Takdir Yang Terputus

Takdir Yang Terputus
Chapter 26 Berbicara Empat Mata


__ADS_3

"Bukankah seharusnya kau yang menjelaskan situasi ini?" Bisik Elina.


"Ha? Jelaskan apa" Rumi balik bertanya


Elina melirik lagi pria itu. Melihat Elina yang nampak melirik belakang nya, Rumi ikutan nengok ke belakang sambil mendongakkan kepalanya. Saat dirinya berbalik, kepala Aiden turut menunduk. Akhirnya mata mereka bertemu. Sudah mendapatkan jawaban, gadis itu pun berpaling


"Oh, tadi, yang antar aku ke rumah sakit ituu, pak Aiden" terang Rumi.


"Pak Aiden?" Ia tampak bingung. Detik kemudian terlintas kekagetan di wajahnya saat sadar dengan apa yang terjadi. Elina mencuri-curi pandang ke mereka berdua. Bola matanya berputar "Ohhhhh begiituuu yaaa. Iyaa, akuu pahammm" tempo suaranya di buat lambat di barengi senyuman salting Elina. Pikirnya, pasti ada apa-apa di antara hubungan Rumi dan Aiden. Yang jelas pasti bukan hubungan murid dan guru.


Alis Rumi menegang "Kau ini bangun dari koma kayanya jadi gak waras yah. Apa-apaan matamu itu. Awas kalau pikir macam-macam" ancamnya.


"Aku gak mikir macam-macam kok" Elina mengedikkan bahu. Padahal mah, pikiran Elina sudah jauh sampai melebihi realita.

__ADS_1


Mendadak, Aiden melangkah lebih maju dari posisi belakang, ke samping Rumi di tengah dua orang yang sedang berbincang-bincang ria itu, berdiri di samping ranjang


"Bagaimana kondisimu?. Elina Yora Graham" ucapnya dengan nada datar.


Rumi menaikkan salah satu alisnya (Graham?) Baru tahu ternyata temannya memiliki marga keluarga.


Gadis dengan motif baju garis-garis khas rumah sakit itu terdiam mendengar pertanyaan gurunya. Dengan sedikit senyum ia menggeleng "Saya baik-baik saja. Tapi maaf pak, nama saya bukan Elina Yora Graham lagi, tapi Elina Yora. Terimakasih atas perhatian anda".


Pria berjas itu tak berkutik, lalu mendengus "Baiklah, saya mengerti" Aiden berbalik pandang ke arah Rumi "Ikut aku" kakinya berjalan ke arah pintu dan keluar.


Ia keluar pintu, melirik kanan kiri. Matanya tertuju pada Aiden yang sudah berdiri cukup jauh dari ruang tempat Elina di rawat.


Ia berjalan mendekatinya. Di saat jarak mereka sudah bisa di hitung jengkal, Rumi berkata "Ada apa pak?" Ia berdiri di depan Aiden. Berpikir kalau Aiden ingin mendiskusikan suatu hal yang penting.

__ADS_1


Aiden menghela nafas "Sebagai wakil kepala sekolah tentu saja aku sudah banyak mendapati kasus perundungan, pembullyan bahkan kasus bunuh diri" tangannya memijat pelipis. Tampak seperti orang yang memikul beban berat di pundaknya.


"Lalu. Intinya apa?" Rumi menyilangkan tangan.


"Tidak bisakah kita basa basi dulu".


"Tidak" celetupnya.


"..."


Gaya Aiden yang dari tadi hanya mengantongi tangan, mulai menggerakkan tangan kanannya dan menarik dasinya hingga tak berbentuk lagi "Dalam kasus Elina ini. Pihak sekolah belum menemukan titik terang. Tak ada saksi yang bisa di mintai keterangan, karena di saat kejadian berlangsung. Tidak ada yang memperhatikan anak itu" dengan tangan yang sama, mulai merambat ke rambut.


Matanya terpejam seraya mengotak-atik rambut lurus itu "Seperti yang saya duga. Elina itu tidak punya teman selain kau. Dari kemarin tak ada satupun sanak saudara atau teman yang mengunjunginya" rambut hitam yang selalu di olesi pomade itu mulai berantakan juga.

__ADS_1


Rumi diam sambil melihat pemandangan yang tak biasa dari Aiden. Pria yang selalu keliatan rapi, keren. Menunjukkan sisi dirinya yang lain. Tapi entah mengapa, Rumi merasa Aiden yang berantakan lebih baik dari Aiden yang tertib.


__ADS_2