Tapak Buddha

Tapak Buddha
Biksu Sesat Dari India 2


__ADS_3

Mito segera memasuki kuil halilitar, para murid biksu yang mencoba menghalangi jalannya segera dihabisi tanpa ampun.


Akhirnya mito berhasil menerobos masuk sampai keruangan tempat biksu dhammo berada.


"Guru bagaimana kabarmu setelah bertahun tahun belakangan ini...?" ucap mito.


"Mito beberapa tahun ini aku melewati hari dengan penuh keprihatinan, semua ini disebabkan karena keadaanmu..." ucap biksu dhammo sambil menghela nafas.


"Guru tidak usah kawatirkan diriku lagi karena sekarang aku sudah tercerahkan dan aku sudah mencapai penerangan sempurna jadi aku sekarang adalah Buddha masa kini ..!" ucap mito sambil tertawa lebar.


"Mito muridku, kembalilah kejalan yang benar bertobatlah dan tinggalkan pikiran sesatmu".


ucap biksu dhammo kembali menghela nafas panjang.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu guru...!!!!" ucap mito sambil berteriak dengan keras.


"Guru dan yang lain telah tersesat dengan ajaran palsu yang selama ini ada dan aku...aku adalah kebenaran yang akan membimbing kalian kembali kejalan yang benar....!!!!!" lanjut mito lalu tertawa dengan keras.


"Baiklah mito, rupanya kamu sudah tidak bisa diajak bicara lagi, dengan terpaksa guru akan menegakkan keadilan dan bertindak keras untuk memghentikan pikiran sesatmu...!"


"Ha...ha..ha.., guru aku sudah berusaha menasehatimu tetapi guru rupanya sama seperti yang lain tidak bisa melihat kebenaran dan dibutakan oleh ajaran palsu yang bersumber dari dia...!!!" bentak mito sambil menunjuk rupang buddha besar yang ada diruangan biksu dhammo.


Biksu dhammo hanya kembali menghela nafas panjang lalu tanpa berkata apapun biksu dhammo mulai menghimpun tenaga dalam inti es dan api dan membentuk mudra tapak buddha.


Seakan tidak mau kalah dengan gurunya, mito melakukan hal yang sama, ia juga mulai mengerahkan tenaga dalamnya.


Kuil halilintar mulai bergetar dengan hebat saat kedua orang itu menghimpun jurus yang sama, udara seisi ruangan seakan meledak terkena hempasan energi dari kedua orang itu.


Setelah beberapa saat mito memulai serangan dengan menerjang dan menghantamkan tapaknya kepada biksu dhammo, biksu dhammo segera menghindar dan membalas serangan mito.


Mereka bertempur dengan sangat hebat, dalam waktu sekejap puluhan jurus telah berlalu.


Walaupun mereka menggunakan jurus dan sumber yang sama tetapi perbedaannya jelas terasa jurus jurus yang digunakan mito sangat kejam dan agresif serta mengandung unsur gaib yang jahat.


Tubuh mito memancarkan energi gaib berwarna hijau yang dipenuhi nafsu membunuh yang meluap luap disertai penampakan wujud energinya yang berupa wajah iblis bertaring dibelakangnya sedangkan biksu dhammo mengeluarkan sinar keemasan yang terlihat sangat damai dan menenangkan disertai perwujudan energi yang membentuk sosok buddha


Kuil halilintar yang telah berusia ribuan tahun mulai mengalami kerusakan dan kehancuran akibat dampak pertarungan mereka, tembok pembatas terlihat hancur berantakan karena terkena pukulan nyasar mereka berdua.


Biksu dhammo dan mito terus saling menyerang hingga akhirnya mereka sama sama terkena pukulan dan terluka.


Biksu dhammo mulai berkonsentrasi kembali dan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melancarkan jurus ke 8 tapak buddha


Para suci menghadap Sang Buddha


Melihat hal itu Mito segera melompat mundur kebelakang lalu bersiap mengerahkan jurus yang sama.

