Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Saat Ujian Kembali Menghampiri


__ADS_3

Entah kenapa aku kembali merasa sebatang kara di sini, suami yang perlahan kupercaya akan setia seketika berubah. Aku tahu dia tidak memiliki pilihan lain, tapi tetap saja rasanya sakit.


Di saat aku mulai menyadari cinta, di saat itu pula ujian datang kembali menyapaku. Apa hatiku sekuat itu hingga Allah terus mengujiku? Bukankah Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya? Tapi kenapa hatiku terasa begitu lelah? Bisakah aku istirahat sejenak dari takdir yang menyakitkan ini?


(Zulaikha Azkadina)


***


Bagai di hantam ombak, tubuh Zulaikha seakan terasa begitu lemas saat mendengar jawaban dari sang suami. Setelah berjuang bersama mencari di dua negara sekaligus, pada akhirnya Tareeq tetap tidak memiliki pilihan. Demi kesembuhan sang adik, dia rela menerima permintaan Qifty dan menduakannya.


Sakit, tentu saja ia merasa sakit, tapi ia bisa apa selain berusaha sabar dan menerima kenyataan? Nameera juga membutuhkan pertolongan, dan kali ini dia lah yang harus berkorban.


Dadanya kini terasa semakin sesak saat melihat Tareeq pergi bersama Qifty untuk berbicara empat mata. Air mata yang sejak tadi ia tahan di hadapan Tareeq pada akhirnya tumpah dan membasahi pipinya.


Ibu Ammaraa menatap sendu menantunya, ia jelas tahu bagaimana rasanya harus rela berbagi suami, perlahan ia mendekati gadis itu lalu memeluknya.


"Maafkan kami, Nak. Kami tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Tareeq dengan keputusannya," ucap Ibu Ammara dengan suara yang ikut bergetar.


Begitu pun dengan Kakek Husein, justru di sini ia yang merasa bersalah karena telah menikahkan Zulaikha dengan cucunya yang pada akhirnya gadis itu harus menerima kenyataan pahit atas pernikahannya yang baru seusia jagung.


***


Qifty membawa Tareeq ke sebuah restoran untuk makan malam bersama dan pria itu mengikutunya tanpa mengatakan apa pun. Rasanya ia begitu bahagia karena semua yang telah ia rencanakan dari dulu kini berbuah manis.


"Jadi, apa kamu serius dengan perkataanmu tadi, Tareeq?" tanya Qifty.


"Iya, asal kamu menepati kesepakatanmu" jawab Tareeq.


"Tentu saja, baiklah, mungkin sebaiknya kita langsung saja membicarakan masalah pernikahan kita. Aku ingin pernikahan kita dilaksanakan lebih dulu baru operasi adikmu, aku tidak ingin kamu melakukan kecurangan," ujar Qifty.


"Baik," jawab Tareeq dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Oke, datanglah ke rumahku minggu depan, dan lamar aku secara resmi di hadapan orang tuaku," pinta Qifty.


"Baiklah, tapi sebelum itu, aku ingin melihat darah tali pusat itu, aku juga harus memastikan bahwa kamu tidak curang," ujar Tareeq.


"Tentu saja, aku menyimpannya di rumah sakitku, dan bukan di rumah sakit tempat adikmu di rawat," balas Qifty.


Mereka pun pergi ke rumah sakit milik keluarga Qifty. Selama perjalanan, gadis itu tidak pernah lepas dari menatap pria yang sedang fokus mengemudikan mobil. Pria yang sudah lama ia kagumi sejak dulu, dan akhirnya ia bisa berada dalam satu mobil yang sama seperti saat ini.


Setelah tiba di rumah sakit yang cukup besar itu, Qifty membawa Tareeq menuju tempat penyimpanan darah tali pusat milik Rafif.


"Ini adalah lab, hanya petugas lab saja yang diperkenankan masuk dan harus memakai perlengkapan Lab. Darah tali pusat yang ada di sini sudah dalam bentuk akhirnya yaitu sel punca karena sudah melalui serangkaian proses, ia disimpan dalam alat bernama cryotank yang berisi nitrogen cair dengan suhu -196 derajat celcius agar kondisinya baik dan stabil meski sudah berusia beberapa tahun," jelas Qifty.


"Bagaimana caranya aku bisa mempercayaimu jika barang itu benar-benar ada di dalam?" selidik Tareeq.


