Tapak Buddha

Tapak Buddha
Pertualangan Thian Long 1


__ADS_3

"Baiklah karena semuanya telah selesai, lie er mohon diri dulu, terima kasih kak long atas bantuannya". ucap lie er.


"Sebentar lie er" ucap thian long lalu mengeluarkan pedang naga putih milik bai long dan menyerahkan kepada lie er sambil berkata:


"Lie er, ini adalah pedang naga putih milik adik bai kukembalikan kepadamu".


"Terima kasih kak long tetapi pusaka naga putih ini biar kak long saja yang menjaganya sebagai tanda mata dari bai longi dan biarlah pusaka ini membantu kak long dalam menegakkan keadilan didunia persilatan" ucap lie er.


" Baiklah semuanya, lie er mohon diri terlebih dahulu, suatu saat nanti lie er akan kembali menyambangi kalian semua". lanjut lie er seraya berpamitan kepada thian long dan guru wu ming.


"Berhati hatilah dijalan lie er, sampaikan salam guru kepada yang mulia kaisar" ucap guru wu ming.


"Baiklah guru" ucap lie er seraya membungkukkan tubuhnya memberikan hormat.


Setelah itu pangeran lie beserta rombongan meninggalkan biara emas membawa abu jenazah bai long untuk segera kembali ke istana.


Setelah kepergian pangeran lie, thian long juga berpamitan kepada biksu wu ming untuk segera kembali kepuncak thay san.


"Guru, long er juga mohon pamit darimu" ucap thian long.


"Baiklah long er jaga dirimu baik baik, kalau sempat sering seringlah berkunjung kesini". ucap biksu wu ming.


"Baiklah guru, mohon jaga kesehatan guru".


ucap thian long lalu membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan biara puncak emas.


Sepeninggal thian long dan lie er, biksu wu ming memasuki ruang meditasinya dan melakukan pelatihan tertutup.


Disisi lain, yuen er menggantikan posisi ketua perguruan istana bulan karena keadaan kakaknya yang sudah tidak mampu lagi untuk mengurus perguruan.


Yuen er mengurus semua keperluan partai dan setwlah selesai dengan tugas tugasnya ia kembali menemani dan membantu mengurus kakaknya ratu bulan yang sudah lumpuh dan hilang ingatan.


Setelah selesai mengurus kakaknya, yuen er berjalan jalan sendiri ditaman istana bulan lalu duduk di dalam pavilium istana sambil menikmati udara malam.


Ingatannya kembali kemasa masa disaat sedang bersama thian long, seraya menatap langit malam yuen er berucap dengan nada lirih:


'Kak long, bagaimana keadaanmu sekarang, aku sangat merindukanmu, apakah kau juga merindukanku disana?"


Perlahan air matanya perlahan mengalir keluar, sambil menelungkupkan kepalanya dimeja yang berada didalam pavilium yuen er perlahan mulai menangis sambil terisak dengan sedih ia berbisik:


"Aku sangat lelah dengan keadaan ini, aku sama sekali tidak mendambakan jabatan ketua atau apapun, aku hanya ingin hidup sederhana bersama dengan orang yang aku cintai, Thien semoga engkau mengabulkan keinginan yang sederhana ini"


(Note : Thien berarti langit atau Tuhan)

__ADS_1


Setelah yuen er selesai melampiaskan kesedihannya, ia kembali kekamarnya untuk beristirahat.


Disisi lain thian long kembali meneruskan perjalanannya, sebelum kembali kepuncak thay san ia berencana untuk bertualang untuk melihat dunia luar.


Thian long sengaja mengambil jalan memutar yang lebih jauh kepuncak thay san. Setelah beberapa lamanya berjalan thian long akhirnya menemukan sebuah kota kecil dikejauhan.


Thian long bergegas memasuki kota kecil, seampainya didalam kota suasana begitu sunyi bagaikan kota mati.


Pintu dan jendela rumah penduduk sekitar tertutup rapat dan para penghuninya berada didalam rumah. Thian long merasakan dirinya sedang diawasi oleh penduduk sekitar dari balik pintu rumah mereka masing masing.


Ketika thian long memasuki lebih jauh kedalam kota, ternyata ada 1 kedai makan yang masih buka.


Thian long bergegas berlari dan segera memasuki kedai untuk mengisi perut sekalian mencari informasi keberadaan kota ini.


Ketika memasuki kedai seorang pelayan segera menghampirinya lalu berkata:


"Selamat datang tuan, silakan duduk dan mau pesan apa?"


"Tolong bawakan aku sebotol arak serta semangkuk nasi beserta sepiring lauknya" ucap thian long.


"Baiklah tuan, tunggu sebentar" ucap pelayan.


Tidak lama kemudian pesanan thian long telah siap diletakan dimeja.


Setelah selesai makan, thian long menikmati sebotol arak pesanannya lalu ia memanggil pelayan yang tadi lalu berkata:


Pelayan restoran memghela nafasnya dengan berat, lalu mulai bercerita:


"Dahulu kota ini sangatlah ramai, bahkan banyak para pedagang yang berasal dari daerah lain berdatangan disini, tetapi sejak rombongan para penjahat itu datang keadaannya sudah tidak sama lagi dan menjadi seperti ini".


