
"By, boleh kita ke Indonesia? Paman Harun sedang dalam masalah," ujar Zulaikha hati-hati.
"Masalah apa? Ya sudah, besok kita ke sana yah."
"Bukan besok, By, tapi sekarang."
"Sekarang? Memangnya ada apa?"
"Kata Bibi Anisa, Paman tidak sengaja menabrak mobil seorang juragan tanah dari desa sebelah, dan sekarang mereka mengancam akan memenjarakan Paman jika Paman tidak ganti rugi dengan tanah."
"Apa? Kenapa bisa seperti itu? Itu tidak adil."
"Makanya, By. Aku harus pergi untuk membantu Paman mencari solusi lain."
Tareeq diam sejenak lalu mendekati Zulaikha. "Kamu yakin ingin pergi malam ini juga?" Zulaikha menganggukkan kepalanya. "Tapi kamu terlihat sangat lelah, besok pagi juga aku ada meeting penting, bagaimana jika setelah meeting saja yah kita perginya?" lanjut Tareeq menawarkan.
"Nggak bisa, By. Begini saja, biar aku yang pergi duluan, dan kamu menyusul aja besok setelah meeting, aku takut juragan itu akan menyakiti Paman dan Bibi, walau bagaimana pun, mereka sudah seperti orang tuaku sendiri."
"Apa kamu tidak apa-apa? Kamu kan lagi hamil." Rasanya pria itu begitu berat untuk membiarkan istrinya pergi sendiri, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan meeting besok pagi.
"Tidak apa-apa, By. Aku bukannya sedang hamil besar, aku masih bisa melakukan sesuatu dengan mudah."
"Tapi, Sayang ...."
"Kumohon , By."
Berbagai pertimbangan pun di pikirkan oleh Tareeq. Tapi sebesar apa pun ia berpikir, rasanya hatinya tetap tidak rela melepaskan sang istri untuk pulang ke Indonesia lebih dulu, dan yang lebih menyiksa karena ia tidak tahu apa penyebabnya.
"Please, By," rengek Zulaikha lagi karena tak kunjung mendapat respon dari sang suami.
Tareeq membuang napas kasar, lalu mengangguk pelan. "Tapi kamu harus pergi bersama pengawal wanita, aku tidak tenang jika kamu pergi sendiri."
Setidaknya dengan adanya pengawal di samping istrinya, ia bisa lebih tenang dan memantau dari jauh, ini adalah bentuk ikhtiarnya menjaga sang istri.
"Ya ampun, kamu berlebihan sekali, tapi baiklah, asal kamu mengizinkan." Zulaikha menyetujui apa yang di tawarkan Tareeq.
Mereka pun pergi ke bandara bersama malam itu juga, hingga akhirnya Tareeq harus rela melepaskan sang istri untuk kembali ke negara asalnya, Indonesia, meski hatinya terasa berat. Begitu pun dengan Zulaikha yang entah kenapa juga merasa berat meninggalkan suaminya, mungkin ia sudah terbiasa selalu bersama pria itu sehingga kini terasa aneh saat pergi sendiri, begitulah pikirnya.
***
__ADS_1
Beberapa jam kini telah berlalu, pesawat yang membawa Zulaikha telah mendarat di bandara Ir. Soekarno-Hatta saat subuh. Sejenak ia beristirahat untuk sholat bersama pengawal wanita yang dmbernama Asiah, tak lupa ia menyiapkan sejumlah uang dalam bentuk rupiah untuk jaga-jaga.
Perjalanan pun kembali ia lanjutkan ke desa di mana Paman dan Bibinya berada. Butuh beberapa jam lagi hingga ia bisa tiba di sana dengan menggunakan bus, sehingga ia baru tiba di desanya pada pukul 9 pagi.
Akan tetapi, bukannya sambutan hangat yang ia terima saat tiba di depan rumah paman dan bibinya, melainkan keributan. Rupanya juragan tanah itu kembali menagih ganti rugi kepada sang paman dengan membawa beberapa bodyguard bertubuh besar.
"Ada apa ini?" Zulaikha menyela keributan dan melewati pria bertubuh besar yang berada di depan rumahnya, lalu menemui Paman Harun dan Bibi Anisa yang sudah ketakutan.
"Zul, kamu datang juga, Nak. Tolong kami, Nak. Mereka memaksa Paman dan Bibi untuk menyerahkan sertifikat tanah rumah ini untuk ganti rugi atas kerusakan mobilnya," ujar Bibi Anisa putus asa.
"Apa? Eh Pak, bagaimana bisa mengganti kerusakan mobil dengan sertifikat tanah? Itu namanya tidak adil, Pak!" protes Zulaikha kesal.
"Masalahnya Nona cantik, mobilku itu sangat mahal, dan biaya perbaikannya juga tentu sangat mahal, bahkan jika tanah ini dijual, belum tentu bisa menutupi biaya perbaikannya," sanggah pria paruh baya yang kepalanya hampir tidak lagi di tumbuhi rambut, tubuh gempal dengan gaya khas 80an dan kacamata yang bertengger di kepalanya.
Pria itu menggunakan celana putih dengan ujung yang lebar, di tambah baju kemeja bermotif bunga yang sengaja di buka beberapa kancing bagian atasnya hingga menampakkan sebagian dadanya, ditambah kalung berukuran besar berwarna emas yang menghiasi leher hingga dada.
