
Zulaikha dan yang lainnya telah tiba lebih dulu di rumah sore itu dari para pria, kecuali Paman Harun yang memang telah pulang lebih dulu karena tidak enak badan, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk saling bertukar cerita. Tak ada sama sekali yang menyinggung masalah kecelakaan yang di alami Zulaikha, membuat wanita itu sedikit merasa tenang dan terhibur.
Tak lama setelah itu, terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah, Zulaikha segera beranjak agar bisa segera bertemu dengan sang suami. Namun, yang memasuki rumah rupanya hanya Kakek Husein dan Ali, Tareeq justru tak terlihat.
"Dia masih di luar, Nak," ucap Kakek Husein seolah mengerti isi hati Zulaikha. Wanita itu berjalan perlahan menuju pintu keluar, tapi langkahnya terhenti saat ia tak sengaja mendengar pembicaraan seorang pria dengan Tareeq.
Jantungnya mulai berdegup kencang saat mendengar apa yang dikatakan pria paruh baya itu. Sungguh hari ini jantung dan telinganya benar-benar terasa panas, bagaimana tidak? Sejak di pesta tadi hingga saat ini ia sudah mendengar dua kali perkataan orang yang mengira sang suami masih lajang.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa memenuhi keinginan Bapak Fayyad." Zulaikha mempertajam pendengarannya saat mendengar penolakan dari sang suami.
"Memangnya kenapa Pak Tareeq?"
"Saya adalah pria yang tidak mudah jatuh cinta karena cinta saya hanya sedikit. Saat ini, saya sudah memiliki seseorang yang memiliki cinta itu sehingga saya tidak bisa lagi membaginya." Hati Zulaikha berdesir saat mendengar jawaban sang suami yang begitu manis menurutnya.
"Apa maksud Pak Tareeq ...."
"Benar, Pak. Saya sudah menikah." Zulaikha tersenyum lega mendengar perkataan sang suami, ia benar-benar terharu dengan kesetiaan Tareeq. Pria itu begitu tegas dan tidak plin-plan, bahkan saat ujian kesetiaan berkali-kali menghampirinya, ia tetap bisa bertahan.
Lamunan Zulaikha seketika buyar saat ia mendengar suara langkah kaki semakin mendekati pintu masuk. Wanita itu memperbaiki posisinya yang berada tepat di samping pintu.
Tepat saat Tareeq melewati pintu itu, Zualikha langsung menghambur memeluknya, hingga membuat pria itu sedikit terperanjat karena kaget dan untuk sesaat pria itu diam dalam kebingungannya.
Tangan Tareeq pun sejenak diam tak membalas pelukan itu, jantungnya berdegup kencang karena mengenal tubuh yang kini sedang memeluknya meski ia tak melihat wajah si pemeluk.
"Sayang? Kamu kah ini?" tebak Tareeq dengan suara lirih.
Zulaikha mendongak memperlihatkan wajah tanpa melepas pelukannya sama sekali. Wajah yang kini tampak lebih kurus dari sebelumnya, dan mata indah yang kini tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
Sebuah senyuman seketika terbit di wajah tampan pria itu saat wanita yang sangat ia rindukan selama ini kini berada di hadapannya. Mata Tareeq kini mulai berembun, tangannya perlahan terangkat dan menangkup wajah mungil Zulaikha dan menghujaninya dengan kecupan hangat di seluruh wajah itu.
"Terima kasih kamu sudah datang, Sayang. Sebenarnya sudah lama aku ingin menjemputmu tapi aku takut kamu akan semakin marah padaku," lirih Tareeq setelah merapatkan keningnya dengan kening sang istri.
"Maafkan aku, By. Aku terlalu sibuk dengan keterpurukanku hingga mengabaikanmu, maafkan aku," balas Zulaikha dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
Tareeq menjauhkan wajahnya lalu menghapus lembut air mata Zulaikha di pipinya. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku mengerti keadaan kamu, asal jangan pernah menyendiri lagi, libatkan aku jika kamu terpuruk, aku bisa jadi dinding yang siap mendengar semua keluh kesahmu, aku juga bisa jadi samsak tinju jika kamu ingin melampiaskan kemarahanmu." Zulaikha tersenyum mendengar perkataan sang suami lalu menganggukkan kepala.
"Aku sangat merindukan senyuman ini, terima kasih sudah membaik, Sayang, terima kasih sudah datang, aku sangat mencintaimu," ucap Tareeq lalu memeluk erat sang istri.
Kaduanya sejenak melepas rindu dan melupakan keluarga yang sudah menunggu di ruang keluarga.
"Ekhem, melepas rindunya nanti saja di kamar, sekarang kita makan malam dulu," ucap Ibu Ammara, membuat pasangan itu langsung melepaskan pelukan dan salah tingkah, detik berikutnya keduanya saling tersenyum malu.
Kini semua keluarga telah berkumpul di hadapan meja makan, tak terkecuali Bibi Afra. Aneka makanan khas Qatar telah tersaji di atas meja, salah satunya machboos dan beberapa jenis olahan daging-dagingan dari kambing dan sapi sebagai teman makannya.