"Rombongan penjahat?" tanya thian long sambil melihat sekeliling.


"Benar tuan, mereka datang setiap malam bulan purnama dan setiap datang merrka selalu meminta jatah dan kalau kami tidak memberikan mereka akan meminta gantinya dengan nyawa 10 orang penduduk kota" ucap pelayan kedai.


"Malam bulan purnama berarti malam ini" ucap thian long sambil meneguk araknya.


"Benar sekali tuan, lebih baik setelah selesai minum tuan pergi secepatnya dari kota ini agar tidak terkena masalah dengan mereka" ucap pelayan kedai.


"Selama ini apakah kalian hanya menuruti permintaan mereka dan tidak mencoba melawan?" ucap thian long


"Dulu dikota ini pernah ada 1 perguruan silat yang memiliki murid cukup banyak, ketika rombongan penjahat itu mendatangi kota kami untuk pertama kalinya, ketua perguruan beserta para muridnya bertempur dengan mereka". ucap pelayan kedai.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya thian long.

__ADS_1


"Ketua perguruan beaerta seluruh muridnya dibantai habis oleh para penjahat itu, dan sekarang kami hanya bisa pasrah saja". ucap pelayan kedai tertunduk lesu.


"Kalau begitu kenapa kaliam tidak pindah saja dari kota ini dan mencari tempat lain untul ditinggali?" ucap thian long.


"Beberapa penduduk kota ini pernah ada yang mencoba pindah dari sini".


"Setelah beberapa hari kemudian para penjahat itu datang kembali dan menenteng kepala dari para penduduk yang berusaha pergi dari sini".


"Mereka memperingati kami agar jangan coba coba melarikan diri atau melapor pada pihak kerajaan, atau mereka akan membunuhi kami semua". ucap pelayan kedai dengan geram.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu kedatangan mereka disini" ucap thian long lalu kembali meminum araknya.


"Aku sarankan lebih baik tuan pergi dari sini kalau tidak ingin kehilangan nyawa dikota kami". ucap pelayan kedai.


"Jangan kawatir tuan, akan kupastikan sepak terjang mereka cukup sampai malam ini saja". ucap thian long sambil berdiri dan menaruh sekeping uang perak dimeja makannya untuk membayar makanan dan minumannya.


Setelah selesai makan thian long mencari penginapan untuk beristirahat dan menunggu kedatangan para penjahat yang diceritakan.


Setelah malam tiba, terdengar banyak sekali suara derap lari kuda tidak lama kemudian datanglah rombongan pasukan berkuda yang kira kira berjumlah ratusan orang.


"Wahai penduduk kota, cepat keluar dari rumah kalian atau akan kubakar kota ini" ucap salah seorang penjahat yang berpenampilan seram dan berbadan gempal.


Tidak lama kemudian para penduduk telah berkumpul dihadapan mereka lalu pria berbadan gempal itu berteriak membentak :


"Kami datang untul mengambil jatah kami, apakah sudah kalian siapkan?"


Seorang pria yang sudah berumur maju kedepan sambil memberikan hormat pria tua itu berkata:


"Tuan kasihanilah kami, kami semua telah berusaha mengumpulkan uang tetapi karena kondisi kota sekarang sepi seperti ini sudah tidak pernah ada lagi pedagang ataupun para pengepul yang datang untuk berdagang sehingga untuk makan sehari haripun sudah sulit".


"Banyak alasan kau pak tua, akan kupenggal kepalamu saat ini juga" ucap pria berbadan gempal dengan muka bengisnya.


Setelah berkata seperti itu, pria gempal itu mencabut goloknya yang panjang lalu mengayunkan goloknya kebatang leher bapak tua itu.


Sedikit lagi golok itu akan menebas leher pria tua itu, tiba tiba melesat sebutir batu dan menghantam mata golok itu hingga goloknya terlempar.


Pria yang bertubuh gempal itu berseru kaget lalu membentak dengan kencang dan berkata:


"Kurang ajar siapa yang....Arrghhhk...... tiba tiba suara bentakannya berhenti dan berganti teriakan rasa sakit.


Rupanya ketika pria gempal itu sedang berbicara sebutir batu kembali melesat dan memghantam mulutnya hingga bibirnya pecah dan beberapa giginya tanggal.


"Kurang ajar, siapa yang berani bermain main dengan gerombolan serigala angin keluar kau jangan jadi pengecut" bentak seorang seorang anggota gerombolan dengan suara keras yang disertai tenaga dalam.

__ADS_1


Tiba tiba datang sekelebat bayangan dan berhenti didepan para penduduk kota yang sedang ketakutan, setelah membalikan tubuhnya kearah gerombolan serigala angin, dan wajahnya terlihat jelas dan ternyata sosok itu adalah thian long yang sedang berdiri dengan tangan bersedekap dada.


bersambung.....


__ADS_2