Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Permintaan Nameera


__ADS_3

Seorang pria sedang mengendarai mobilnya menuju ke sebuah mansion mewah. Mansion yang menjadi tempat tinggal seseorang yang selama beberapa hari ini telah membuatnya gelisah, hingga tidur pun tidak nyenyak.


Pria itu menatap mansion yang kini telah berada tepat di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang tak seperti biasa. Bahkan jika ia di marahi oleh bos karena kesalahan yang ia buat, dirinya tidak pernah segugup itu.


Beberapa kali ia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan guna menenangkan hatinya, hingga akhirnya ia memantapkan hati untuk memasuki mansion yang pintunya sudah terbuka lebar.


"... saya ingin melamar cucu Kakek."


Pria itu menghentikan langkahnya yang dalam beberapa senti saja ia sudah melewati pintu masuk itu saat mendengar perkataan seorang pria yang rupanya telah lebih dulu tiba. Ia menajamkan pendengarannya, berharap apa yang ia dengar tadi adalah salah.


"Apa maksudmu Nameera, Nak?" tanya pria usia lanjut yang sedang duduk tepat di hadapan pria yang tampak tidak asing di matanya. Ya, pria itu adalah Khalid, pria yang belum lama ini ia kenal melalui bosnya, dan pria yang beberapa kali selangkah di depannya, entah itu dalam hal mengungkapkan keinginannya pada Tareeq waktu itu, begitu pun dalam hal melamar wanita yang ia puja dalam diam seperti saat ini.


"Benar, Kek. Saya ingin melamar Nameera dan menjadikan dia istri saya jika Kakek dan Nameera setuju."


Pria itu hendak beranjak dari tempatnya karena tidak ingin mendengar jawaban dari pria usia lanjut itu atas niat baik Khalid. Hatinya seolah tidak siap menerima kenyataan jika ia harus kalah bahkan sebelum berperang.


"Ali?"


Pria itu menghentikan langkah saat mendengar namanya di panggil. Ia membalikkan tubuh untuk memastikan siapa si pemanggil, meski dari suara ia sudah tahu jika dia adalah Kakek Husein. Rupanya pria usia lanjut itu sempat melihatnya di pintu saat hendak pergi tadi.


"Ada apA? Kenapa tiba-tiba ingin pulang padahal kamu belum masuk?" tanyanya.


"Eh, anu, Kek, saya ...."


"Sudah sudah, masuklah dulu," titahnya, membuat Ali mau tidak mau akhirnya masuk dan duduk di samping Khalid yang sedikit terkejut dengan kedatangannya.


"Apa kau datang bersama Tareeq?" tanya Khalid dan mendapat jawaban gelengan kepala dari Ali. "Lalu apa kau kemari karena mencari Tareeq?" lanjutnya bertanya dan lagi-lagi mendapat jawaban yang sama.


"Baiklah, Ali. Sekarang katakan, apa tujuanmu datang kemari? Melihat pekerjaanmu yang sangat penting di sisi Tareeq, kakek yakin kamu tidak akan ke sini kecuali itu adalah urusan yang sangat penting."


Ali terdiam, ia sejenak menunduk lalu menatap pria usia lanjut di hadapannya. "Saya ... saya juga ingin melamar Nameera, Kek," ucap pria itu akhirnya.


"Apa? Kau ...." Khalid tidak melanjutkan kata-katanya karena begitu terkejut.


Sementara Ali hanya menatap sekilas pria di sampingnya lalu kembali tertunduk.

__ADS_1


Kakek Husein terdiam sejenak menatap dua pria yang ada di hadapannya, ia tidak menyangka di usia sang cucu yang masih 18 tahun, ia akan di lamar oleh dua pria sekaligus.


"Emm, begini, saya akan panggilkan Nameera dulu untuk mengetahui pilihannya," ujar Kakek Husein lalu beranjak dari duduknya dan segera memanggil sang cucu.


Tak lama setelah itu, Kakek Husein datang bersama seorang gadis di belakangnya. Gadis itu bahkan tak ingin menatap dua pria yang hendak melamarnya. Ia lebih memilih menundukkan kepala seraya duduk tepat di samping sang Kakek.


"Nak, ini ada Nak Khalid dan Nak Ali, kedatangan mereka ke sini memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin melamar kamu. Jadi, apa kamu ingin memilih di antara mereka atau kamu sudah memiliki pilihan sendiri? Kakek serahkan semuanya kepadamu, Nak," ujar Kakek Husein.


Nameera menatap sekilas wajah dua pria di hadapannya lalu kembali tertunduk. "Maaf, kalau boleh tahu, apa alasan kalian memilihku?" tanyanya.


Kakek Husein menatap Khalid untuk mempersilahkan pria itu menjawab lebih dulu.


"Awal melihatmu, aku langsung jatuh cinta, kamu sangat cantik dan baik, itu adalah kesan pertama yang membuatku yakin kamu adalah calon istri yang baik," jawab Khalid.


