
Kakek pernah berkata, jika ingin melahirkan anak-anak yang baik, maka mulailah dengan memilih calon ibunya, sebab anak-anak baik dan hebat akan lahir dari rahim wanita yang baik dan hebat pula.
Sebagai laki-laki, aku sendiri telah membuktikannya. Meski pertemuanku dengannya bukan dengan hati yang ikhlas pada awalnya, tapi pada akhirnya aku menyadari bahwa wanita yang menjadi istriku itu adalah wanita yang hebat dan begitu baik, dan itu adalah kamu.
(Mohamed Tareeq bin Ahmad)
_________________________________________
Waktu terus berjalan, hingga tidak terasa Zulaikha telah dibolehkan untuk pulang ke rumah. Wanita itu pulang dengan didampingi oleh sang suami yang begitu setia menemaninya, sementara keluarga yang lain telah menunggu di rumah mereka.
Saat ini semua keluarga sedang berkumpul untuk mengadakan acara makan-makan bersama di rumah Tareeq sebagai bentuk rasa syukur atas kesembuhan Zulaikha sekaligus selamat dari marabahaya yang sempat menimpanya dan Nameera beberapa hari yang lalu.
Bahkan Ali dan Khalid juga turut di undang dalam acara makan bersama itu, mengingat kedua pria itu sangat berperan dalam penyelamatan Zulaikha dan Nameera.
"Terima kasih banyak, Nak karena sudah membantu menyelamatkan cucu-cucu kakek, semoga Allah membalas kebaikan kalian," ucap Kakek Husein kepada kedua pria itu saat sedang berkumpul bersama di depan meja makan.
"Iya, Kek, sesama manusia memang harus saling membantu," jawab Khalid dan Ali dengan begitu kompak.
Tak hanya Kakek Husein, Ibu Ammara, Zulaikha, Nameera dan Tareeq turut mengucapkan terima kasih, hanya Bibi Afra yang masih saja diam dan menatap ketus semua orang. Kehadirannya di rumah itu pun hanya karena paksaan sang ayah.
"Afra, apa kamu masih akan tetap keras kepala seperti itu? Kamu lihat sendiri bagaimana Qifty dan keluarganya 'kan?Mereka itulah orang-orang berbahaya karena rela melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya," bisik Kakek Husein pada Bibi Afra yang duduk tepat di sampingnya. Namun, tak ada sama sekali jawaban dari wanita paruh baya itu.
"Coba lapangkan dadamu untuk memaafkan Ammara, dan menerima Zulaikha. Mereka semua adalah orang yang sangat berarti bagi Tareeq saat ini," lanjut Kakek Husein dan lagi-lagi tidak mendapat respon dari Bibi Afra. Wanita paruh baya itu lebih memilih diam seraya tertunduk, entah apa yang kini sedang ia pikirkan.
__ADS_1
Hingga acara makan bersama malam itu berakhir, semua orang memutuskan untuk istirahat di rumah itu, kecuali Tareeq, Khalid dan Ali. Ketiga pria itu memutuskan untuk berkumpul di belakang rumah sembari menikmati teh karak panas, yang merupakan salah satu minuman tradisional Qatar.
Cita rasanya yang begitu nikmat, membuat warga Qatar ketagihan, bagaimana tidak? Teh ini di buat dari campuran teh, susu, gula, kapulaga, dan air yang direbus bersama dengan api kecil, kadang juga ada yang menambahkannya dengan kayu manis atau rempah lainnya untuk menambah cita rasa dan aromanya. Selain nikmat, teh ini juga memiliki khasiat yang sangat baik dalam menjaga kesehatan tubuh.
"Cita rasa minuman ini tidak pernah gagal di lidahku, sepertinya aku akan mencari wanita Qatar saja agar bisa membuatkanku minuman ini," ujar Khalid setelah menyeruput teh yang masih mengepulkan sedikit asap itu.
"Hey, wanita Indonesia pun bisa membuatnya jika ia mempelajari resepnya," sela Tareeq tak ingin kalah.
"Hahaha, iya terserah kamu sajalah, selera kita beda, aku lebih menyukai Qatari's girl," ucap Khalid begitu yakin.
"Bagaimana denganmu, Ali? Usiamu masih muda, tapi setidaknya kamu sudah memiliki kriteria wanita yang akan menjadi calon istrimu." Kali ini Tareeq menatap sang asisten yang sejak tadi hanya diam sambil menikmati teh karaknya.
"Usiamu berapa Ali?" tanya Khalid ikut penasaran.
"Usiaku 25 tahun, jika berbicara kriteria, aku tidak ingin memasang kriteria apa pun, terserah hatiku saja kepada siapa kelak dia akan berlabuh," jawab Ali.
"Wah, aku kapan nikah yah?" tanya Khalid seraya menatap langit yang kini dipenuhi bintang.
"Temukan dulu calonmu." Tareeq menepuk pundak Khalid seraya tertawa pelan.
"Aku sedang mencarinya. Ngomong-ngomong berapa usia adikmu? Apa dia sudah dibolehkan nikah?" tanya Khalid secara gamblang, membuat Tareeq dan Ali menatap pria itu dengan raut wajah terkejut.
"Apa maksudmu? Jangan bilang kamu ingin menjadikan adikku sebagai salah satu nominasi calonmu," selidik Tareeq seraya menatap tajam temannya itu.
__ADS_1
"Apa aku salah? Boleh 'kan?" Khalid menaik-turunkan alisnya menatap Tareeq yang kini membuang muka kesal.
"Jika serius, ambil hatiku dan Kakekku dulu, sebagaimana istriku yang mengambil hati Kakekku dan Adikku lebih dulu sebelum mengambil hatiku."
Mendengar perkataan Tareeq, Khalid dan Ali terdiam, mereka membenarkan apa yang dikatakan pria itu.
***
Tareeq memasuki kamar saat kedua temannya itu sudah pulang. Pria itu melihat Zulaikha yang kini sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya, kakinya kini melangkah ke arah tempat tidur dan ikut berbaring di sisi sang istri.
Tangan kekarnya membawa Zulaikha masuk ke dalam pelukan pria itu. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening wanita itu yang sama sekali tidak terganggu oleh perlakuan sang suami.
"Terima kasih sudah menjadi wanita yang sabar mengahadapiku dan deretan masalah yang muncul karenaku, Sayang. Semoga ke depannya tak ada lagi masalah berat yang mengganggu rumah tangga kita," bisik Tareeq lalu kembali mengecup kening Zulaikha.
***
Satu bulan kemudian, seorang pria tengah duduk dengan begitu gugup di ruang tamu yang begitu mewah. Beberapa kali ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan untuk menenangkan diri.
Sementara di depannya, telah duduk seorang pria berusia lanjut yang tampak begitu bijaksana dan ramah.
"Maafkan kelancangan saya, Kek. Begini, kedatangan saya ke sini ingin mengutarakan niat baik saya," ucap pria itu.
"Niat baik? Niat baik seperti apa yang kamu maksud, Nak?" tanya pria usia lanjut itu.
__ADS_1
"Saya ... saya ingin melamar cucu bungsu Kakek."
-Bersambung-