Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Liciknya Qifty


__ADS_3

Sebagaimana arahan Billy, Tareeq dan Zulaikha langsung terbang ke Singapura, mereka benar-benar tak ingin mengulur waktu karena setiap detik sangat berharga bagi mereka.


"Maaf, kami tidak memiliki pendonor atas nama Rafif atau pun bayi Ammara," ucap petugas itu.


"Apa, bagaimana bisa itu tidak ada? Sebelum kami kesini kamu sudah memeriksanya," ujar Tareeq dengan bahasa Inggris. Pria itu sedikit kecewa dengan apa yang dikatakan oleh petugas itu.


"Di sini memang tidak ada, jika ada untuk apa kami merahasiakannya dari Bapak," balas petugas itu tidak ingin kalah.


"Kalau memang tidak ada, apakah ada darah tali pusat lain yang sesuai dengan ini?" Zulaikha mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi data Nameera di hadapan petugas itu.


Petugas pria itu hanya melihatnya sejenak lalu menggelengkan kepalanya. "Maaf, tidak ada yang sesuai dengan data ini," ujar petugas itu.


"Hey, Pak. Anda baru beberapa detik melihatnya, bagaimana bisa anda langsung menyimpulkan tidak ada yang cocok?" Protes Tareeq yang mulai emosi.


"Kami sudah mengatakan tidak ada, jika tidak mempercayai kami, lebih baik kalian pergi dan jangan buat keributan di sini," tegas petugas itu, membuat Tareeq semakin kebakaran jenggot.


Sementara Zualikha yang merasakan adanya kejanggalan dari mimik wajah dan cara bicara petugas itu akhirnya memutuskan untuk mengajak Tareeq pergi.


"Sudah, sebaiknya kita pergi saja dari sini, percuma kita marah-marah," ujar gadis itu sembari menarik tangan Tareeq yang terlihat begitu kesal.


-


"Halo, mereka tadi sudah datang, Nona, dan saya sudah mengatakan jika itu tidak ada di sini sesuai perintah Nona."


"...."


"Kami tidak membocorkan apa pun mengenai apa yang Nona rencanakan."


"...."


"Baik, Nona.


Petugas itu akhirnya memutuskan panggilannya, lalu kembali bekerja seperti biasa.


"Berapa banyak kamu di bayar untuk menipu kami?" tanya Zulaikha yang tiba-tiba sudah berada di hadapan petugas itu, hingga membuatnya terperanjat.

__ADS_1


"Me-menipu apa? Saya tidak mengerti maksud anda," elaknya tak ingin menatap Zulaikha.


Halo, mereka tadi sudah datang, Nona, dan saya sudah mengatakan jika itu tidak ada di sini sesuai perintah, Nona.


Zulaikha memperdengarkan rekaman suara di ponselnya, membuat wajah petugas itu seketika pucat pasi.


"Katakan padaku yang sejujurnya, jika kamu tidak ingin rekaman ini sampai di tangan polisi," ancam Zulaikha.


Petugas itu panik dan diam, tapi tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Tak lama setelah itu, muncul pria botak bertubuh besar yang datang dari luar. Kondisi tempat itu yang cukup sepi membuat petugas itu leluasa melancarkan aksinya.


"Ambil ponselnya," titah petugas itu.


Pria botak itu langsung berjalan mendekati Zulaikha hendak mengambil ponsel miliknya, tapi tangan pria itu langsung di tahan oleh Tareeq yang baru saja datang dari belakang.


"Jangan mendekati istriku jika kau tidak ingin tanganmu patah," ancam Tareeq dengan tatapan tajam.


Pria botak itu hendak menyerang, tapi gerakannya kalah cepat dengan Tareeq yang langsung mengunci pergerakannya.


"Jadi begini cara kerja kalian? Akan kupastikan hari ini juga kalian akan berhenti bekerja di sini," ujar Tareeq.


"Oke, katakan yang sebenarnya kalau begitu." Kali ini Zulaikha yang angkat bicara


"Da-darah tali pusat atas nama Rafif memang ada sebelumnya di sini, tapi semuanya sudah di beli oleh wanita bernama Qifty, ia membeli semua persediaannya dan membawanya ke rumah sakit miliknya." Zulaikha begitu terkejut mendengarnya, ia lantas berbalik menatap Tareeq yang sudah mengepalkan tangan.


"Kalau begitu, carikan kami darah yang cocok dengan ini," ulang Zulaikha kembali mengeluarkan kertasnya.


