
Waktu semakin larut saat Tareeq dan Zulaikha telah selesai melakukan pembicaraan serius mereka.
"Aku akan melanjutkan tidurku," ucap Zulaikha lalu berjalan menuju kamarnya. Namun, ia menghentikan langkahnya saat menyadari Tareeq mengikutinya dari belakang.
"Kenapa mengikutiku?" tanyanya setelah berbalik menatap heran sang suami.
"Aku juga ingin tidur," jawab pria itu.
"Tapi ini kamarku."
"Aku tahu."
Zulaikha mengerutkan keningnya. "Kamarmu di sana." Ia menunjuk ke kamar yang berada tidak jauh dari kamarnya.
"A-aku ingin tidur bersamamu," cicit pria itu tertunduk. Ia sungguh tidak menyangka kata-kata itu akhirnya akan keluar dari mulutnya sendiri setelah apa yang ia lakukan selama ini.
"Bersamaku?" Ulang gadis itu dengan tangan yang menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Iya, bukankah tadi aku sudah mengatakan bahwa mulai saat ini aku akan memperlakukanmu sebagai istriku yang sesungguhnya?"
Zulaikha terdiam, sepertinya pria di hadapannya ini memang serius dengan perkataannya.
"Apa kamu yakin?" tanya Zulaikha.
"Tentu saja, ayo." Tanpa aba-aba, Tareeq langsung menarik tangan Zulaikha masuk ke kamar.
Pria itu naik ke atas tempat tidur lebih dulu dan meregangkan tubuhnya yang begitu lelah setelah satu minggu lamanya ia tidak bisa berisitirahat dengan baik karena memikirkan sang istri. Namun, ia terdiam saat menyadari Zulaikha hanya diam berdiri di samping tempat tidur dan enggan untuk naik.
"Ada apa?" tanyanya heran.
"Maaf, tapi aku belum terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini," jawab Zulaikha lalu mengambil bantalnya dan pergi ke sofa.
Tareeq menatap nanar sang istri, tanpa ia sadari rupanya selama ini ia telah membangun tembok di antara mereka dan tentu membutuhkan waktu untuk menghilangkan tembok itu.
"Maafkan aku," ucap pria itu lagi yang merasa sangat bersalah kali ini. "Tidurlah di sini, biar aku saja yang tidur di sofa, lanjutnya bangkit dan berjalan ke arah Zulaikha.
"Tidak perlu, tidurlah, kamu pasti lelah," tolak gadis itu lalu membuka kerudung lalu berbaring di sofa dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Tareeq tak lagi menjawab, ia diam mematung melihat sang istri yang kini telah mengeluarkan dengkuran halus.
"Maaf, maafkan aku, aku benar-benar suami yang buruk, mulai saat ini, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu Zulaikha."
***
Adzan subuh berkumandang memenuhi penjuru kota Doha. Zulaikha perlahan membuka mata, ia sedikit terkejut saat menyadari bahwa dirinya sedang tidur di kasur, seingatnya, tadi malam ia tidur di sofa.
Mata Zulaikha membola saat menatap ke arah sofa dan mendapati Tareeq tidur di sana dengan sedikit meringkuk karena tubuhnya yang tidak sepanjang ukuran sofa, di tambah suhu yang cukup dingin dan ia hanya menggunakan kain penutup kepalanya sebagai selimut.
"Astaga, lihatlah pria bod0h ini, kenapa dia melakukan ini semua," lirih Zulaikha sembari berjalan mendekati sang suami.
"Tareeq, bangun, sudah adzan," ujar gadis itu membangunkan tanpa menyentuh pria di hadapannya, tapi tak ada respon sama sekali darinya.
Zuaikha kembali mengulangi panggilannya, kali ini dengan sedikit menyentuh tangan Tareeq itu dan ia dibuat terkejut saat menyadari tangannya panas. Gadis itu kini beralih menyentuh dahi sang suami untuk memastikan bahwa pria itu benar-benar demam saat ini atau tidak.
"Dia demam, "lirihnya, lalu segera keluar dari kamar.
Tak lama setelah itu, Zulaikha kembali ke kamar dengan membawa sebuah wadah berisi air dan kain. Ia menekuk kakinya dan bertumpu di atas kedua lututnya di lantai lalu mengompres dahi Tareeq dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.
Sejenak ia memperhatikan tiap lekuk wajah dari pria itu, bagaikan sebuah mahakarya yang indah, sangat tampan. Benar kata orang, pria dari Timur Tengah itu tampan dan rupawan, dan Zulaikha tidak pernah menyangka bahwa ia akan memiliki suami dari kalangan mereka.
"Kamu salah," sela Tareeq dengan suara serak khas bangun tidur, membuat gadis itu terkejut.
Mata Zulaikha membola saat tangan kekar Tareeq langsung memegang pergelangan tangannya yang memegang kain kompresan di dahinya.
Tareeq tersenyum melihat keterkejutan Zulaikha, ia lantas bangkit dari tidurnya dan mengambil kain kompresan dari tangan gadis itu lalu meletakannya ke dalam wadah. Pria itu kemudian menarik sang istri untuk duduk di sampingnya tanpa melepas pergelangan tangan mungil itu.
