
Beberapa hari kini telah berlalu, Zulaikha dan Baby Fatih kini telah kembali ke mansion Kakek Husein. Sengaja mereka kembali ke sana dan bukan ke rumah mereka karena Zulaikha ingin menunggu Nameera melahirkan lebih dulu.
Benar saja, baru beberapa jam setelah kepulangan Zulaikha, kini giliran Nameera yang tiba-tiba merasakan sakitnya kontraksi. Ali dengan sigap membawa sang istri ke rumah sakit terdekat. Kakek Husein, Ibu Ammara, dan Bibi Afra pun langsung ikut menyusul mereka.
Sementara Zulaikha yang ingin sekali ikut, terpaksa mengurungkan keinginannya saat Tareeq dengan tegas melarang wanita itu pergi lantaran Baby Fatih yang tidak bisa di bawa ke sana kemari dulu, apalagi ke rumah sakit.
"Kenapa kamu malah tinggal di sini? Pergilah lihat adik kamu, kasihan dia," tanya Zulaikha saat melihat Tareeq justru duduk di sofa kamar seraya membuka laptopnya.
"Tidak perlu, sudah ada pria yang bertanggung jawab untuknya, dan aku pun memiliki tanggung jawab sendiri di sini, menjagamu dan anak kita," jawab Tareeq santai.
"Tapi aku baik-baik saja kok, ada pelayan juga di sini."
Tetap saja, jika kamu butuh bantuan, aku memiliki tanggung jawab lebih besar dari pelayan itu."
Mendengar perkataan Tareeq, Zulaikha menganggukkan kepala pertanda ia paham akan maksud samg suami, lalu kembali menyusui putranya.
***
Beberapa jam kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Kakek Husein yang mendengarnya berkali-kali mengucapkan rasa syukur yang tiada tara pada Sang Khaliq.
"Aku punya dua cicit sekarang, aku punya dua cicit sekarang," ujar Kakek Husein begitu antusias dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Iya Ayah, selamat atas kelahiran cicit kedua Ayah," ucap Ibu Ammara dan Bibi Afra bergantian.
__ADS_1
"Terima kasih, Nak," balas Kakek Husein.
Tak lama setelah itu, mereka semua telah berada di kamar rawat Nameera dengan bayi perempuan yang digendong oleh Bibi Afra. Ali yang memilih duduk menemani istrinya yang kelelahan, dan Kakek Husein yang duduk di sisi kanan Bibi Afra, serta Ibu Ammara yang duduk di sisi kiri Bibi Afra.
"Lihatlah bayi cantik ini, siapa namanya, Ali?" tanya Kakek Husein.
"Namanya Khawlah Mahra, Kakek," jawab Ali.
"Masya Allah, ahlan wa sahlan Khawlah Mahra binti Ali, barakallahu fiik, maafkan nenek yang dulu tidak peduli kepada Ibumu, nenek mengaku salah, mulai saat ini nenek akan menyayangi kalian dengan adil," ucap Bibi Afra penuh haru.
Tampak jelas kebahagian diraut wajah pria usia lanjut beserta dua wanita paruh baya itu. Sementara Nameera dan Ali, tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana bahagianya mereka saat ini, raut wajah mereka telah menjelaskan semuanya.
Kebahagiaan demi kebahagiaan kini terus dirasakan oleh Zulaikha, Tareeq dan mereka semua setelah musibah yang mereka alami sebelumnya. Benar, Allah tidak pernah tidur, kehidupan terus berjalan, jika dulu mereka berada pada titik bawah, melalui kesabaran dan keikhlasan, kini mereka berada di titik atas.
Jika ingin mempertahankan kebahagiaan, maka buat kebahagiaanmu sendiri dengan cara selalu bersyukur atas nikmat Allah, dan bersabar atas ujianNya.
***
Acara aqiqah itu dilakukan bersama di mansion Kakek Husein. Banyak tamu dan kerabat yang datang termasuk Khalid yang datang langsung dari Dukhan. Tak hanya itu, Qifty pun hadir dalam acara itu sebab Zulaikha mengundangnya secara khusus.
"Assalamu 'alaikum Baby yang tampan dan cantik, sehat selalu yah," ucap Qifty saat melihat dua bayi yang sedang tertidur di dalam box bayi yang berbeda.
"Terima kasih yah sudah datang," balas Zulaikha begitu ramah.
__ADS_1
Qifty tersenyum lalu lalu berbalik hendak pergi, tapi tiba-tiba ia kembali berbalik ke arah Zulaikha dengan cepat seraya memegangi dadanya yang berdebar tidak keruan saat ia melihat Khalid sedang menjabat tangan Tareeq dan Ali tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Ada apa, Qifty?" tanya Zulaikha heran.
"Tidak ada apa-apa," bohong wanita itu sambil sesekali menoleh ke arah Khalid.
Zulaikha yang penasaran pun akhirnya mengikuti arah pandang Qifty, dan saat itu ia mulai paham akan kondisi yang terjadi saat ini.
"Assalamu 'alaikum, Baby Boy and Baby Girl," ucap Khalid yang kini sudah berada di dekat Zulaikha. Sementara Qifty yang sejak tadi sudah menutupi setengah wajahnya karena takut dilihat pria itu pun perlahan menjauh dari tempat mereka.
Sayangnya, baru beberapa langkah menjauh, Khalid langsung memanggil namanya, sehingga membuat Qifty seketika menghentikan langkah.
"Kenapa kamu sembunyi-sembunyi begitu? Seperti pencuri saja," canda Khalid menghampiri Qifty tapi tak langsung mendapat respon dari wanita itu.
"Ma-maaf, aku harus pergi sekarang." Qifty kembali hendak melangkahkan kakinya tapi lagi-lagi perkataan Khalid kembali membuatnya berhenti melangkah.
"Kenapa aku merasa kamu sedang menghindariku lagi yah? Bukankah kita sudah damai?"
Tareeq yang tadinya juga heran melihat sikap Qifty pada akhirnya mulai paham setelah Zulaikha membisikkan sesuatu di telinganya.
"Maaf aku harus pergi, pasien sudah menungguku dari tadi." Tanpa berbalik, Qifty langsung pergi meninggalkan acara itu.
Jika di tanya, kenapa Qifty kembali menghindari Khalid, maka jawabannya kini rasa canggungnya berubah dari canggung karena rasa bersalah menjadi canggung karena rasa aneh yang tidak bisa ia definisikan.
__ADS_1
"Hei, Bro. Aku punya saran untukmu," ucap Tareeq menghampiri Khalid lalu membisikkan sesuatu di telinga pria itu.
-Bersambung-