Petugas itu mengangguk lalu segera mencarinya di komputer beberapa saat.


"Maaf, Bu, kami sudah memeriksanya dan memang tidak ada yang cocok, data yang ada di kertas ini sepertinya cukup langka untuk di temukan yang mirip dengannya. Hanya darah atas nama Rafif itu yang hampir memiliki kesamaan," jelas petugas itu.


-


Zulaikha dan Tareeq kini hanya bisa membuang napas lesu saat berada di mobil. Seolah kalah dalam berperang, keduanya kini kehilangan semangat.


"Kita harus bagaimana sekarang?" Tareeq menjambak rambutnya sendiri karena mulai frutrasi.

__ADS_1


Zulaikha hanya diam, ia tak mampu berkata apa-apa lagi saat ini. Yang ia pikirkan saat ini hanya satu, apakah membiarkan Tareeq menikah dengan Qifty adalah jalan satu-satunya? Jalan yang sangat sulit baginya, tapi ia harus mulai mempersiapkan hatinya mulai dari sekarang.


"Ayo kita kembali ke Qatar, mungkin saja di sana kita bisa menemukan jalan keluar," ujar Zulaikha sembari tersenyum tipis ke arahnya.


Pria itu hanya mengangguk lesu, lalu mulai menjalankan mobilnya langsung ke bandara. Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah berada di pesawat. Kali ini Tareeq yang memilih tidur, tubuhnya sangat lelah saat ini, ditambah ia harus kembali dengan tangan kosong membuat pikirannya semakin merasa lelah dan putus asa.


Zukaikha yang melihat sikap sang suami hanya bisa membuang napas lesu. "Ya Allah semoga ada jalan keluar atas semua masalah ini tanpa membuat Tareeq harus menikah lagi," batinnya pasrah.


Beberapa jam berlalu, Tareeq dan Zulaikha kini telah tiba di Qatar, di mana sudah ada supir pribadi yang menunggu kedatangan mereka di sana. Tak ada sama sekali pembicaraan di antara keduanya, pria itu lebih banyak diam dan melamun. Begitu pun Zulaikha yang merasa takut untuk memulai pembicaraan apa pun di antara mereka.


Mobil yang membawa mereka akhirnya sampai di rumah sakit di mana Nameera berada, gadis itu hingga saat ini belum keluar dari ruang ICU sehingga membuat Tareeq maupun Zulaikha ingin langsung melihat keadaannya.


"Tareeq, Zulaikha, apa kalian sudah berhasil mendapatkan donor sarah tali pusatnya?" tanya Kakek Husein yang diikuti Ibu Ammara saat melihat kedatangan mereka.


"Tidak, maafkan kami, kami gagal menemukannya." Kali ini Zulaikha yang menjawab karena Tareeq hanya diam tertunduk.


"Apa darah tali pusat milik Rafif sudah tidak ada?" tanya Ibu Ammara.


Zulaikha menggelengkan kepalanya pelan. "Sebenarnya ...." Gadis itu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat di sana tanpa ada yang ditutupi.


"Kakek benar-benar tidak menyangka betapa liciknya wanita itu." Kakek Husein mulai mengepalkan tangannya dengan begitu kuat.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Ibu Ammara kepada Zulaikha. Sungguh pertanyaan yang tak sanggup ia jawab, ia bahkan takut mendengar keputusan yang akan keluar dari salah satu mulut mereka nantinya.


Bagaimana tidak, Nameera adalah gadis yang sangat baik, sehingga ia sangat di sayangi oleh ketiga orang di hadapannya ini. Bukan hal yang tidak mungkin jika salah satu di antara mereka akhirnya menyetujui syarat yang diajukan oleh Qifty.


"Apa kalian sudah tiba dari misi pencarian kalian?" Suara seorang wanita muda seketika membuyarkan lamunan keempat orang itu dan langsung menoleh ke sumber suara tanpa berbicara apa pun.


"Kenapa diam? Apa kalian sudah putus asa sekarang?" tanya wanita itu dan lagi-lagi tak ada yang meresponnya.


"Tenang saja, penawaranku masih tetap berlaku kok, bagaimana?" tanya wanita itu dengan senyuman lebarnya.


Kakek Husein, Ibu Ammara, dan Zulaikha saling bertatapan seolah menunggu siapa yang lebih dulu akan buka suara.


"Baik, aku akan menerima tawaranmu," jawab Tareeq, membuat semua yang ada di sana menatap ke arahnya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2