__ADS_1


Kuil halilintar yang sudah porak poranda kembali bergetar keras dan sebagian bangunan dan temboknya mulai runtuh berjatuhan.


Akhirnya biksu dhammo melompat kedepan dan menerjang mito, seakan tidak mau kalah mito juga melakukan hal yang sama menerjang kearah biksu dhammo.


Mereka berdua sudah berada dipuncak energi dan kemampuannya dan sudah tidak lagi memikirkan pertahanannya, mereka sama sama ingin mendaratkan pukulan kelawannya berharap lawannya hancur terlebih dahulu.


Blaaarrrr......


Akhirnya kedua tapak biksu dhammo mendarat dikepala dan dada mi to, begitu juga tapak mito mendarat didada biksu dhammo


Bangunan kuil halilintar tidak mampu lagi menahan kekuatan mereka berdua sehingga meledak dan hancur terkena gelombang serangan energi keduanya.


Mereka berdua sama sama terluka parah dan memuntahkan darah segar, lalu tanpa menghiraukan rasa sakit, biksu mito berhasil mencekal tangan biksu dhammo dan menguncinya sehingga biksu dhammo tidak bisa bergerak menjauhinya, lalu mito kembali menyerang dan mendaratkan tapaknya kewajah biksu dhammo.


Daaarrr......


Tapak mito menghantam wajah biksu dhammo, dan seketika itu biksu dhammo terlempar jauh dan tengkorak kepalanya mengalami keretakan dan mengalami pendarahan yang hebat akibat terhantam jurus tapak buddha


Tubuh biksu dhammo terbanting ditanah dalam kondisi luka parah dengan muka bersimbah darah.


Kondisi mito tidak lebih baik,beberapa tulang dadanya hancur dan dikeningnya terdapat luka yang cukup besar akibat terkena serangan tapak biksu dhammo.


Mito berlutut ditanah sambil terus memuntahkan darah segar, sambil tertawa terbahak bahak ia berusaha bangkit dan berjalan menghampiri biksu dhammo yang sudah terkapar ditanah.


Setelah mendekati biksu dhammo tangan mito mulai bergerak dan mencengkram kepala biksu dhammo lalu mengerahkan energi api untuk membakar hidup hidup biksu dhammo.


Energi api dengan cepat memasuki tubuh biksu dhammo dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.


Biksu dhammo yang pasrah dengan keadaannya mencoba untuk tenang lalu akhirnya beliau memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi untuk memasuki tahapan meditasi hingga rasa sakit perlahan mulai lenyap.


Energi api terus merambat dan mulai membakar tubuh biksu dhammo sampai habis perlahan jasad biksu dhammo pun mulai hancur menjadi abu.


Mito yang melihat fisik gurunya hancur tertawa panjang, lalu tiba tiba pandangan matanya membentur sesosok pedang panjang berwarna hitam dengan garis menyala berwarna merah seperti lidah api.


"Pedang suci Halilintar....!!!" teriak mito dengan ekapresi takjub.


"Ternyata tua bangka ini menyembunyikannya didalam tubuhnya, pantas aku tidak bisa mendeteksi keberadaannya " ucap mito sambil mengulurkan tanggannya untuk menjangkau dan mengambil pedang suci itu


Ketika mito menyentuh pedang suci, seketika mito berteriak kesakitan dan melepaskan genggaman tangannya pada pedang suci itu.


Telapak tangan mito terlihat melepuh dengan kulitnya yang membara berwarna kemerahan.


"Kurang ajar kan besi tua, beraninya kau menolak diriku sang buddha hidup" teriak mito penuh emosi, lalu ia mengerahkan seluruh kekuatannya dan berusaha kembali mengambilnya.


Seolah memiliki nyawa dan tidak sudi dipegang dengan mito, pedang suci halilintar melesat terbang dengan cepat menghindari mito.

