Tapak Buddha

Tapak Buddha
Kembali Ke Istana


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama berhari hari tanpa henti, akhirnya rombongan pangeran tiba dikota raja.


Sesampainya digerbang kota suasana yang biasanya ramai dengan para pedagang dan para penduduk yang lalu lalang mendadak sepi.


Didepan gerbang ada beberapa prajurit kerajaan berserta komandannya yang sedang berjaga mengawasi para penduduk dan pedagang yang berlalu lalang.


Ketika melihat rombongan pangeran mendatangi gerbang, mereka segera menyambutnya.


"Salam hormat kami pangeran dan tuan kasim" ucap komandan prajurit sambil membungkukan tubuhnya.


Pangeran hanya menganggukan kepala, lalu diikuti kasim utusan berserta rombongan meneruskan langkahnya memasuki gerbang ibu kota.


Keadaan didalam kota raja juga sama sepinya, hanya ada beberapa tempat makan dan penginapan yang buka serta beberapa toko obat.


Beberapa penduduk yang berpapasan dengan rombongan pangeran menyambut dan memberikan hormat.


"Sepi sekali kota ini, apakah dalam kesehariannya memang seperti ini pangeran?" tanya thian long sambil melihat sekeliling.


"Tidak seperti ini, biasanya kota ini selalu ramai kak, perasaanku tidak enak saat ini..." ucap lie er.


"Apa ini ada kaitannya dengan sakitnya kaisar?" gunam yuen er sambil mengedarkan pandangan sekelilingnya.


"Entahlah aku juga tidak tahu nona yuen" ucap lie er gelisah, lalu menoleh kepada kasim utusan dan berkata " ayo cepat kita harus segera sampai keistana, aku ingin segera bertemu ayahanda kaisar".


"Baik pangeran" ucap kasim liu.


Rombongan pangeran bergegas menuju istana, sesampainya didepan pintu gerbamg istana rombongan kembali disambut dengan seorang pria berumur dan berbadan besar memakai baju jirah berserta puluhan prajurit pengawal istana.


"Selamat datang pangeran mahkota" ucap pria besar itu lalu diikuti puluhan prajurit membungkukan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan.


"Jendral qi, bagaimana keadaan ayahanda kaisar?" ucap pangeran lie.


Rupanya pria itu yang memakai baju jirah jendral qi yang sudah turun menurun mengabdi kepada istana.


"Keadaan kaisar sungguh tidak baik, sebaiknya pangeran segera menemuinya" ucap jendral qi dengan raut muka sedih.


"Baiklah, oh ya sementara aku melihat keadaan ayahanda kaisar, tolong temani dan layani para tamu tamuku ini dengan sebaik mungkin" ucap pangeran.

__ADS_1


"Baik pangeran" lalu jenderal qi segera mempersilakan rombongan memasuki istana, pangeran bergegas memasuki istana sedangkan thian long beserta yuen er diarahkan jenderal qi ketempat peristirahatan.


Ketika memasuki aula istana para pejabat dan para mentri telah berkumpul untuk menyambut kepulangan putra mahkota.


"Selamat datang kembali pangeran" ucap mereka serentak sambil membungkukan tubuhnya.


Pangeran lie menganggukan kepalanya, lalu bertanya kepada seorang pria tua yang ada disana:


"Apa kabar paman perdana mentri zhan, bagaimana keadaan ayahanda saat ini?"


"Yang mulia kaisar kesehatannya sedang terganggu, dan saat ini sedang beristirahat diperaduan ditemani oleh permaisuri" ucap perdana mentri zhan sambil membungkukan tubuhnya..


"Baiklah paman terima kasih atas keterangannya, aku akan segera mengunjungi ayahanda sekarang" ucap pangeran sambil menganggukan kepalanya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar kaisar.


Para pengawal yang sedang berjaga didepan pintu kamar kaisar memberikan hormat kepada pangeran, lalu membukakan pintu kamar.


Ketika memasuki kamar, pangeran melihat permaisuri sedang duduk disebelah ranjang menemani kaisar yang sedang berbaring lemah, pangeran segera menyapa dan memberikan hormat


"Li er memberikan hormat kepada ibunda" ucap pangeran sambil berlutut.


"Lie er baik baik saja bu dan latihannya ditangguhkan dulu sementara, bagaimana kondisi ayahanda bu?"


"Seperti yang kamu liat lie er, keadaan ayahmu masih belum siuman sejak terakhir kali tidak sadarkan diri" ucap permaisuri sambil menangis.


