Tapak Buddha

Tapak Buddha
Mencar Bai Long 5


__ADS_3

Thian long yang melihat reaksi yuen er segera menghampirinya :


"Yuen er ada apa, kenapa mukamu mendadak pucat dan berkeringat seperti itu apa kamu sedang sakit?"


Thian long membantu menyeka keringat yang ada diwajah yuen er.


"Aku tidak apa apa hanya kelelahan saja" ucap yuen er sambil tersenyum, dalam hati yuen er berkata:


"Lebih baik kutanyakan langsung kepada kakak apa alasannya sampai tega membunuh mereka, sementara ini lebih baik aku tidak usah memberitahu kak long dulu".


"Oh ya, kak sekarang jenazah pendekar bai telah diketemukan, apa rencana kakak kedepan?" tanya yuen er.


"Rencananya aku akan membawa jenazah bai long kembali puncak emas, biarlah guru yang memutuskan apakah bai long akan dikebumikan dipuncak emas atau dikembalikan ke istana" ucap thian long dengan nada sedih.


"Kalau begitu bagaimana dengan xiao mei kak?" tanya yuen er kembali.


Thian long tertawa sambil menatap yuen er dia berkata dengan lembut:


"Kamu ini gmn xiao mei itukan salah satu dari anak buahmu, ya keputusannya tentu ada ditangan kamu"


Yuen er tertawa kecil sambil mengutuki kebodohannya iapun berkata:


"Lebih baik xiao mei kita makamkan disini terlebih dahulu kak" ucap yuen er.


"Baiklah kalau begitu aku akan segera membuat peti mati dari batang kayu pohon yang ada disekitar sini". ucap thian long.


"Baiklah kak long, sementara kak long membuat peti mati aku akan kembali keistana bulan untuk mengambil kereta kuda" ucap yuen er.


"Baiklah, hati hati yuen er" ujar thian long sambil mengusap kepala yuen er.


"Iya kak, aku akan berhati hati lagi pula aku juga sudah bukan anak kecil lagikan" ucap yuen er sambil tertawa lebar.


Thian long tertawa lebar melihat tingkah pola kekasihnya.


Yuen er bergegas kembali keistana bulan, sesampainya diistana bulan yuen er berencana untuk menemui kakaknya terlebih dahulu.


Yuen er segera berjalan menuju kamar pribadi kakaknya, namun ia tidak menemukan kakaknya disana, setelah bertanya kepada dayang pembantu yang biasa melayani kakak nya, yuen er mendapatkan informasi kalau kakaknya ratu bulan sedang melakukan latihan tertutup sehingga tidak bisa diganggu.


Setelah mengetahui hal itu, yuen er meminta pengawal istana bulan untuk menyiapkan kereta kuda serta perbekalan untuk dijalan.


"Lebih baik kutanyakan nanti saja setelah pulang menemani kak long kepuncak biara emas" katanya membatin.


Setelah semuanya siap yuen er bergegas kembali kehutan membawa serta kereta kuda untuk menjemput thian long.


Disisi lain thian long dengan cekatan menebang 2 pohon besar dan dalam waktu yang singkat thian long sudah menyelesaikan 2 buah peti mati.

__ADS_1


Setelah selesai membuat oeti mari yang sederhana. thian long mengerahkan tenaga dalamnya dan menghantamkan tapak tangannya kearah tanah didepannya sehingga membentuk satu lubang besar yang cukup dalam.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya yuen er tiba dilokasi, lalu mereka segera memakamkan jasad xiao mei secara sederhana.


Setelah selesai memakamkan jasad xiao mei, thian long berdoa untuk ketenangan arwah xiao mei dialam sana.


Setelah selesai dengan semuanya, barulah thian long menaikan peti mati yang sudah berisi jasad bai long untuk segera dihantarkan kebiara emas.


Thian ling segera naik kereta kuda dan memegang tali kekangnya lalu menoleh kearah yuen er yang masih berdiam diri.


"Bagaimana yuen er, apakah kamu mau ikut menemaniku kepuncak emas?" tanya thian long.


Yuen er menganggukan kepalanya, lalu thian long kembali bertanya:l sambil tertawa:


"Jika kakakmu tahu akan hal ini dia tentu akan marah besar kepadamu karena telah berani menentang perintahnya".


"Urusan dengan kakak biarlah nanti aku yang akan memghadapinya, aku hanya ingin terus selalu bersama denganmu kak" ucap yuen er sambil menundukan kepalanya.


"Baiklah urusan kakakmu biarlah kita hadapi bersama, ayo kita segera berangkat" ajak thian long tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada yuen er.


Dengan wajah berseri seri yuen er mengulurkan tangan menyambut tangan thian long lalu naik keatas kereta dan duduk disebslah bai long.


Setelah semuanya siap mereka segera memulai perjalanan panjang mereka menuju biara puncak emas.


Akhirnya mereka berdua mendapatkan kesempatan untuk kembali bersama, sepanjang perjalanan kedua sejoli ini duduk berdampingan dan terus bersama bagai tak terpisahkan.