Qifty tampak berpikir sejenak. "Baiklah, kalau kamu memaksa, kamu boleh masuk bersamaku, tapi pakai dulu pakaian ini." Qifty memberikan sebuah pakaian lab, lengkap dengan masker, penutup kepala dan handscoon. Setelah semuanya terpakai, baik Tareeq maupun Qifty akhirnya masuk bersama dengan didampingi seorang laboran yang bertugas menjaga sel punca darah tali pusat itu.


"Aku akan mendokumentasikan apa yang aku lihat," ucap Tareeq sembari mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil video untuk setiap detail yang ada di lab itu.


"Dia adalah dokter yang bertanggung jawab di sini sekaligus calon istri," ungkap Tareeq menjelaskan apa yang ada di dalam video itu, membuat kedua pipi Qifty bersemu merah dan pada akhirnya ia membiarkan pria yang akan menjadi suaminya itu untuk mengambil video dari apa yang mereka lihat saat ini.


Usai memperlihatkan semuanya kepada Tareeq, mereka pun keluar dari lab itu.


***


Malam semakin larut, Zulaikha memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Gadis itu memasuki kamar utama yang kini sudah menjadi kamarnya juga sejak Tareeq membawanya kembali dari apartemennya di The Pearl Qatar.


Kamar itu masih kosong, belum ada tanda-tanda kepulangan sang suami sejak ia pergi bersama Qifty. Entah di mana dia sekarang, tak ada sama sekali kabar dari pria itu. Zulaikha yang begitu lelah akhirnya tertidur lebih dulu.


-


Keesokan paginya, Zulaikha terbangun sedikit terlambat dari biasanya. Di lihatnya Tareeq baru saja kembali dari masjid menunaikan sholat subuh dengan pakaian khasnya, itu berarti pria itu pulang saat ia sudah tertidur.

__ADS_1


"Semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Zulaikha.


"Jam setengah satu dini hari," jawab pria itu datar.


Zulaikha menganggukkan kepalanya. "Aku sholat dulu kalau begitu," ujarnya lalu segera ke kamar mandi.


Tanpa ia sadari, Tareeq menatapnya masuk ke dalam kamar mandi dengan tatapan sendu. "Maafkan aku, semoga kamu mau bersabar," batinnya.


Setelah Zulaikha selesai dengan sholatnya, ia mengernyitkan alisnya saat melihat Tareeq sudah bersiap dengan pakaian kantor sebagaimana biasa.


"Kamu sudah mau ke kantor?" tanyanya heran, pasalnya ini masih terlalu pagi dari jadwalnya ke kantor.


"Iya, aku akan sarapan di luar juga," jawab pria itu lalu segera pergi, tanpa pamit atau pun menyalami tangan Zulaikha.


Gadis itu hanya bisa menatap kepergian sang suami dengan tatapan sendu, bahkan air mata lagi-lagi mulai berkumpul di pelupuk matanya tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Kenapa sikapnya kembali seperti dulu? Apa kemarin dia hanya sedang bercanda?" batin Zulaikha dengan dada yang terasa begitu sesak.


***


Beberapa hari telah berlalu, Tareeq, Kakek Husein dan Bibi Afra tengah bersiap untuk lamaran ke rumah Qifty. Ibu Ammara jelas tidak ikut karena hingga saat ini, Tareeq tak pernah ingin berbicara padanya, apalagi Bibi Afra yang sangat jelas memperlihatkan kebencian bahkan menolak kehadirannya.


Zulaikha menatap sendu Tareeq yang hendak pergi dan lagi-lagi tidak mengatakan apa pun padanya. Rasanya begitu menyakitkan melihat perubahan sikap sang suami, ditambah saat ini ia harus melepas kepergian suaminya untuk melamar wanita lain.


Bahkan jika Zulaikha tersenyum saat ini, itu hanyalah caranya untuk menahan gejolak di hati yang seolah ingin membuatnya meluapkan semua perasaan yang membuat dadanya terasa begitu sesak.


Tareeq yang melihat tatapan sendu sang istri, bahkan mata yang kini telah diselimuti air mata akhirnya memutar arah menuju Zulaikha. Tanpa mengatakan apa pun, pria itu langsung memeluk erat Zulaikha.


"Maafkan aku, kuharap kamu bisa bersabar," bisiknya di dekat telinga Zulaikha, lagi-lagi hanya kata itu yang bisa ia ucapkan kepadanya.


Tangis Zulaikha akhirnya pecah setelah sekian lama ia berusaha menahan tangisnya selama ini. Ingin rasanya ia mencegah suaminya untuk pergi melamar Qifty malam ini, tapi ia tak memiliki kuasa apa pun, situasi saat ini benar-benar membuatnya harus mengalah.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2