Lie er segera memeluk permaisuri sambil menenangkannya.


Setelah permaisuri agak tenang, li er kembali bertanya:


"Ibunda permaisuri, ayahanda seperti ini pasti ada penyebabnya, cobalah ibunda mengingat ingat kembali ada kejadian apa sebelumnya".


Permaisuri tercenung sejenak, lalu seperti berkata sendiri dengan penuh ragu :


"Apakah benar gara gara kejadian itu, tapi bagaimana mungkin?"


"Kejadian apa, tolong ceritakan kepada lie er" ucap pangeran dengan penasaran sambil meraih lalu menggenggam tangan ibunda permaisuri.


"Kaisar pernah bercerita pada saat perjalanan pulang dari biara emas, secara tiba tiba kuda yang ditunggangi kepala pasukan mengamuk dan secara tidak sengaja menabrak sepasang kakek nenek dan kedua cucunya" ucap permaisuri.

__ADS_1


"Lalu ayahmu turun dari kereta kuda dan berusaha membantu pasangan tua itu serta cucunya, nenek itu selamat dari musibah ini namun kakek dan cucunya meninggal karena sempat terinjak injak oleh kuda yang sedang mengamuk itu". ucap permaisuri lalu terdiam sesaat dan kemudian melanjutkan penjelasannya:


"Ketika itu ayahandamu berusaha membantu dan mengibur nenek yang sedang sedih, pada saat itu jendral qi berusaha menghalangi kaisar agar kaisar tidak perlu turun tangan sendiri, biar para pengawal yang mengurusnya, namun kaisar menolak, kaisar merasa ikut bertanggung jawab atas kejadian tersebut".


"Setelah kembali ke istana kaisar banyak termenung, lalu setelah beberapa hari kemudian kaisar mulai bertingkah aneh, terkadang tertawa sendiri lalu menangis tiba tiba dan berteriak " tolong maafkan aku...!, lalu kaisar tidak sadarkan diri sampai hari ini.".


"Semua tabib istana telah berusaha keras, namun tidak ada yang berhasil menyembuhkan ayahmu" ucap permaisuri sedih lalu kembali menangis.


Lie er terdiam sesaat lalu ia berkata: "Ibunda, lie er mohon diri sebentar, ada yang ingin lie er tanyakan kepada jenderal qi mengenai kejadian itu".


"Baiklah lie er, pergilah dan segeralah kembali untuk menemani ayahmu". ucap permaisuri.


"Baiklah ibunda permaisuri, lie er mohon pamit" ucap lie er lalu bergegas keluar kamar dan mencari jenderal qi.


Setelah mencari beberapa saat, lie er menemukan jenderal qi yang sedang bercakap cakap dengan thian long dan yuen er disebuah pavilium yang ada ditaman istana.


Pangeran segera menghampiri mereka, lalu pangeran meminta jenderal qi menceritakan kejadian itu secara detail.


Jenderal bercerita dari awal kejadian sampai akhir kejadian itu, jenderal qi lalu berkata:


"Pada saat kejadian itu, hamba sempat mencegah kaisar membantu korban secara langsung sebab hamba seperti mengenali ciri ciri dari pasangan tua itu" ucap jenderal qi sambil menatap pangeran.


Pangeran lie beserta thian long dan yuen er terdiam mendengarkan cerita jenderal qi, lalu jenderal qi meneruskan ceritanya:


"Pada saat itu kakek dan cucunya tewas ditempat, nenek itu sempat menyumpahi kami semua termasuk yang mulia kaisar dan mengancam akan membalaskan dendam" ucap jenderal qi.


"Mengancam kaisar adalah sebuah kejahatan besar, pada saat kami bergerak ingin menangkap nenek itu kaisar mencegah dan menghalangi kami".


"Ketika kaisar membantu memapah nenek tersebut untuk berdiri, kaisar merasakan kalau rambutnya sempat tertarik oleh nenek itu, tetapi kaisar tidak mempermasalahkan hal itu". ucap jenderal qi


"Jendral belum menjawab pertanyaanku, katakan siapa orang orang itu" ucap pangeran lie kesal.


"Pangeran, berdasarkan pakaian yang dikenakan serta logat bicara mereka sepertinya berasal dari suku monggol".ucap jenderal lie.


"Berdasarkan ciri ciri mereka hamba bisa memastikan kalau sepasang orang tua itu dikenal dengan julukan "sepasang malaikat maut dari barat". ucap jenderal lie sambil menghela nafas.


************* Bersambung ***************

__ADS_1


__ADS_2