
Siang itu di sebuah restoran, Tareeq telah tiba lebih dulu sebagaimana waktu janji temunya dengan Qifty. Meski masih sedikit demam, tapi ia ingin tahu rencana gadis itu, baik untuk adiknya maupun untuk dirinya sendiri.
"Assalamu 'alaikum, Tareeq, maaf membuatmu lama menunggu," ucap seorang gadis yang datang dari arah belakang pria itu dengan tangan yang singgah mengusap pundak lebarnya, membuat Tareeq menajamkan tatapannya kepada Qifty.
"Wa'alaikum salam, katakan apa yang ingin kamu katakan tadi," seru pria itu tak ingin basa-basi.
"Apa kamu ingin memesan makanan dulu? Tanya Qifty.
"Katakan saja langsung, makan siang bisa menyusul," tolak pria itu begitu dingin.
Sebuah senyuman tipis terbit di wajah cantik gadis itu. "Baiklah, kamu lihat ini? Ini adalah data dari sebuah darah tali pusat yang aku temukan di sebuah bank darah tali pusat di Singapura. Dan ini adalah data medis Nameera. Aku menemukan kecocokan di antara keduanya."
Qifty mengeluarkan beberapa lembar kertas untuk ia jadikan banding kecocokan di hadapan Tareeq, tak lupa ia menjelaskan parameter demi parameter yang ada di kertas itu.
"Jadi itu artinya jika Nameera mendapat transplantasi sel punca dari darah tali pusat ini, ada kemungkinan Nameera akan sembuh?" tanya Tareeq.
"Tentu saja," jawab Qifty dengan senyuman lebarnya.
Tareeq meraup wajahnya dengan kedua tangan sembari mengucapkan rasa syukur. Bahkan senyuman kebahagiaan seketika terbit di wajah tampannya.
"Terima kasih, aku tidak menyangka kamu mau menolongku," ucap pria itu.
"Tentu saja, aku bahkan rela mengurus semuanya asal kamu mau menjadikanku istrimu," ujar Qifty.
Senyuman kebahagiaan di wajah Tareeq seketika hilang tak berbekas.
"Apa maksudmu?" tanya pria itu.
"Maksudnya, jika kamu mau menikahiku, maka aku bisa menjamin adikmu sehat kembali, tapi jika tidak berarti penawaran bantuanku tadi batal."
Tareeq mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat, rahangnya pun ikut mengeras menahan gejolak emosi yang mulai membuncah. Ia tidak menyangka Qifty memanfaatkan situasi sang adik untuk memaksanya menikah.
"Tidak, aku akan mencarinya sendiri kalau begitu," tolak pria itu.
__ADS_1
"Tapi kondisi adikmu makin lama makin down Tareeq, tega sekali kamu ...."
Brakk
"Kamu yang tega ... bisa-bisanya kamu memanfaatkan kondisi adikku untuk meraih obsesimu," gertak Tareeq membuat gadis di hadapannya sedikit terperanjat.
"Jangan harap aku menikahimu, bahkan melihatmu saja aku mulai muak," sungut pria itu lalu pergi meninggalkan Qifty.
Tak lupa ia menarik lembut tangan seorang gadis yang sejak tadi duduk mendengarkan pembicaraan mereka, membuat Qifty semakin membulatkan matanya.
"Si*l, apa tadi Zulaikha pura-pura bersembunyi untuk menguping dan menertawakanku? lirih Qifty sembari meremas abahya hitam yang ia kenakan saat ini.
Tring
Sebuah pesan masuk di ponselnya seketika membuatnya kembali bersemangat dan langsung berlari menyusul Tareeq keluar restoran.
"Tareeq," panggil Qifty, membuat sepasang suami istri itu kompak berbalik ke arahnya.
"Kamu yakin tidak ingin menerima penawaranku?" tanya gadis itu dengan raut wajah yang sulit di artikan, antara senang tapi juga takut.
"Kakek?" gumamnya membaca nama yang tertera di layar ponsel.
"Assalamu 'alaikum, Kakek ...."
"...."
Mata Tareeq membulat dan langsung kembali menatap Qifty yang masih berada tidak jauh di belakangnya dengan raut wajah khawatir dan panik.
"Baik, Kakek, kami akan segera ke rumah sakit," ucapnya lalu segera berlari bersama Zulaikha masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Qifty.
"Ada apa?" tanya Zulaikha saat mobil sudah melaju meninggalkan restoran.
"Nameera, Nameera kritis," jawab Tareeq dengan suara bergetar.
__ADS_1
Zulaikha terdiam sesaat mencerna maksud perkataan Qifty tadi, ia menghubungkan dengan kondisi Nameera saat ini.
"Apa ini maksud Qifty tadi bertanya kembali?" tanyanya menatap sang suami, dan di jawab anggukan oleh pria itu.
Zulaikha tertunduk, jantungnya mulai bertalu-talu entah karena apa, apa takut kehilangan Nameera atau takut kehilangan suami. Sungguh ia benar-benar bimbang saat ini. Padahal baru saja hubungannya dengan Tareeq mulai membaik, tapi justru keadaan mendesaknya berada dalam posisi yang begitu sulit.
"Padahal aku bisa memilih Nameera saja kan? Toh aku belum mencintai Tareeq, tapi kenapa rasanya sakit yah?" batin Zulaikha dengan hati dan pikiran yang bergejolak.
Mobil kini telah sampai di rumah sakit, Tareeq kembali menggenggam tangan Zulaikha dan berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang ICU. Pria itu tidak pernah melepaskan tangan Zulaikha bahkan sedetik pun, membuat Zulaikha semakin bingung dengan hatinya.
Di depan ruang ICU rupanya sudah menunggu Kakek Husein, Ibu Ammara, dan Rafif.
"Kakek, bagaimana keadaan Nameera?" Tareeq langsung menghampiri Kakek Husein tanpa menoleh ke Ibu Ammara. Sementara Zulaikha langsung menghampiri wanita paruh baya itu dan Rafif.
"Dia tiba-tiba mengalami sesak napas, dan mimisan parah," jawab Kakek Husein.
Tareeq meraup wajahnya dengan kasar, tampak jelas kekhawatiran dan ketakutan di wajah pria itu. Hingga seorang dokter keluar dari ruangan ICU tempat Nameera di rawat kemudian langsung menghampiri Kakek Husein dan Tareeq.
"Kami masih berusaha mencari pendonor, tapi jika kalian memiliki keluarga yang pernah mendonorkan darah tali pusatnya, kalian bisa langsung mengabari kami. Kondisi pasien saat ini masih kritis, pasien harus secepatnya melakukan transplantasi di saat kondisinya sudah lebih baik, semoga pendonor yang cocok bisa segera ditemukan," ujar dokter itu.
Zulaikha yang mendengar perkataan dokter, di tambah melihat ketakutan di wajah sang suami, akhirnya meyakinkan diri untuk memutuskan pilihannya.
"Bisa kita bicara?" Pria itu tak menjawab, ia hanya mengikuti kemana Zulaikha membawanya.
"Menikahlah dengan Qifty," lirih Zulaikha yang entah kenapa kini matanya mulai terasa panas.
"Apa? Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan menikahi wanita itu," tolak Tareeq di tengah keputus-asaannya.
"Tapi kurasa itu adalah satu-satunya cara agar Nameera bisa mendapatkan donor yang cocok," ujar Zulaikha.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Tareeq, matanya kini tampak berkaca-kaca menatap Zulaikha.
"Aku ... aku tidak apa-apa," jawabnya sembari tersenyum, tapi ia tidak menyadari sebulir air mata kini telah jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
-Bersambung-