Tapak Buddha

Tapak Buddha
Perguruan Kuil Langit 2


__ADS_3

Disaat yang sama ketika thian long sedang bermeditasi, tiba tiba thian long seperti mendapatkan firasat buruk.


Didalam meditasinya ia mendapatkan penglihatan seekor naga berwarna berwarna merah tengah menyerang kota raja, dari mulutnya menyemburkan api dan membakar apa yang ada disekitarnya.


Thian long menyaksikan timbunan mayat penduduk dan istana raja yang terbakar dengan hebatnya, kekacauan melanda seluruh negri.


Thian long sontak terjaga dari meditasinya, keringat dingin mengucur diseluruh tubuhnya, lalu perlahan thian long keluar dari gubuknya dan melangkah ke depan.


Dikejauhan thian long melihat kearah kota raja sambil mengusap wajahnya dalam hati thian long berkata:


"Pertanda apakah ini, kenapa perasaanku menjadi bergejolak tak menentu seperti ini, firasatku mengatakan akan ada kejadian besar yang akan terjadi dalam waktu dekat, lalu penampakan yang ada didalam meditasiku apakah ini menandakan pertanda buruk?".


Disisi yang lain, biksu wu ming yang sedang mengadakan puja bakti juga mendapatkan pertanda buruk yang sama.


Pada saat sedang melantunkan doa, tiba tiba biksu wu ming dan disaksikan seluruh murid dan umat biara melihat rupang buddha emas yang berada dialtar mengeluarkan air mata dikedua kelopak matanya.


Disaat yang bersamaan, tiba tiba ada teriakan keras lalu masuklah seorang murid biksu sambil berlari dengan nafas terengah engah berkata :


"Guru biksu celaka...celaka...., rupang buddha emas raksasa yang berada dipuncak gunung pada bagian wajahnya meneteskan air mata darah.....".


Biksu wu mimg dan para biksu senior salang bertatapan, wajah mereka terlihat sangat kaget dan terguncang mendengarkan kabar itu.


"A..apa..., hal yang sama juga terjadi diatas sana?" ucap salah satu biksu senior.


Seketika ruangan kebaktian menjadi riuh lalu biksu wu ming diiringi para biksu senior dan umat lainnya beegegas berlarian keluar untuk menyaksikan kejadian aneh tersebut.

__ADS_1


Biksu wu ming mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya dan berlari secepat yang ia bisa dan tubuhnya melesat kearah puncak emas dimana rupang buddha raksasa yang terbuat dari emas murni berada.


Setibanya dipuncak emas, Biksu wu ming menyaksikan kejadian langka yang belum pernah terjadi sebelumnya, dikedua kelopak mata rupang buddha mengeluarkan air yang berwarna merah, wajah rupang yang biasanya selalu tersenyum lembut kini berubah seperti sedang muram.


"Amitabha, Buddha maha pengasih pertanda apakah yang sedang ditunjukan kepada hambamu ini?" ucap biksu wu ming dengan suara bergetar lalu berlutut dihadapan rupang buddha raksasa.


Para biksu senior diikuti para murid biksu dan umat biara mulai berdatangan, lalu secara serentak mereka semua ikut berlutut dan berdoa serta memohon dihadapan rupang buddha raksasa.


Mereka secara bersama sama melantunkan doa memohon agar terhindar dari semua malapetaka yang akan terjadi diwaktu yang akan datang.


Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung tebal dan tidak lama kemudian turunlah hujan deras, walaupun dalam keadaan hujan lebat dan udara yang sangat dingin biksu wu ming berserta para murid muridnya beserta para umat biara seperti tidak terusik, mereka semua tetap berlutut untuk berdoa serta memohon kepada Sang Buddha untuk keselamatan rakyat dan negara.


Sementara itu dimarkas besar kuil langit, para anggota sekte serta para petingginya sedang berkumpul di ruang aula besar yang cukup mewah.


Ketika pemimpin besar kuil langit tiba diaula diiringi dengan putranya, semua murid dan petinggi partai berbaris rapih lalu berlutut dan memberikan hormatnya kepada pemimpinnya.


Dengan sikap elegan, ketua partai lee san gui, duduk diatas singgasana lalu putranya berdiri disisi kanannya.


Para petinggi partai beserta ratusan murid muridnya berlutut memberikan hormat kepada ketua lee.


"Hormat kepada ketua, semoga panjang umur dan sehat selalu"


"Bangunlah kalian semuanya" ucap ketua le denga penuh wibawa.


"Terima kasih ketua" ucap mereka serempak.

__ADS_1


Lalu pertemuan ini mulai membahas kembali perkembangan yang terjadi didunia persilatan secara lebih spesifik, lalu setelah itu mereka melanjutkan membahas tentang kejadian yang terjadi diistana kerajaan beberapa tahun belakangan ini.


Ketua lee menyimak setiap informasi yang masuk kepadanya, ia terus mendengarkan tanpa sekalipun menyela ataupun memotong penjelasan yang sedang berlangsung.


Setelah semua informasi telah diterima dengan lengkap barulah ia berkata:


"Untuk menjadi penguasa dunia persilatan tampaknya kita harus menundukan partai partai besar yang ada terlebih dahulu, setelah mereka bergabung dengan kita barulah kita hancurkan biara puncak emas beserta thian long".


"Ayah bagaimana kalau para ketua partai itu tidak bersedia bergabung dan tunduk kepada kita?" ucap lee xiao gui


"Jawabannya hanya satu anakku, hancurkan mereka" ucap ketua lee dengan tatapan mata yang tajam.


"Baiklah semuanya persiapkan segala sesuatunya untuk menjalankan rencana kita untuk menahlukan partai partai yang ada, dalam 5 hari kedepan aku mau semua sudah mulai bergerak...!!!"


"Baik ketua....!!!!!!"


"Rapat dibubarkan semua kembali pada pos masing masing, untuk para murid mulailah berlatih dari sekarang, persiapkan kemampuan kalian untuk kejayaan partai kita.....!!!!!!!"


"Hidup ketua......hidup kuil langit....!!!!!!! ucap lara murid parrai secara serentak.


Lalu setelah itu mereka beranjak dan mulai membubarkan diri.


"Tapak Buddha, sudah lama aku mendengar tentang kehebatan ilmu ini, aku sudah tidak sabar untuk membuktikan sampai dimana kehebatannya" ucap tetua lee dengan mata berbinar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2