__ADS_1


Tiba tiba bilah sarungnya yang bermotif seperti lidah api mengeluarkan sinar terang kemerahan dan menyemburkan api yang besar sehingga mito melompat mundur untuk menghindarinya.


Setelah menyerang mito, pedang suci halilintar terbang berputar putar dengan cepat lalu melesat tinggi keangkasa dan menghilang dari pandangan.


"Kurang ajar kau pedang sialannnn......!!! teriak mito dengan penuh amarah, lalu ia segera mengerahkan tenaga dalamnya dan melepaskan jurus jurusnya kesegala arah untuk melampiaskan kekesalannya.


Energi serangan mito menghancurkan area sekitar kuil halilintar yang telah rata oleh tanah dan salah satu serangannya memghancurkan sebuah rupang buddha yang terbuat dari batu alam


Braaakkkk.......


Rupang buddha hancur berkeping keping terkena serangan mito. Setelah puas melampiaskan kekesalannya mito terduduk lunglai ditanah dengan nafas terengah engah karena kehabisan tenaga.


Akhirnya mito memutuskan bersamadi untuk memulihkan tenaga dan mengobati luka dalamnya.


Setelah kondisinya mulai membaik, mito memutuskan untuk pergi dari lokasi reruntuhan kuil halilintar.


Ketika mito siap meninggalkan tempat itu, tiba tiba matanya menangkap bias sinar berwarna kehijauan yang berasal dari reruntuhan patung buddha yang dihancurkan olehnya.


Mito bergegas mendatangi dan membongkar reruntuhan yang berupa puing batu, semakin dalam mito menggali sinarnya semakin terang dan mengeluarkan energi Im yang semakin kuat dan bersifat negatif.


Akhirnya pada kedalaman kira kira 5 meter, mito menemukan sebuah peti besar dan panjang yang terbuat dari besi yang mulai berkarat.


Dengan tangan bergetar mito meraih dan mengambil peti besi tersebut lalu mito membawanya naik kepermukaan tanah.


Setelah membersihkan peti besi dari tanah merah yang melekat akhirnya wujud peti itu terlihat dengan jelas.


Pada permukaan peti terdapat guratan guratan seperti tulisan dalam bahasa pali yang bertuliskan:


"Pedang Iblis"


"Ternyata tua bangka itu menyembunyikan dan menyegel pedang iblis disini" ucap mito.


Lalu disekeliling peti besi seperti terdapat banyak tulisan tulisan berbentuk mantra yang berfungsi sebagai segel untuk meredam hawa jahat yang berasal dari pedang iblis.


Penasaran dengan isinya lalu mito membuka kotak besi secara paksa dan akhirnya kotak itu berhasil dibuka.


Didalam kotak terdapat sebilah pedang panjang berwarna hitam kehijauan dengan motif ukiran tengkorak dalam jumlah banyak disarungnya dan pada ujung pegangan tangannya terdapat ukiran tengkorak dengan mata merah menyala.


Pedang ini mengeluarkan energi negatif yang sangat pekat dan mengerikan tetapi mito justru merasa nyaman dan merasakan kesegaran pada tubuhnya.


Perlahan mito meraih pedang iblis dan mengeluarkannya dari kotak besi tersebut.


Ketika tangannya menyentuh pedang iblis, mi to merasakan suatu aliran energi yang sangat kuat mengalir masuk kedalam tubuhnya, seketika rasa nyeri akibat luka dalam yang dideritanya berkurang jauh dan tubuhnya menjadi sangat ringan dan nyaman.


Ketika mito mencabut bilah pedang dari sarungnya seketika itu juga bilah pedang iblis memancarkan cahaya hijau yang bercampur dengan asap hitam, dari kejauhan terdengar seperti suara raungan mengerikan yang berasal dari dimensi lain.

__ADS_1


"Ha..ha..ha..akhirnya aku memiliki senjata yang sepadan untukku" ucap mi to sambil tertawa dengan keras lalu mengacungkan pedang iblis keatas.


Bersambung......


__ADS_2