"Memangnya seberapa besar kerusakannya, Pak?" tanya Zulaikha.
"Rusak parah pokoknya, semua sisi mobil peyot karena ulah pria tua itu." Pria baruh baya yang disebut juragan itu menunjuk Paman Harun yang berdiri di samping Bibi Anisa.
"Tidak, Nak. Paman hanya tidak sengaja menabraknya dari sisi kiri dengan motor, itu pun tidak membuatnya peyot tapi lecet sedikit karena paman melajukan motor dengan kecepatan rendah, Paman sangat ingat itu," sangkal Paman Harun.
"Kalau begitu, mana buktinya jika mobil Bapak rusak parah?" tanya Zulaikha, membuat pria itu langsung diam sejenak.
"Mobilnya sedang berada di bengkel," jawab juragan itu kemudian.
"Ya sudah tolong berikan alamat bengkelnya, agar saya bisa melihatnya secara langsung," ujar Zulaikha.
"Tidak perlu! Aku akan membawanya ke sini nanti sore agar kamu bisa melihatnya, dan jika kamu sudah melihatnya, maka kamu harus ganti rugi seperti yang aku bilang, jika tidak, Pamanmu akan ku jembloskan ke penjara dan kamu akan ku jadikan istriku, cantik," ancamnya seraya mengerlingkan matanya ke arah Zulaikha, lalu segera pergi.
"Dasar tua bangka tidak tahu diri," umpat Zulaikha sedikit bergidik ngeri. "Asiah, aku ingin meminta bantuanmu," lanjutnya berbicara kepada pengawalnya dengan bahasa Inggris.
***
Siang hari Tareeq baru saja menyelesaikan meetingnya, pria itu langsung memutuskan pergi ke bandara untuk menyusul sang istri ke Indonesia. Perasaannya begitu gelisah sejak tadi hingga membuatnya sulit fokus saat meeting sedang berlangsung.
"Ali, tolong handle perusahaan selama aku pergi," ujar Tareeq kepada Ali yang menemaninya ke bandara.
"Baik, Pak," jawab Ali.
__ADS_1
Tak ingin membuang waktu, Tareeq langsung masuk ke bandara meninggalkan Ali dengan langkah cepat.
***
Sore harinya, juragan beserta para bodyguardnya datang kembali dengan membawa mobil yang sudah ia janjikan pagi tadi. Benar saja, keadaan mobil itu benar-benar hancur di sana-sini.
Paman Harun begitu terkejut melihat kondisi mobil itu, pasalnya seingat pria paruh baya itu, kondisi mobil saat ini sangat jauh berbeda dengan kondisi mobil saat pertama kali ia menabraknya.
Tak hanya Paman Harun yang terkejut, Zulaikha pun merasakan hal yang sama. "Bagaimana bisa mobil itu rusak parah hanya karena ditabrak sepeda motor?"
"Setelah Harun menabrakku, mobilku jadi oleng hingga menabrak pembatas jalan," terang juragan itu, membuat Zulaikha mengerutkan keningnya.
"Pembatas jalan yang mana? Setahu saya sepanjang jalan menuju desa yang tadi saya lalui semua pembatas jalan dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada yang rusak," sanggah Zulaikha.
"Itu memang tidak rusak, tapi mobilku yang rusak," kilah juragan itu, membuat Zulaikha langsung tertawa.
"Kenapa kamu tertawa, hah?"
"Saya merasa lucu dengan usaha anda, Pak. Sebegitu besarnya usaha anda hanya demi mendapatkan tanah Pamanku? Saya jadi ragu jika anda adalah seorang juragan tanah kaya raya," ujar Zulaikha begitu santai.
"Hei, kau meremehkanku?" gertak pria itu.
Tak menjawab, Zulaikha langsung mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video saat juragan itu menyuruh bodyguardnya untuk merusak mobilnya sendiri sesaat setelah kembali dari rumah Paman Harun pagi tadi. Wajah juragan itu seketika berubah pias, lidahnya bahkan kini terasa kelu untuk sekedar mengelak.
"Kenapa diam, Pak? Anda sudah ketahuan curang Pak juragan yang terhormat, saya tidak menyangka orang kaya seperti anda menggunakan cara licik dan curang untuk menambah kekayaan, nggak berkah itu, Pak," ujar Zulaikha.
Suara serine mobil polisi mulai terdengar mendekat, membuat pria itu mulai merasa panik. "Apa kamu yang memanggil polisi ke sini? Hah?" tanya pria itu.
"Iya, Pak," jawab Zulaikha santai.
"Kurang ajar kau!" Juragan itu langsung mendorong tubuh Zulaikha dengan kuat hingga terjatuh dan perutnya membentur meja di teras rumah itu.
"Auw," pekik Zulaikha kesakitan.
"Zulaikha!"
Paman Harun langsung menghampiri Zulaikha yang sudah terkapar di lantai.
"Zulaikha!" Bibi Anisa dan Asiah yang tadi memanggil polisi keluar dari mobil polisi secara bersamaan, sementara polisi yang melihat juragan itu melarikan diri langsung mengejarnya.
__ADS_1
-Bersambung-