"Aku ... aku tidak tahu alasannya jika ditanya, yang jelas aku mengikuti kata hatiku," jawab Ali singkat.


Nameera mengerutkan keningnya mendengar jawaban dua pria itu yabg sangat kontras. Dua karakter yang berbeda, satu percaya diri dan gamblang dalam mengungkapkan perasaan, sementara satu lagi begitu kaku.


"Bolehkah aku mengajukan sebuah permintaan untuk memantapkan pilihan hatiku?" tanya Nameera kepada Kakek Husein.


"Iya, Kek, kami tidak masalah," jawab Khalid lalu melirik ke arah Ali yang lebih banyak diam.


"Baiklah, begini, karena ini pertama kalinya bagiku, jadi aku sendiri masih bingung tentang membangun hubungan apalagi jika berbicara mengenai cinta, jadi aku ingin kalian menyebutkan ayat Allah yang menunjukkan betapa cinta Allah pada hambaNya dan hadis yang menunjukkan betapa cintanya Nabi pada ummatnya," ucap Nameera.


Kedua pria itu saling memandang bingung.


"Aku tidak akan meminta jawaban kalian sekarang, aku kasi kalian waktu satu minggu, jawaban kalian akan menentukan pilihanku," lanjut Nameera.


***


Zulaikha yang tengah menikmati masa hamil mudanya lebih memanfaatkan waktunya untuk bermanja dengan sang suami. Wanita itu bagaikan perangko yang selalu menempeli Tareeq, tapi hanya saat pria itu baru saja mandi dan tidak memakai parfum.


"Suka banget aroma badan kamu saat selesai mandi," ucap Zulaikha seraya mengeratkan pelukannya dan merapatkan pipinya pada dada bidang Tareeq, membuat pria itu menarik ujung bibirnya merasa senang mendengar perkataa sang istri.


Akan tetapi, rasa senang pria itu tidak berlangsung lama sebab Zulaikha langsung melepas pelukannya.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kamu siap-siap yah, nanti kamu telat lagi," ucap wanita itu lalu segera membantu sang suami memakai pakaiannya.


Jari jemarinya begitu telaten mengancingkan baju Tareeq, membuat pria itu selalu saja terpukau dengan pesona sang istri yang makin lama makin terlihat cantik di hadapannya.


"Kamu cantik," puji Tareeq.


Semburat merah perlahan muncul di kedua pipinya, membuat Tareeq semakin gemas melihatnya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Zulaikha, berharap kali ini sang istri bisa menerimanya.


"Hoek, jangan mendekat." Zulaikha langsung menutupi hidungnya dan melangkah mundur menjauhi Tareeq.


"Kenapa lagi?" tanya pria itu.


"Seperti biasa, aku tidak menyukai aroma kamu jika sudah memakai baju, rasanya perutku seperti dikocok," jawab Zulaikha tanpa melepaskan tangan yang menutupi hidungnya.


Wanita hamil itu akan merasa pusing dan mual saat aroma sabun dari tubuh Tareeq sudah hilang atau saat pria itu sudah memakai pakaian, membuat pria itu sering merasa serba salah, dan tak jarang merasa dongkol dengan sikap istrinya itu.


Bahkan saat hendak pergi bekerja, Zulaikha hanya melambaikan tanganya dari lantai dua, sangat berbeda saat sebelum sang istri hamil, wanita itu akan setia menemani kepergiannya dan mencium punggung tangannya dengan begitu hangat.


Hanya Ibu Ammara yang kini mengantar sang anak untuk pergi bekerja hingga di depan rumah. "Pahami istrimu, Nak. Itu bukan keinginannya, hanya bawaan hamil saja, setelah melewati trimester pertama, ia akan kembali seperti semula," ucapnya yang memahami perasaan putra sulungnya itu.


"Padahalkan aku ingin memeluknya biar semangat bekerja, jika seperti ini terus, bukannya semangat, aku malah jadi malas bekerja," gerutu Tareeq lirih.


Ibu Ammara tersenyum sembari mengusap pundak sang putra. "Bersabarlah, Nak." Hanya itu yang bisa sang ibu katakan pada Tareeq.


-


Tareeq tiba lebih cepat dari biasanya di kantor karena tak ingin tersiksa dengan keadaan sang istri di rumah. Ia memasuki gedung besar saat suasananya masih sepi. Langkah kaki terus membawanya menuju ruang kerja yang berada di lantai lima gedung itu.


Akan tetapi, langkah kakinya terhenti saat menyadari sang asisten telah berada di ruanga kerjanya sembari membuka Al-Qur'an dan beberapa buku. Wajah pria itu tampak begitu serius hingga keberadaan Tareeq di depan pintu tak disadarinya.


Ingatan Tareeq kini kembali pada perkataan sang Kakek jika pria yang bekerja sebagai asistennya itu rupanya telah berani bersaing dengan temannya untuk mendapatkan sang adik.


"Kita lihat saja, seberapa besar usaha kalian dalam membuktikan keseriusan kalian terhadap adikku."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2