Setelah menyajikan makanan untuk sang suami, Zulaikha membantu wanita paruh baya di sampingnya untuk mengambil makanan. "Selamat makan, Bi," ucapnya diringi senyuman manis.
Bibi Afra mengerutkan keningnya saat mendapat perlakuan dari Zulaikha yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun, termasuk Qifty, wanita yang dulu dekat dengannya tapi tidak lagi sekarang.
Sementara Nameera yang duduk tepat disamping Ali untuk pertama kalinya kini merasa sangat gugup. Ia berusaha melayani pria yang kini berstatus sebagai suaminya sebagaimana Zulaikha melayani kakaknya, tapi rasa gugup membuat tangannya bergetar saat hendak menyendokkan nasi ke dalam piring pria itu.
"Biar aku bantu." Ali memegang tangan Nameera yang masih memegang sendok berisi nasi dan membantunya mengarahkan makanan itu ke piring miliknya.
Untuk sesaat jantung Nameera terasa seperti berhenti, bahkan napasnya tertahan kala tangan yang selama ini ia jaga kini tersentuh oleh suaminya.
Usai mengisi piringnya, Ali juga membantu mengisi piring Nameera tanpa melepas tangan sang istri, membuat tangan gadis itu seolah kehilangan gaya gravitasi, bergerak mengambil nasi pun kini diluar kendalinya.
__ADS_1
"Makanlah," lirih Ali setelah melepas tangan Nameera. Terdengar embusan napas dari gadis itu setelah tertahan beberapa detik, pandangannya masih saja tertuju pada tangannya yang baru saja disentuh oleh Ali, jantung yang tadinya seolah berhenti kini memompa dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Astaghfirullah, ada apa denganku? Apa aku sakit?" batin Nameera merasa heran sendiri.
Sementara Ali hanya berusaha menahan senyumannya saat melihat tingkah Nameera. Sebagaimana sang istri, pria itu juga merasakan hal yang sama, hanya saja ia mampu menyembunyikan semua yang ia rasakan agar tak terlihat oleh orang lain.
"Ya ampun, Dik. Segugup itu kah dirimu?" goda Tareeq, membuat wajah Nameera kini merona merah. "Kamu juga Ali, harusnya jangan bikin dia gugup dulu, lihat? Sekarang adikku malah kesulitan makan karena ulahmu," lanjut pria itu berusaha menggoda pasangan yang baru saja halal hari ini, hingga membuat keduanya salah tingkah.
"Tareeq, berhenti menggoda adikmu dan makan makananmu." Sebuah ultimatum keluar dari Kakek Husein, membuat pria itu langsung diam.
Makan malam bersama keluarga besar itu berlangsung sangat hikmat. Tak ada lagi yang bersuara, semuanya kini fokus dengan makanan mereka masing-masing.
Usai makan malam dan melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim, para pria sejenak berkumpul bersama untuk saling bercerita, sementara wanita memilih beristirahat lebih dulu, termasuk Zulaikha yang sangat lelah karena perjalanan dari Indonesia ke Qatar lalu disambut dengan pesta yang berlangsung berjam-jam.
Begitu pun dengan Nameera, gadis itu merasa sedikit lelah setelah menjadi ratu sehari, tapi di sisi lain ia juga merasa sangat gugup. Di usianya yang masih terbilang muda untuk menikah, membuatnya begitu overthinking mengenai kegidupan setelah ijab qabul yang baru saja ia lalui. Padahal sejak awal ia telah memantapkan mentalnya untuk menjalankan ibadah terpanjang itu.
Gadis itu duduk di depan meja riasnya dengan rambut panjang yang digerai indah, baju piyama lengan pendek yang ia gunakan saat ini membuatnya begitu takut jika Ali melihatnya. Padahal Zulaikha baru saja memberikan sebuah baju dinas, tapi Nameera begitu risih melihat modelnya.
"Baju lengan pendek seperti ini saja sudah membuatku takut, bagaimana bisa Kak Zul memberiku baju yang belum jadi untuk kupakai? Ada-ada saja Kakak Iparku itu, untung Kak Ali masih asik cerita di sana, jadi aku masih memiliki kesempatan untuk mantapkan mentalku terlebih dahulu."
Ceklek
Usai mengatakan itu, suara pintu yang dibuka cukup membuat Nameera terkejut, refleks ia berdiri lalu hendak masuk ke dalam selimut dan berpura-puta tidur. Namun sayang, entah kenapa selimut itu kini terasa begitu berat untuk ia angkat sehingga belum juga tubuhnya masuk sempurna ke dalamnya, Ali sudah berdiri di ambang pintu.
Ali menarik ujung bibirnya saat melihat posisi Nameera. Pasalnya, setengah tubuh gadis itu sudah masuk dalam selimut, tapi setengahnya lagi masih berada di luar bahkan satu kakinya menggantung. Meski kedua mata gadis itu sudah terpejam, tapi Ali dapat melihat dengan jelas ada unsur kepura-puraan dari tidur sang istri.
-Bersambung-
__ADS_1