Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Nameera Drop


__ADS_3

"Auw," pekik Tareeq perlahan membuka matanya.


Pria itu bangkit dan kembali duduk di sofa sembari mengusap dahinya yang sedikit memerah akibat terbentur dengan kaki meja. Rasanya sedikit aneh, seumur-umur ia tidak pernah terjatuh saat tidur, dan ini adalah kali pertamanya jatuh.


"Apa baru saja terjadi sesuatu yang tidak ku ketahui?" monolognya.


Matanya kini mengarah pada piring yang berisi beberapa potong kunafa di atas meja. "Apa Zulaikha baru saja kemari?" batin pria itu Sepertinya jatuhnya ia saat tidur dengan kedatangan sang istri memiliki hubungan yang erat, begitulah hipotesisnya saat ini.


-


Sementara di kamar, Zulaikha beberapa kali mengucapkan kata maaf karena sudah membuat sang suami terjatuh dari sofa.


"Maaf yah Misua, sesungguhnya aku nggak bermaksud membuatmu jatuh, ini juga karena salahmu, siapa suruh meluk-meluk tanganku, eh tapi salahku juga sih karena menarik tanganku secara paksa, tapi itukan tidak akan terjadi jika dia tidak memeluk tanganku," ucapnya berulang-ulang,.merasa bersalah tapi tak ingin disalahkan.


"Pokoknya, dia yang salah," lanjutnya, kali ini dengan keyakinan yang pasti.


Dret dret dret


Suara ponselnya yang bergetar kini mengalihkan perhatiannya. Nama Nameera yang tertera di layar ponsel, membuat Zualikha tersenyim lalu segera mengangkatnya.


"Halo, assalamu 'alaikum," ucap Zulaikha membuka pembicaraan melalui sambungan telepon.


"Wa'alaikum salam, Nak, ini Kakek. Nameera kembali drop dan sekarang sudah berada di rumah sakit. Datanglah kemari bersama Tareeq," ujar Kakek Husein di seberang telepon.


"Astaghfirullah, baik Kek, Zulaikha dan Tareeq akan ke sana sekarang," ujar Zulaikha lalu mengakhiri teleponnya.

__ADS_1


Gadis itu segera mengganti pakaian rumahnya dengan abayha hitam dan memakai kerudung berwarna senada, setelah itu ia segera keluar dari kamar dan berlari menuju ruang kerja Tareeq.


Bersamaan dengan itu, Tareeq juga keluar dari ruang kerjanya dengan membawa piring yang sudah kosong.


"Ayo ke rumah sakit, Nameera drop," ucap Zulaikha dengan wajah khawatir.


"Apa? Baiklah." Tareeq segera mengambil kunci mobilnya di kamar lalu segera turun bersama Zulaikha dan meninggalkan piring kosongnya di meja ruang tamu karena buru-buru.


Mobil segera melaju meninggalkan rumah itu dengan kecepatan tinggi. Lagi-lagi suasana hening menyelimuti mobil.


"Itu ...."


"Itu ...."


Ucap keduanya bersamaan.


"Itu .... Aku minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya karena ...."


"Karena apa?"


"Karena kamu memeluk tanganku tadi."


"Memeluk? Aku?" Tareeq menunjuk ke arah dirinya. "Tidak mungkin," lanjutnya sembari mengelengkan kepalanya.


"Astaga, untuk apa aku berbohong, faktanya kamu memang memeluk tanganku."

__ADS_1


"Aku tidak percaya, kamu masih ingatkan dengan perkataanku, jangan mengharapkan apa pun dariku, jadi jangan pula memancing sesuatu yang tidak akan kamu dapatkan," tegas pria itu, membuat Zulaikha memutar bola mata malas sembari membuang napas kasar.


"Astaga, percuma juga aku jelaskan sampai mulutku berbusa, orang ini terlalu percaya diri, sudah salah masih ngeyel, dasar kulkas aneh," umpatnya dengan bahasa Indonesia.


"Kamu bilang apa? Kamu mengumpatku kan?" tanya Tareeq tidak paham akan maksud gadis di sampingnya.


"Bodo amat," balas Zulaikha lagi-lagi dengan bahasa Indonesia, lalu membuang muka ke arah jendela, karena begitu kesal.


Tak terasa, mobil kini tiba di rumah sakit tempat di mana Nameera di rawat.


"Akhirnya kalian datang juga," ucap Kakek Husein saat melihat kedatangan Tareeq dan Zulaikha.


"Bagaimana keadaan Nameera?" tanya Tareeq khawatir.


"Dia sudah sedikit membaik, sekarang sedang tidur. Kata dokter, kita harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang, jika tidak, keadaan Nameera akan semakin memburuk," ungkap Kakek Husein.


Tareeq meraup wajahnya frustrasi. Sampai saat ini, ia sama sekali belum menemukan donor yang cocok untuk adiknya itu.


"Kakek, selain Tareeq, apa Nameera memiliki keluarga lain?" tanya Zulaikha.


"Tidak, Nak. Anak Kakek hanya ayah Tareeq dan Afra, dia pun tidak memiliki anak karena suaminya telah lama meninggal," jawab Kakek Husein.


"Astaghfirullah, lalu bagaimana ini?" batin Zulaikha juga ikut frutrasi.


Satu-satunya yang bisa menjadi pendonor saat ini adalah saudara seibu Tareeq, jika Ibu Tareeq memiliki anak dengan suami barunya, tapi jika mengingat waktu kepergiannya 12 tahun yang lalu,, itu berarti kalau pun dia memiliki anak, tetap saja usianya belum memenuhi kriteria pendonor.

__ADS_1


"Ya Allah, mudahkan kami menemukan pendonor yang cocok untuk Nameera."


-Bersambung-


__ADS_2