"Allah menurunkan 100% ketampanan ke dunia ini, 50% untuk Nabi Muhammad, 25% untuk Nabi Yusuf, dan 25% lagi untuk seluruh umat manusia di dunia ini," jelas pria itu, membuat Zulaikha mengerutkan keningnya.
"Pasti kamu ingin menginterupsi, kenapa justru ketampanan Nabi Yusuf yang terkenal dan bisa menghipnotis wanita, iya kan?" Zulaikha menganggukkan kepalanya pelan.
Tareeq kembali tersenyum lalu memposisikan duduknya menghadap ke arah Zulaikha.
"Allah menurunkan masing-masing 10 tirai berupa cahaya kepada Nabi Muhammad dan Nabi Yusuf agar ketampanannya tidak begitu mencolok, hanya saja, untuk Nabi Yusuf, Allah membuka seluruh tirai itu, sedangkan untuk Nabi Muhammad, Allah hanya menarik satu tirainya di dunia, dan sisanya akan di lepas seluruhnya oleh Allah kelak di akhirat." Tareeq menghentikan sejenak perkataannya.
"Itu sebabnya ketampanan Nabi Yusuf lah yang terkenal dan mampu menghipnotis Zulaikha, tapi untuk Zulaikha yang ada di hadapanku ini, aku yang akan berusaha menghipnotisnya dengan caraku sendiri," tukasnya sembari tersenyum dan menggenggam kedua tangan gadis itu.
__ADS_1
Semburat merah merona seketika muncul memenuhi kedua pipi Zulaikha, lalu dengan cepat ia menarik tangannya. "Apaan sih? Aku mau sholat," ucapnya lalu berjalan cepat keluar dari kamar meninggalkan Tareeq yang kini tertawa pelan melihat tingkah sang istri.
Zulaikha berjalan cepat ke dapur sembari memegangi dadanya yang berdebar tidak keruan. Ia mengambil air minum lalu duduk untuk meminumnya perlahan.
"Apa-apaan dia? Apa dia sedang berusaha menggombalku? Tidak-tidak, aku tidak akan terbuai oleh gombalannya itu," gumamnya lalu kembali meminum airnya.
"Tapi kenapa terdengar manis sekali sih? Apa memang semanis itu cara orang Qatar menggombal? Astaga, bisa runtuh pertahananku jika seperti ini terus," pungkasnya kemudian.
Zulaikha kembali ke kamarnya untuk menunaikan sholat subuh, tapi ia sedikit kaget saat melihat dua sajadah telah terhampar di kamarnya, sementara Tareeq sedang merapikan gamis putih yang ia gunakan sejak semalam untuk di pakai sholat.
Mereka pun mulai melakukan sholat berjama'ah untuk pertama kalinya sejak mereka menikah. Usai salam mereka lanjutkan dengan berdzikir sejenak dan berdoa.
Tareeq mengulurkan tangannya kepada Zulaikha, membuat gadis itu menatap bingung tangan Tareeq.
"Ku pikir wanita di Indonesia akan mencium tangan suaminya setiap selesai melakukan sholat, apa aku salah?" tanya Tareeq.
Zulaikha yang mulai memahami maksud sang suami akhirnya langsung menyambut uluran tangan pria itu dan mencium punggung tangannya. Keduanya terdiam sejenak dalam posisi mereka, merasakan hati yang berdesir, dan jantung yang memompa lebih cepat dari biasanya. Ada perasaan indah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan baru pertama kali mereka rasakan.
Zulaikha yang merasakan jantungnya tidak beres akhirnya segera melepaskan tangan Tareeq dan hendak berdiri, tapi tangannya di cekal oleh pria itu.
"Tunggu dulu." Tareeq menarik Zulaikha hingga kembali terduduk di hadapannya, lalu perlahan ia mengecup kening gadis itu.
"Astaga, mampus aku," batin Zulaikha yang merasakan dadanya seolah ingin segera melompat dari tempatnya.
Gadis itu segera melepas kecupan sang suami, dan kini justru tatapan mereka yang saling bertemu. Lagi-lagi semburat merah merona muncul memenuhi pipi putih gadis itu.
"A-aku akan memasak," ucap Zulaikha sedikit terbata lalu segera beranjak dan keluar dari kamar itu.
Tareeq tersenyum melihat sikap Zulaikha yang salah tingkah, tampak begitu menggemaskan di matanya.
***
Pagi hari di rumah sakit, Ibu Ammara yang sedang menyuapi Nameera tiba-tiba di panggil oleh dokter.
"Kami sudah melalukan pemeriksaan mengenai kecocokan Ibu dengan anak Ibu, dari 8 parameter yang kami ujikan, hanya 3 yang cocok, itu artinya kecocokan ibu kurang dari 50%."
"Apa? Jadi saya tidak bisa menjadi pendonor untuk anak saya sendiri?" tanya Ibu Ammara yang begitu terpukul mendengar penjelasan dokter tersebut.
__ADS_1
-Bersambung-