Setelah beberapa saat merekapun tiba digerbang biara, para murid biara emas terkejut melihat kedatangan sebuah kereta kuda yang mengangkut peti jenazah.


Suasana seketika menjadi riuh, ketika para murid biara berkumpul lalu berkerumun disekitar kereta kuda yang mengangkut peti jenazah, dan sebagian lagi ada yang naik ke puncak biara untuk melaporkan kejadian tersebut.


Thian long dan yuen er segera turun dari kereta untuk menyapa sertamenenangkan para murid biara.


"Celaka....celaka....." ucap beberapa murid biara berteriak teriak sambil memasuki kompleks biara.


Mendengar suara ribut yang ada diluar para tetua biksu segera keluar dan menemui para murid tersebut.


"Celaka guru... kak thian long dan nona yuen datang kesini dan membawa sebuah peti jenazah, ayo cepat guru kita temui mereka..." ucap mereka panik.


"Tenang dulu, bicara yang jelas dan jangan berteriak teriak diruangan dharmasala, ketua biksu sedang bermeditasi saat ini jangan sampai terganggu" ucap seorang salah seorang tetua biksu senior sambil menegur anak muridnya.


Lalu seorang murid biara menjelaskan tentang kedatang thian long dan yuen er yang membawa kereta kuda berserta peti jenazah.


"Peti jenazah...? untuk apa anak itu membawa peti jenazahkesini, dan jenazah siapakah yang dibawanya kesini apakah ada yang tahu tentang hal ini?" ucap salah satu tetua biksu senior.


Biksu senior yang lainnya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Baiklah aku akan melihat keadaannya, kalian berdua cepatlah melapor kepada biksu ketua mengenai hal ini".


"Amitabha" ucap kedua biksu senior.


Biksu senior bergegas keluar dari biara, didampingi oleh salah seorang murid biara menuruni anak tangga menuju ke gerbang biara tempat thian long dan murid lainnya berkumpul.


"Amitabha, ada apa ini ramai ramai disini, long er apa yang sedang kau lakukan disini, dan kenapa engkau membawa kereta beserta peti jenazah yang ada didalamnya?" terdengar suara biksu senior bergema dihalaman gerbang biara.


"Hormat kepada biksu senior" ucap thian long memberikan hormat diikuti oleh yuen er.


"Biksu senior, aku datang kemari bersama yuen er membawa kabar buruk tentang bai long, bisakah aku masuk kedalam membawa serta peti jenazah ini?"


Biksu senior mengernyitkan dahinya, lalu tiba tiba terdengar suara biksu wu ming dari arah biara :


"Amitabha, bawalah masuk peti itu kesini long er".


"Baiklah guru" ucap thian long, lalu ia bergegas menghampiri kereta kuda dan memanggul peti jenazah dipundaknya bersama yuen er ia segara naiki tangga biara dan memasuk kedalam biara.


Sesampainya didepan pintu masuk biksu wu ming didampingi para biksu senior dan puluhan murid lainnya telah berdiri menanti kedatangan thian long dan yuen er.


Perlahan thian long menurunkan peti jenazah dan menaruhnya perlahan dilantai, lalu segera menghampiri biksu wu ming dan memberikan hormat kepadanya.


"Guru long er datang menghadap guru" ucapnya sambil berlutut memberikan hormat.


"Bangunlah long er, katakan apa yang terjadi dengan bai long, dan peti jenasah siapakah yang kau bawa kemari". ucap biksu wu ming dengan lembut.


"Guru aku kembali kesini membawa serta bai long pulang untuk menghadap guru" ucap thian long sambil bangkit berdiri.


"Amitabha....." ucap guru wu ming lalu perlahan berjalan menghampiri peti jenazah dan memegang peti jenazah itu.


"Tidak kusangka bai long, engkau pulang kembali menghadapku dalam kondisi seperti ini".


Para guru senior beserta para murid menghampiri peti jenazah bai long dan mengelilinginya.


"Long er, bisakah kau pindahkan peti jenazah bai long ke dharma salla (ruang doa) dan segera kita akan mengadakan persembahyangan bersama untuk mendoakan ketenangan arwah bai long".


"Baiklah guru..." ucap thian long, lalu ia memghampiri peti jenazah bai long dan mengangkatnya kedalam ruangan doa yang berada didalam biara.


Yuen er perlahan menghampiri biksu wu ming dan berkata dengan perlahan: "Guru biksu bolehkah aku ikut serta mendoakan pendekar bai?"


"Amitabha, mari silakan nona yuen ".


""Terima kasih guru" ucap yuen er sambil membungkukan tubuhnya memberikan penghormatan.


Biksu wu ming tersenyum sambil membungkukan tubuhnya membalas penghormatan yuen er.

__ADS_1


Setelah peti diletakan ditengah Dharmasalla (Ruang doa) mereka semua segera melakukan persembahyangan bersama untuk ketenangan arwah bai long.


Bersambung.....


__ADS_2