yang berada di gendongannya. Dan berhasil, lelaki yang mengenakan kaos hitam itu berbalik ke arahnya.
__ADS_1
"Sebelum kakak pergi, saya ingin bertanya. Kenapa kakak mau berpacaran dengan orang seperti Yora?"
"Apa maksud mu?" Tanya Liam.